Mungkin nama Pakuwon tidak begitu terkenal jika dikaitkan dengan istilah ladang minyak. Orang akan lebih akrab dengan ladang minyak Dumai di Propinsi Riau atau Blok Cepu yang berada di perbatasan Jawa Timur dan Jawa Tengah. Perjalanan jelajah inovasi kali ini akan mencoba membelah tanah Pasundan mulai dari Bogor, Sukabumi dan Lembang menelusuri ladang-ladang minyak harapan Indonesia.
Jelajah inovasi kali ini terasa begitu ringan, bendera start diangkat dari daerah Bogor tepatnya di Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan (Puslitbangbun), kemudian akan menuju Kebun Pakuwon di Sukabumi sebagai etape kedua, dan akan berakhir di Kebun Percobaan Manoko, Kabupaten Lembang. Tepat pukul 06.00, ‘Sinta’ diperbolehkan numpang mobil milik pusat ini bersama dengan para peneliti menuju Pakuwon yang berjarak sekitar 2,5-3 jam. Maklum mobil yang menuju ke lokasi hanya tersedia satu mobil. “Mobil di sini banyak dan bagus-bagus di halaman parkir kantornya, tapi mungkin ada kepentingan lain sehingga hanya satu yang bisa ke Pakuwon,” begitu gumam ‘Sinta’ menikmati kondisi perjalanan ini. Tapi tak mengapa? Karena inilah bagian dari cerita jelajah ini.
Tidak ada yang menarik di awal perjalanan ini, hanya hawa dingin yang menyengat yang terus menyerang kulit. Untuk membuang kebosanan, kami yang ada di dalam mobil ini masing-masing mencoba membuka kesunyian perjalanan dengan saling berkenalan. Namun lagi-lagi cerita kita juga makin habis dan masing-masing terdiam kembali. Di tengah kesunyian ini, mata ‘Sinta’ tertuju pada sebuah stiker yang tertempel di dashboard depan mobil innova ini.
Stiker tersebut berisikan lima item, di antara item tersebut tertulis “Jika terjadi kebocoran gas atau tercium bau gas: 1. Segera matikan mesin kendaraan Anda dan seterusnya……”. Setelah membaca stiker ini barulah ‘Sinta’ sadar bahwa kendaraan ini bisa menggunakan dua jenis bahan bakar. Bisa menggunakan bensin, bisa juga memakai gas sebagai bahan bakarnya. Uniknya lagi, gas yang akan digunakan ini dirancang berasal dari biogas dari kotoran ternak.
Sebelum kita melanjutkan perjalanan ke Sukabumi, ada baiknya kita keliling dulu di Puslitbangbun Bogor ini. Kantor ini dirancang menjadi perwajahan bioenergi secara keseluruhan baik itu biogas, biofuel dan bioethanol. Kalau rekan-rekan jelajah berkesempatan bertandang ke Puslit ini, persis di pintu gerbang sebelah kiri, kita akan disambut oleh sebuah bangunan yang mirip dengan stasiun pengisian BBM (pom bensin).
Bangunan itu hampir keseluruhannya dicat dengan warna hijau dan bertuliskan, “Stasiun Penelitian dan Pengembangan Bahan Bakar Nabati”, dari kalimat ini jelas tergambar bahwa tempat ini akan menjadi pusat pengembangan bahan bakar nabati seperti kemiri sunan. Perangkat ini bukan sekedar hiasan atau display belaka, tetapi akan berfungsi seperti layaknya pom bensin. Selain dilengkapi dengan bangunan itu, hampir sebagian kendaraan yang digunakan oleh Puslit ini telah dimodifikasi sehingga kompatibel dengan berbagai bahan bakar yanga terbarukan (bioenergi).
Mulai bahan bakar biogas yang berasal dari kotoran ternak, bahan bakar diesel yang berasal dari beragam tanaman dan bahan bakar ethanol pengganti bensin akan tersedia di stasiun ini. Pada tahun 2014 ini juga diprediksi akan diproduksi methan cair untuk kebutuhan rumah tangga.
Saksi Bisu
Buat rekan jelajah untuk mencapai Kebun Percobaan Pakuwon, ada dua alternatif yang bisa dipilih. Yang pertama bisa menggunakan mobil menunju Sukabumi atau yang kedua bisa memanfaatkan angkutan kereta api dari Kota Bogor, bahkan menurut kabar, kereta yang digunakan oleh PT KAI untuk rute Bogor-Sukabumi jauh lebih bagus dibandingkan beberapa tahun sebelumnya. Sehingga rekan jelajah tak perlu sungkan naik kereta api ini, nah setelah sampai di Staisun Parungkuda, rekan jelajah harus segera bergegas keluar dan melanjutkan perjalanan menggunakan ojek motor sekitar 15 menit ke Kebun Pakuwon.
Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066
Editor : Julianto