Sunday, 01 November 2026


Menyibak Pupuk Hayati di Tanah Majapahit

08 Apr 2014, 13:56 WIBEditor : Kontributor

Hingga saat ini, bukti-bukti yang menunjukkan bahwa Kerajaan Majapahit adalah sebuah kerajaan agraris masih dapat kita saksikan. Berada di Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur di lingkar Kecamatan Trowulan ada sekitar 32 waduk. Satu di antaranya bernama Kolam Segaran, tepat berada di jantung Trowulan berukuran 375 meter dan lebar 125 meter dengan ketinggian dinding kolam 3,16 meter menjadi saksi pertanian di tanah Majapahit.

Banyak literatur kuno yang menyebutkan bahwa Kecamatan Trowulan adalah pusat peradaban Kerajaan Majapahit, di kawasan ini ditemukan banyak sekali situs peninggalannya baik berupa bekas bangunan, arca, benda purbakala dan candi. Salah satu candi yang erat hubungannya dengan pertanian adalah Candi Tikus.

Candi ini sebenarnya adalah kolam pemandian para kerabat kerajaan berada di Desa Temon, Kecamatan Trowulan. Namun candi ini kemudian sangat terkenal dengan sebutan Candi Tikus, nama ini diberikan oleh masyarakat setempat.

Candi ini ditemukan tahun 1914 oleh seorang penduduk yang kemudian dilaporkan ke Bupati Mojokerto, R.A.A. Kromodjojo Adinegoro. Penemuan itu diawali dengan laporan penduduk bahwa di daerah itu terjangkit wabah tikus yang bersarang di sebuah gundukan. Ketika gundukan dibongkar terdapat sebuah candi. Hingga saat ini air yang ada di kolam tersebut diyakini oleh petani dapat digunakan untuk mengusir tikus di sawah.

Masih banyak kisah-kisah lain yang terkait dengan pertanian di bekas kejayaan Majapahit ini, sayangnya kita tidak mungkin mengungkapnya secara keseluruhan. Tujuan perjalanan kita kali ini adalah untuk mengungkap komersialisasi inovasi teknologi pupuk hayati yang dihasilkan oleh Badan Litbang Pertanian.

Rekan-rekan jelajah, kisah perjalanan singkat ini adalah awal penjelajahan inovasi ke Jawa Timur, rute penjelajahan dimulai dari Kabupaten Sidoarjo, Mojokerto, hingga Kabupaten Tulung Agung. Di Kabupaten Sidoarjo ada sebuah perusahaan bernama PT. Nusa Palapa Gemilang (NPG) yang sejak beberapa tahun lalu tepatnya tahun 2007 telah melisensi tiga produk pupuk hayati Badan Litbang Pertanian. Ketiga pupuk hayati tersebut adalah Nodulin, Bionutrient, dan M-Dec.

PT. NPG yang memproduksi pupuk NPK, pupuk organik, pupuk hayati dan Dolomit ini berada di bawah group PT. Atmaja Makmur Gemilang (AMG) berada di Kecamatan Balungbendo, Kabupaten Sidoarjo. Bagi PT. NPG, inovasi yang dikembangkan oleh Badan Litbang ini memperkaya produk inovasi pertanian. Banyak manfaat yang telah dirasakan oleh masyarakat, di antaranya adalah kemampuan salah satu produk inovasi itu yang dapat digunakan untuk menghilangkan bau tak sedap pada air limbah yang mengalir di sungai.

PT. NPG belum secara serius masuk ke pasar bebas, sebagian besar yang dihasilkan digunakan untuk memenuhi keperluan perkebunan besar. Mulai tahun 2014 ini, perusahaan tersebut akan masuk ke pasar bebas. Mereka yakin produk-produk tersebut sangat diperlukan oleh petani, apalagi jika dikaitkan dengan ancaman degradasi lahan yang terus terjadi.

Setelah seharian menjelajah Sidoarjo dan Mojokerto, tim jelajah juga bergerak ke Kabupaten Tulung Agung. Di kabupaten ini ada seorang petani yang telah menggunakan produk PT. NPG dalam mengembangkan pupuk organik. Pupuk organik yang diproduksi ini kemudian dipasarkan ke petani lain yang berada di sekitarnya.

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

Editor : Julianto

BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018