Tradisi penanganan pasca panen dengan cara penjemuran memang sudah ada sejak dulu. Namun cara ini ternyata memiliki banyak kekurangan. Jika cuaca bagus, paling tidak perlu waktu selama 10 hari pengeringan. Tapi, celakanya lagi kalau hujan terus mengguyur, dipastikan proses pengeringan bawang semakin lama atau bahkan mengalami kebusukan.
Hasil observasi lapang pada tahun 2016 diketahui bahwa kehilangan tertinggi terjadi pada proses pengeringan dan penyimpanan. Pada saat panen-pengeringan (2-3 hari) kehilangan hasil berkisar 25-30% dan setelah pengeringan 10 hari (untuk bibit) berkisar kehilangan mencapai 45-55%.
Teknologi terkini yang sedang dikembangkan oleh BB Pascapanen adalah Instore Dryer (ID), sebuah teknologi pengeringan sekaligus penyimpanan yang mampu mempercepat proses pengeringan, hanya 2-3 hari dan memiliki kemampuan berdaya simpan lama.
Siti Mariana Widayanti, Peneliti BB Pascapanen menjelaskan, ID ini serupa dengan gudang penyimpanan yang dilengkapi dengan tungku pemanas, pengatur suhu dan kelembaban dan rak-rak penampung bawang.
Pelayuan di tingkat petani sampai kering askip berkisar antara 7-10 hari tergantung cuaca. Dengan ID, pelayuan dapat dilakukan selama 3-4 hari menggunakan suhu 40-45oC dengan kelembaban sekitar 50-60%.
ID sangat diperlukan oleh petani bawang pada saat musim penghujan dimana tidak ada sinar matahari untuk melayukan/mengeringkan bawang. Kerusakan bawang untuk bibit yang disimpan selama 3 bulan oleh petani sekitar 35-45%.
Sedangkan jika menggunakan ID kerusakan hanya sekitar 16,5%. Sedangkan jika ID akan digunakan sebagai tempat penyimpanan maka suhu yang digunakan sekitar 28-30oC dengan RH 70-80%.
ID ini juga bisa berperan ganda, tidak hanya sebagai tempat pegeringan, tapi sekaligus bisa dijadikan tempat penyimpanan. “Nah, pada tahap penyimpanan kelembaban berkisar antara 80-85% dengan suhu sekitar 30 derajat. Dengan cara ini, kesegaran bawang merah bisa dipertahankan hingga waktu yang cukup lama. Masyarakat umumnya menginginkan bawang yang disimpan itu dalam bentuk segar” ujarnya.
Target penyimpanan ini adalah selama 3 bulan dengan kelembaban 80 persen. Walaupun ada kerusakan, maka kerusakan ini tidak terlalu besar. Kalau penyimpanan yang dilakukan petani dengan cara konvesional, kerusakan itu bisa mencapai 30 persen, sedangkan dengan teknologi ini kerusakan paling besar mencapai 16 persen.
Sedangkan soal besarnya investasi yang harus dikeluarkan petani untuk membuat ID ini, menurut tidak begitu mahal. Kurang dari Rp. 100 juta rupiah, ID ini bisa dibuat. Biaya ini juga tergantung besarnya ukuran ID yang akan dibuat, semakin besar ukuran ID maka akan semakin mahal.
Keunggulan ID menurut Wida mampu menekan kerusakan bawang merah dari 20% menjadi 10% dan mempertahankan kualitas (warna, tekstur dan VRS). Disamping itu, daya simpan lebih lama, dari 4 minggu dengan cara konvensional menjadi menjadi 2-3 bulan.nLis
Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066
Editor : Pimpinan Redaksi