Kabupaten Probolinggo terkenal akan mangganya, jadi tidak heran di setiap rumah pasti ditemukan satu pohon mangga. Di saat panen raya hadir, mangga melimpah ruah, sehingga harganya rendah sekali, bisa mencapai hingga Rp 1.000 per kg. Harga yang sangat rendah ini, tentu beberapa mangga yang tidak laku didiamkan hingga membusuk.
Untuk mensiasatinya, Ketua Kelompok Usaha Bersama (KUB) Amanah, Lilik Noerhajati, mengolah mangga menjadi makanan dan minuman ringan. Hasil olahan mangga yang diciptakan oleh KUB ini adalah dodol, selai, sirup, serta manisan basah dan kering.
"Dengan diolah, harganya menjadi lebih tinggi 7 kali lipat. Tidak hanya harganya yang tinggi, daya simpannya menjadi lebih lama. Bisa tahan sampai 6 bulan," jelas Lilik saat diwawancarai Sinar Tani di stand KTNA Kab. Probolinggo.
Menurut Lilik, mangga Probolinggo sangat baik diolah karena memiliki kriteria-kriteria khusus yang tidak didapat mangga dari daerah lain. Istimewanya adalah tidak banyak mengandung air, apabila dibuat manisan lebih kenyal dan dibuat dodol lebih padat.
Hasil olahan mangga KUB ini sama sekali tidak menggunakan zat kimia. Semua bahan yang digunakan alami. Seperti zat untuk pengemulsi, menggunakan rumput laut. "Kita tidak menggunakan zat emulsi kimia, melainkan menggunakan rumput laut. Memang jadi sedikit terasa rumput laut, tetapi tidak merusak tubuh."
Untuk mengolah mangga, sangatlah mudah. Seperti yang dicontohkan Lilik, mengolah manisan basah, cukup merendamnya hingga 4 hari saja dengan air gula (sudah dikupas dan dipotong-potong). Air rendamannya dijadikan sirup, daging buahnya manisan basah. "Kalau untuk manisan kering, tinggal ditambahkan rumput laut. Dipanggang di oven agar kering," jelas Lilik.
Aromanya pun tidak menggunakan zat kimia, cukup dicampurkan dengan mangga kwini. Mangga manalagi bukanlah mangga beraroma tajam. Ketika diolah, aromanya sama sekali tidak tercium. Untuk menarik minat konsumen, dicampurlah dengan mangga kwini karena aromanya sangat tajam. Jadi manisan mangga manalagi, aroma kwini.
Hasil olahannya ini, terutama sirup sudah melanglangbuana hingga Serambi Mekah. Setiap seminggu sekali, selalu mengirimkan 100 botol ke Aceh. "Sirup kita pun sebenarnya sudah sampai Malaysia, tetapi masih sebatas teman bawa ke sana sebagai buah tangan," kata Lilik.
Apakah pemerintah turut membantu? Lilik menjawab iya. Di sini, Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika (Balitbu) Solok, selalu mengawasi dan mengadakan pembinaan agar kualitas mutunya terjamin. "Jadi kita ini sebenarnya bisa begini karena rumah kami dekat dengan kebun mangga milik Balitbu Solok. Peneliti yang sedang mengadakan penelitian di sana, mengajak kami untuk mengolahnya menjadi makanan dan minuman. Makanya sekarang kami bisa seperti ini," cerita Lilik dengan bangga.
Pemerintah provinsi dan kabupaten pun memberikan bantuan berupa alat pengolahan. Dari mulai alat blower hingga alat pengeringan diberikan kepada KUB Amanah.
Anggotanya pun terdiri dari berbagai macam usia. Mulai dari remaja hingga lansia terdapat di dalamnya. Makanya tidak heran KUB Amanah sudah mendapatkan award dari pemerintah dan swasta. "Kita sudah pernah menang award. Walaupun juara harapan dan baru tingkat Kabupaten Jawa Timur, kita sudah bangga. Hasil jerih payah kita diakui. Dan kami semakin bangga untuk lebih giat berinovasi ria agar produk kami dikenal seluruh masyarakat luas." Cla
Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066
Editor : Julianto