Keidentikan Sriwijaya sebagai sebuah kerajaan bahari semakin terbukti ketika kita sempat beranjang-sana ke Provinsi Sumatera Selatan yang kondang dikenal sebagai pusat kerajaan tersebut. Fakta-fakta alamnya dapat kita lihat di kawasan Muara Sungai Musi yang memiliki banyak sekali delta-delta yang kini membentuk seperti pulau-pulau kecil dengan status lahannya adalah pasang surut.
Bahkan! Begitu besar lahan pasang surut dan rawa yang ada, sehingga jika kita lihat datanya mencapai hampir 40% dari luasan provinsi tersebut. Mengapa kita mencoba mengaitkan antara lahan pasang surut dengan Kerajaan Sriwijaya? Karena dengan kondisi alam yang demikian sangat memungkinkan berkembang sebuah kerajaan yang berbasis maritim dengan kekuatan transportasi/armada laut yang dimilikinya.
Nah! Pekan lalu, jelajah inovasi Alhamdulillah berkesempatan terjun langsung menyelusuri delta-delta lahan pasang surut yang ada di Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan. Berkat bantuan dari Tim BPTP Sumsel yang dipimpin oleh Budi Raharjo, Peneliti BPTP Sumsel perjalanan berat ini terasa ringan dan menyenangkan.
Desa Saleh Mulya adalah sasaran utama penjelajahan ini. Desa ini berada pada kawasan Kecamatan Air Saleh, berdekatan dengan delta Makarti, Air Sugihan dan berhadapan langsung dengan Selat Bangka. Saat ini sebagian besar penduduknya mengandalkan tanaman padi sebagai mata pencahariannya. Mungkin sama halnya dengan delta-delta lain di sepanjang aliran Sungai Musi, kehidupan mereka tidak lepas dari sistem transportasi sungai/kali dengan kondisi lahan yang akan terendam satu hari setahun, tepatnya pada bulan Desember (ketika pasang pada kondisi sangat tinggi) dan berlangsung hanya sekitar 2 jam.
Namun ada yang sangat menarik dari desa tersebut! Dari desa inilah awal berkembangnya sistem pengering padi berbahan bakar sekam. Saat ini mungkin sudah mencapai angka ribuan unit sistem pengering ini berkembang hampir di setiap unit penggilingan padi (Rice Milling Unit-RMU). Sistem mekanisasi ini dikembangkan oleh Badan Litbang Pertanian yang kemudian mendapat bantuan dari International Rice Research Institute (IRRI) yang melibatkan banyak bengkel-bengkel kecil milik rakyat yang berada di Provinsi Sumatera Selatan.
Rute Jelajah
Perjalanan menuju Saleh Mulya sangat mengasyikkan, dengan menggunakan speed board buatan lokal (atau disebut motor tempel/cempek) tim jelajah meluncur di aliran anak-anak sungai yang dipagar hutan-hutan mangrove dan rawa-rawa di kiri-kanannya. Rekan-rekan jelajah, perjalanan ini mampu memacu daya khayal kita, ”seolah-olah kita sedang berada pada hutan rawa yang ada di Amazon atau seperti hutan rawa yang ada di Film Anaconda”.
Titik start tim jelajah kali ini dimulai dari sebuah pelabuhan kecil yang berada di Kenten Laut. Kendati jumlah kapalnya sedikit, di pelabuhan ini bersandar berbagai kapal dengan berbagai ukuran dan menurut informasi, pelabuhan ini adalah yang memiliki jarak terdekat dengan lokasi tujuan. Hanya sekitar 1,5 jam perjalanan sungai, tim jelajah sudah sampai ke lokasi.
Namun bagi rekan jelajah yang ingin memilih rute lain bisa juga dimulai dari pelabuhan kapal yang berada di sekitar Jembatan Ampera dan diperlukan waktu sekitar 2 jam baru sampai ke lokasi.
Masing-masing rute ini memiliki daya tarik sendiri, misalnya kalau kita naik kapal dari Jembatan Ampera tentunya kita akan dapat menikmati suasana kota bahari yang berlatar belakang Benteng Kuto Besak peninggalan Belanda dan pemandangan indah dari Jembatan Ampera yang membentang lebih dari 1 km yang menghubungkan antara darat seberang ulu dan daratan seberang ilir.
Bagi rekan-rekan jelajah yang memiliki banyak waktu untuk berkunjung, sebelum menuju delta Air Saleh bisa juga melancong sebentar ke Taman Purbakala Kerajaan Sriwijaya yang berada di Karanganyar, Gandus Palembang. Dari pusat kota, lokasi ini bisa ditempuh menggunakan angkutan umum tidak lebih dari setengah jam.
Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066
Editor : Julianto