Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Aceh sejak tahun 2001 telah melakukan serangkaian penelitian untuk komoditas lada seperti pengujian beberapa jenis mulsa terhadap pertumbuhan lada perdu, jenis tiang panjat dan pengendalian hama penyakit. Pasca tsunami tahun 2004, praktis pengkajian tentang lada mulai berkurang karena termasuk tanaman perkebunan yang memerlukan waktu lebih dari setahun (multi year).
Lada (Piper nigrum L.) bagi masyarakat Aceh merupakan salah satu komoditas ekspor unggulan sejak 400 tahun lalu bahkan terkenal sampai ke Eropa (Lihat Box). Daerah penyebarannya terutama di daerah pesisir utara - timur Aceh meliputi Aceh Besar, Pidie, Aceh Utara dan Aceh Timur, sedangkan pesisir barat Aceh, lada banyak ditanam di Aceh Barat dan Aceh Selatan.
Luas areal lada di Aceh turun drastis sejak lima puluh tahun terakhir akibat serangan hama dan penyakit terutama penyakit layu dan penyakit keriting daun. Pada tahun 1997 luas areal lada hanya tinggal 2.130 ha, sedangkan sebelum terjadi serangan hama penyakit, luas areal tanaman lada mencapai 19.932 ha. Dengan harga jual yang relatif lumayan, membuat animo masyarakat untuk menanam lada tumbuh kembali. Kini diperkirakan luas tanaman lada di Aceh sekitar 1.500 ha. Petani lada mengaku mudah sekali menjual hasil olahan lada putih dengan harga Rp 160.000 – 180.000/ kg, sedangkan lada hitam dilepas dengan harga Rp 120.000/ kg.
Kepala BPTP Aceh, Ir Basri A. Bakar, MSi melihat tanaman lada sangat prospektif dikembangkan karena tidak menghendaki lingkungan tumbuh yang khusus dan perawatan yang rumit. Menurut Basri, lada Aceh perlu dijaga kelestariannya dari kepunahan karena memiliki cita rasa dan aroma yang khas. "Untuk itu perlu dilakukan kajian lebih lanjut agar petani lada di Aceh dapat meningkatkan produksi yang lebih baik, sehingga dapat menambah pendapatan dan kesejahteraan mereka sekaligus mengangkat kembali kejayaan Aceh dalam budidaya lada", pintanya.
Untuk itu BPTP Aceh akan memperkenalkan kembali lada sebagai salah satu komoditi strategis dan bernilai ekonomis dalam even pameran terutama acara Pekan Daerah dan Pekan Nasional Kontaktani Nelayan Andalan (KTNA) dalam waktu dekat di Aceh Besar. Ia menghimbau agar lada Aceh perlu mendapat dukungan dari semua pihak terkait. “Jangan sampai lada Aceh hilang dari Aceh sendiri. Di Aceh ada nama Kampung Lada, tapi justru tanaman ladanya tidak lagi ditemukan,” ujarnya prihatin.
Disebutkan saat ini BPTP Aceh mulai melakukan pembinaan terhadap penangkar lada, salah satunya M. Yusuf ketua kelompok tani di Desa Blang Manyang Kota Lhokseumawe yang saat ini melakukan pembibitan sekitar 70.000 bibit lada siap tanam. Guna memasyarakatkan kembali lada, pihaknya memboyong sebanyak 50 batang lada untuk ditanam di lahan visitor plot BPTP termasuk lokasi Taman Teknologi Pertanian (TTP) Kota Jantho Aceh Besar.
Basri menambahkan, produktivitas lada yang saat ini relatif masih rendah dapat ditingkatkan melalui sentuhan teknologi seperti pemupukan berimbang, pemangkasan, pengendalian hama penyakit dan prosesing hasil yang lebih baik. Saat ini rata-rata perolehan hasil lada putih sekitar 1 kg per batang per tahun. “Tahun 2017, kita akan usulkan dana pengkajian lada baik APBN maupun APBA,” ujar Basri. Untuk tahun ini, BPTP Aceh mengkaji prospek penanaman lada di lahan bekas tambang. Selain itu, salah satu kerjasama yang telah dirintis BPTP adalah dengan Politeknik Lhokseumawe terutama kajian tanaman lada Aceh. Lis
Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066
Editor : Julianto