Sunday, 01 November 2026


Daging Sapi di Balik Rimba Sawit PTPN VI Jambi

23 Apr 2014, 13:51 WIBEditor : Kontributor

Berjarak sekitar 35 km dari Kota Jambi ada sebuah desa yang sempat menjadi buah bibir masyarakat. Desa itu adalah Muaro Sebo, Kecamatan Jaluko, Kabupaten Muaro, Jambi. Semula desa itu biasa-biasa saja seperti kebanyakan desa lainnya, kawasan hutan belukar di atas lahan gambut yang berada di sisi kiri-kanan jalannya adalah pemandangan yang biasa.

Tapi, tepatnya pada tanggal 25 Oktober 2012 desa itu menjadi terkenal. Pejabat tinggi daerah berbondong menuju ke sana guna mendampingi Meneg BUMN, Dahlan Iskan yang sengaja bertandang sekaligus ingin membuktikan apakah betul pengadaan daging nasional bisa dimulai dari desa yang berjarak sekitar 1 jam dari Candi Muaro Jambi itu.

Betul saja! Ketakjuban Dahlan terbukti setelah melihat sebuah bangunan pabrik karet itu berubah fungsi menjadi kandang sapi. Ada ribuan ekor sapi potong berjajar tak beraturan yang siap menjadi pemecah masalah nasional. Ketika itu, dia dengan optimisnya berkata: ”Saya tidak menyangka perkembangan program (integrasi sawit-sapi/ISS-Red) ini demikian baik”.

Kisah sukses itu tidak berakhir usai kedatangan Meneg BUMN itu saja, pabrik karet yang tak berfungsi selama 5 tahun itu berubah total. Deru mesin pencacah pelepah dan daun sawit memecah kesunyian desa, pekik suara sapi di tengah malam menjadi nyanyian baru Muara Sebo. Di sini, pada tahun 2013 lalu ada 2.000 ekor sapi potong yang siap meramaikan pasar.

Inilah potret sukses PTPN VI menjalankan program ISS yang menginspirasi Tim Jelajah Inovasi untuk melangkahkan kaki ke sana. Sehari sebelum keberangkatan tim jelajah, Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan (Puslitbangnak), Dr. Bess Tiesnamurti bersedia meluangkan waktu untuk memberikan pembekalan seputar program ISS di PTPN VI. Rekan jelajah, perlu diketahui Bu Bess ini adalah salah seorang peneliti yang terlibat langsung pada awal-awal pengembangan program itu.

Dengan gaya serius namun bersahabat, Bu Bess menjelaskan bahwa program integrasi sawit sapi yang dikembangkan di sana jauh berbeda dengan sistem integrasi yang pernah dikembangkan saat ini. Program ini berada pada skala usaha komersil besar yang diprediksi menjadi usaha lain dari perseroan tersebut.

“Selama ini memang sudah ada sistem integrasi yang dikembangkan, namun sistem tersebut dikelola secara sederhana dan ada juga yang melibatkan masyarakat. Namun ISS di PTPN VI dikelola secara modern,” ujarnya.

Rekan-rekan jelajah, dari pengalaman ‘Sinta’ yang sempat mengunjungi beberapa model integrasi yang dikembangkan sejak beberapa tahun lalu, kebanyakan konsep integrasi yang dikembangkan sangat sederhana. Lahan perkebunan sawit digunakan sebagai ladang penggembalaan. Cara ini oleh sebagian peneliti dinilai tidak bisa dikategorikan sebagai model integrasi yang modern.

Di Bengkulu, sekitar 7-8 tahun telah berkembang sistem integrasi. Lahan sawit digunakan sebagai padang penggembalaan yang diharapkan bisa menjadi sumber pakan. Namun issu bahwa feses/kotoran sapi yang tergeletak di tanah antara pohon sawit akan menjadi sumber/asal penyakit dan menyebabkan tekstur tanah menjadi keras, dianggap sistem ini akan mengganggu aktivitas perkebunan.

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

Editor : Julianto

BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018