Sunday, 01 November 2026


Belajar Kedelai Hingga ke Bumi Singosari

27 Jan 2014, 12:15 WIBEditor : Kontributor

Selamat berjumpa lagi rekan-rekan jelajah inovasi. Musim hujan yang berat di Januari tahun 2014 ini, mengawali langkah-langkah ‘Sinta’ menyeruak rimba inovasi teknologi yang tersebar di seluruh Indonesia. Alhamdulillah, kendati cuaca buruk menerpa tidak sampai memupuskan semangat untuk menyambangi Bumi Singosari, Malang, Jawa Timur, sekaligus belajar kedelai di sana.

Jam di bandara Soekarno-Hatta menunjukkan pukul 06.40 WIB, perasaan senang muncul ketika seorang informan di Gate B7 berdiri. Bayangannya petugas ini pasti mengumumkan “Para penumpang tujuan Malang dipersilahkan memasuki pesawat melalui pintu…..! tapi sayang, pengumumannya sangat kontradiktif, “Para penumpang tujuan Malang kami mohon ma’af penerbangannya ditunda 30 menit menunggu cuaca di Malang membaik,” ujar petugas tersebut. Perasaan kecut kembali menyelimuti ‘Sinta’ yang memang sejak Rabu 15 Januari dini hari hujan terus mengguyur Jabodetabek.

Nah, akhirnya datang juga! Setalah kurang lebih 40 menit menunggu, kembali petugas tadi mengumumkan, “Para penumpang tujuan Malang dipersilahkan memasuki pesawat melalui pintu sebelah kiri”. Bergegas seluruh penumpang memasuki pesawat. Setelah menempuh penerbangan satu jam 20 menit, terasa kondisi pesawat mulai menukik ke bawah. Berselang beberapa menit, gerakan pesawat terasa aneh, ‘kok’ pesawat naik dan berputar-putar di atas Bandara Abdurahman Saleh. Kecurigaan pun datang, jangan-jangan pesawat gagal mendarat, ternyata betul adanya! Pilot pesawatpun mengumumkan bahwa akibat cuaca buruk pesawat tidak dapat mendarat di Malang dan akan mendarat di Bandara Surabaya. Tidak kurang dari 30 menit setelah mendarat di Surabaya penumpang menunggu untuk terbang kembali ke Malang.

Alhamdulillah, setelah penerbangan dilanjutkan, tiba di Malang sekitar jam 11.00 WIB. Untuk rekan jelajah, secuil kisah ini bisa dijadikan acuan untuk mempersiapkan diri ketika terjadi gangguan cuaca buruk ini. Maklum cuaca belakangan ini susah diprediksi, barangkali ini akibat perubahan iklim yang ekstrim, sebagai dampak perubahan lingkungan bumi akibat ulah kita juga sebagai manusia.

Setelah sampai di Malang, rekan jelajah bisa menentukan sikap rute jelajah. Bisa jadi rekan-rekan jalan-jalan dulu ke situs peninggalan Kerajaan Singosari baru kemudian belajar kedelai ke Kendalpayak atau sebaliknya belajar dulu baru jalan-jalan. Untuk yang ingin jalan-jalan dulu, rekan jelajah bisa memulai rutenya ke situs Singosari yang berada di Kecamatan Singosari kurang dari satu jam dari Bandara Abdurrahman Saleh. Dikutif dari berbagai informasi, candi ini merupakan tempat persembahyangan raja Singasari. Setelah selesai di Candi Singosari, jelajah bisa melanjutkan perjalanan ke Candi Sumberawan yang berjarak sekitar 6 km dari Candi Singosari. Suasana sejuk dengan berlatar belakang Gunung Arjuna, membuat warna jelajah inovasi ini semakin indah.

 

Kendalpayak

Mengapa kita harus belajar kedelai di Kendalpayak, pasalnya di daerah ini ada sebuah balai yang cukup legendaris dan sangat berkontribusi dalam pengembangan kedelai nasional. Nama balai ini adalah Balai Penelitian Aneka Kacang dan Umbi (Balitkabi).

Tahun 1968 adalah tonggak sejarah berdirinya balai tersebut, awalnya bernama Kantor LP3 Perwakilan Jawa Timur, kemudian tahun 1981 berubah jadi Balittan Malang, tahun 1996 berubah lagi menjadi Balai Penelitian Kacang-kacangan dan Umbi-umbian dan sekarang menjadi Balai Penelitian Aneka Kacang dan Umbi.

Jika rekan jelajah ingin berkunjung ke balai itu, dari Bandara Abdurahman Saleh hanya bisa menggunakan kendaraan taxi atau sewa mobil (rental) yang tersedia di pelataran parkirnya, maklum belum ada kendaraan umum yang membuka rute dari bandara ke Kota Malang. Soal tarifnya bervariasi antara Rp. 100-125 ribu sampai ke lokasi.

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

Editor : Julianto

BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018