Thursday, 22 October 2026


Budiono, Ke India Berkat Beras Sehat

12 Aug 2014, 12:51 WIBEditor : Clara Agustin

Berangkat dari keprihatinan akan kondisi pertanian di Indonesia yang sebagian besar masih menggunakan bahan-bahan kimia, Budiono, petani dari Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, giat mengajak warga di desanya untuk menerapkan pertanian organik.

Budiono yang menjabat sebagai Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Harapan Makmur, menyatakan prihatin dengan kondisi tanah di desanya yang hanya mengandung unsur hara 1%, padahal menurut penelitian minimal tanah pertanian mengandung unsur hara 4-5%.

Karena alasan inilah, Budiono mengajak anggota kelompoknya untuk menciptakan beras sehat melalui penerapan sistem pertanian padi organik. Atas kesuksesannya menciptakan pangan layak konsumsi yang memperhatikan lingkungan hidup, Budiono mendapatkan penghargaan Adhikarya Pangan Nusantara di tahun 2013.

Tidak hanya di dalam negeri, di luar negeri, tepatnya di India, beras sehat produksi Gapoktan Harapan Makmur juga diapresiasi tinggi oleh masyarakat setempat “Saya dan beberapa teman, pernah diundang ke India untuk mempresentasikan beras sehat,” katanya.

Walaupun produksi beras sehat ini dilakukan dengan sistem organik, produksi yang dihasilkan per hektarnya termasuk tinggi. Untuk sekali panen, mampu menghasilkan gabah kering panen (GKP) sebanyak 7-8 ton per ha. Harga jual beras sehat ini memang sedikit mahal, sekitar Rp 15 ribu per kg. “Lumayan mahal dibandingkan dengan beras biasa, tetapi ini organik. Tentu sangat baik untuk kesehatan,” kata Budiono yang menjabat juga sebagai Ketua Harian KTNA Kab. Tulungagung.

Mengapa dinamakan beras sehat? Menurut Budiono, karena memang proses produksinya murni organik. Dari mulai pemupukan hingga pemberantasan hama menggunakan bahan-bahan organik.

Integrasi Tanaman-Ternak

Untuk pupuk, digunakan pupuk kandang dan pupuk dari daun (kompos). Sedangkan untuk pestisida menggunakan ramuan dari berbagai macam jenis tumbuhan. Misalnya: buah mahoni, kamboja, tembakau, brotowali, bawang dan daun sirsak. “Pengairannya pun kita perhatikan. Jadi ada saringannya untuk pengairan agar kotoran-kotoran yang terbawa air, tidak masuk ke areal persawahan beras sehat,” katanya.

Tidak terfokus pada beras sehat saja, Gapoktan Harapan Makmur, juga menggarap kegiatan lebih ke hilir. Selain itu, penerapan integrasi tanaman-ternak pun dijalankan oleh setiap anggota kelompok.

Di desanya yakni Desa Wates, kegiatan Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL) juga sudah marak dilaksanakan. Setiap kepala keluarga, mengusahakan tanaman keluarga. Berkat berkembangnya KRPL di desa tempat tinggal Budiono, kini kebutuhan bahan pangan untuk konsumsi keluarga bisa diproduksi secara mandiri oleh masyarakat bahkan sebagian dijual sehingga menambah penghasilan keluarga.

Berkat kegigihannya, Budiono mampu membuat perekonomian masyarakat di desanya berkembang. Penghasilan setiap kepala keluarga pun meningkat. Kehidupan petani pun menjadi lebih sejahtera, hasil pertanian pun mampu menembus pasar luar negeri karena diproduksi dengan sistem pertanian organik. Cla

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

Editor : Julianto

BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018