Sunday, 01 November 2026


Menyusur Keemasan Patin Di Lingkar Aura Candi Muara Takus

03 Apr 2014, 10:00 WIBEditor : Kontributor

Aura kebesaran Kerajaan Sriwijaya masih bisa dirasakan di sekitar Candi Muara Takus. Susunan bangunan yang dirangkai secara rapi dengan seni arsitektur yang indah membuat panorama suasana bergejolak kembali ke masa kejayaan kerajaan itu. Bisa kita bayangkan, lokasi yang saat ini dianggap terpencil (135 km dari pusat Kota Pekan Baru), dahulu kala bisa jadi ini pusat ekonomi dan peradaban masyarakat.

Begitu menariknya Kabupaten Kampar, sampai-sampai ‘Sinta’ diundang oleh Kepala BPTP Riau, Prof. (Riset) Masganti,  untuk mengupas sebuah sukses stories sebagai jejak langkah keberhasilan balai itu dalam pengembangan Kampoeng Patin di Desa Koto Mesjid, Kecamatan XIII Kota, Kabupaten Kampar, Provinsi Riau.

Setelah menempuh perjalanan sekitar 2,5 jam dari Pekan Baru,  tim jelajah inovasi berhasil menembus komplek Situs Purbakala Candi Muara Takus. Decak kagum bukan hanya dirasakan oleh ‘Sinta’, tetapi juga tetap memikat tim jelajah yang dipimpin oleh Rachmiwati Yusuf dari BPTP Riau.  Kendati mereka sudah berulang-kali ke candi ini, sikap kekaguman akan kekayaan budaya Indonesia ini masih terpancar dari wajah mereka.

Penjelajahan kita kali ini memang bukan untuk mengupas tuntas soal Candi Muara Takus tersebut, tetapi ingin menengok rekam jejak dan perkembangan ikan patin yang menjadi binaan BPTP Riau yang berada tidak begitu jauh dari cagar budaya tersebut. Lokasi sasaran utamanya adalah Desa Koto Mesjid, Kecamatan XIII Kota, Kabupaten Kampar. Di desa ini sebuah kemustahilan dalam pengembangan patin, bisa dijawab menjadi kenyataan.

Namun sebelum sampai pada pokok cerita kita, ada baiknya rekan-rekan jelajah diajak dulu melihat sebuah maha karya budaya bangsa berupa candi. Sayangnya, kehadiran tim jelajah kurang beruntung, petugas cagar budaya yang diharapkan bisa berbagi informasi soal candi tidak berada di tempat. Alhasil, lagi-lagi ‘Sinta’ mencoba berselancar di dunia maya untuk menggali informasi. Alhamdulillah, dalam situs Wikipedia informasi tersaji cukup mewakili.

Dalam situs itu disebutkan, Candi Muara Takus dikelilingi oleh tembok berukuran 74 x 74 meter, yang terbuat dari batu putih dengan tinggi tembok ± 80 cm, di luar arealnya terdapat pula tembok tanah berukuran 1,5 x 1,5 kilometer, mengelilingi kompleks ini sampal ke pinggir Sungai Kampar Kanan. Di dalam kompleks ini terdapat beberapa bangunan candi yang disebut dengan Candi Sulung/Tua, Candi Bungsu, Mahligai Stupa dan Palangka.

Dari berbagai catatan yang berhasil ditemukan ada pesan penting yang ingin disampaikan atas keberadaan candi tersebut. Candi merupakan bangunan suci yang berkembang pada masa Hindu-Buddha yang berasal dari India. Konsep yang digunakan dalam pendirian sebuah bangunan suci sama dengan konsep yang berkembang dan digunakan di India, yaitu konsep tentang air suci. Bangunan suci harus berada di dekat air yang dianggap suci. Air itu nantinya digunakan sebagai sarana dalam upacara ritual.

Keadaan geografis wilayah Sumatera yang memiliki aliran sungai yang besar sangat mendukung konsep dari kebudayaan India tersebut. Dengan adanya aliran sungai besar tersebut air dengan mudah didapat untuk keperluan dari upacara ritual. Selain faktor air, faktor ekonomi juga dapat melatarbelakangi berdirinya suatu bangunan suci. Aliran sungai di Sumatera pada masa lampau merupakan jalur transportasi untuk perdagangan.

Seirama dengan tumbuh dan pesatnya perdagangan di suatu tempat pada umumnya, akan muncul pula bangunan-bangunan suci atau candi untuk digunakan sebagai tempat menjalankan upacara ritual oleh para pelaku ekonomi tersebut yang telah mengenal magis terhadap bangunan candi, berperan dalam fungsi perkembangan sosial/ekonomi dan perdagangan. Candi ini dianggap telah ada pada zaman keemasan Sriwijaya, sehingga beberapa sejarahwan menganggap kawasan ini merupakan salah satu pusat pemerintahan dari Kerajaan Sriwijaya.

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

Editor : Julianto

BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018