Thursday, 22 October 2026


Menambah Pendapatan dari Pekarangan Rumah

29 Jan 2015, 13:55 WIBEditor : Julianto

Sepi, sunyi dan tak banyak aktivitas, kecuali bertani di sawah. Gambaran tersebut hampir terjadi di seluruh desa-desa di Indonesia. Dengan hanya bertopang pada pendapatan bertani, kerap masyarakat di desa tak mampu mencukupi kebutuhan mereka sehari-hari.

Kondisi tersebut tercermin dari data Badan Pusat Statistik (BPS), bahwa hampir 60% penduduk miskin di Indonesia berada di daerah pedesaan. Sebagai produsen pangan, petani juga menjadi penerima bantuan raskin (beras untuk masyarakat miskin).

Faktor kemiskinan tersebut membuat rakyat di desa juga tak bisa memenuhi konsumsi pangan yang bergizi. Padahal dengan potensi yang ada, masyarakat di pedesaan tidak harus menjadi bagian penduduk miskin dan rawan pangan.

Dengan optimalisasi lahan yang ada, masyarakat di pedesaan bisa menambah pendapatan. Salah satu contohnya, Shella Fitricha (38) ibu rumah tangga yang menjadi Ketua KWT Retno Makmur, Rejowinangun, Kecamatan Kotagede, Yogyakarta.

Dengan niat membantu suaminya, Agus Budi Santosa (46) yang menjadi Ketua Kelompok Tani Retno Makmur, Shella mengoptimalkan halaman rumahnya dengan 500 pot tanaman sayur, obat dan buah-buahan. “Saya dan suami fokus di pertanian, saya pegang KWT, suami saya jadi Ketua Kelompok Tani Retno Makmur,” katanya.

Dengan memanfaatkan pekarangan yang ada, Shella mengakui, berkebun di pekarangan rumah menjadi lebih menyenangkan. Apalagi bercocok tanamnya hanya menggunakan wadah polybag yang disusun vertikal menggunakan bambu sebagai penyangga. “Ini berkat dukungan suami saya, dia tekun dalam pertanian akhirnya saya bisa tertular jadi cinta bertanam. Hampir semua jenis tanaman sayuran dapat tumbuh di sini,” katanya kepada Sinar Tani.

Bukan sekadar menanam, dia juga membuat produk olahan dari hasil tanamannya. Dengan usahanya tersebut, Shella bisa menghemat pengeluaran keluarga. Bahkan saat panen sayuran, dia mendapatkan tambahan penghasilan paling kecil Rp 100 ribu.

“Sekarang saya tak perlu lagi membeli sayur, semua sudah tertanam di halaman rumah. Jadi meski hasilnya tidak banyak karena masih skala kecil di pekarangan, tapi saya senang bisa menjadi petani,” kata dia.

Bukan hanya Shella yang merasakan menghemat, bahkan menambah penghasilan keluarga. Anggota KWT lainnya juga kecipratan untung. Dengan penghasilan tambahan ini menurut Shella, kelompoknya bisa lebih kreatif menciptakan menu pangan olahan. Saat ini KWT Retno Makmur mengolah berbagai macam keripik daun. Mulai dari daun cabai, daun tomat, daun pisang, daun jati, daun singkong.

“Semua jenis daun bisa menjadi keripik, bahkan daun mangga, daun jahe maupun kunyit semua bisa dimakan,” tuturnya seraya menambahkan, keripik daun tersebut kini sudah dipasarkan ke berbagai daerah.

Agus menambahkan, dirinya terus mendorong istrinya dalam mengoptimalkan lahan pekarangan rumah. Usahanya tersebut tidak lepas dari keprihatinan lahan pertanian yang makin sempit.

“Kalau di kelompok kami, walaupun cuma punya dua pohon cabai saja, itu bisa dijual. Mulai dari benih, pohon maupun buahnya bisa dijual. Untuk satu pohon cabai yang memiliki buah bisa dihargai Rp 20 ribu. Belum lagi buahnya, daunnya. Semua bisa dimanfaatkan,” tuturnya.

Dari Yogya ke Wonogiri

Peran wanita ikut menyokong pendapatan rumah tangga juga ada di Desa Semin yang terletak di Kecamatan Nguntoronadi, Kabupaten Wonogiri. Lokasi yang berjarak 24 km dari Kota Wonogiri, selama ini membuat desa tersebut tidak terlihat banyak kesibukan. Apalagi wilayah Desa Semin, termasuk daerah yang kering dengan tofografi sebagian besar bukit di ketinggian 180 meter di atas permukaan laut (dpl).

Tapi kini desa tersebut telah berubah. Desa yang dulu sepi dan jauh dari hiruk pikuk, justru kini ramai dengan aktivitas kaum hawa. Bukan sibuk ‘ngerumpi’, tapi kalangan ibu rumah tangga asik mengurus pekarangan rumahnya masing-masing.

Tergabung dalam Kelompok Wanita Tani (KWT) Melati, kaum wanita di Desa Semin, tak lagi membiarkan lahan kosong di pekarangan ditumbuhi rumput-rumput liar. Sejak mendapat penyuluhan cara mengoptimalkan pekarangan, ibu-ibu mulai memanfaatkan lahan dengan menanam aneka sayuran dan umbi-umbian. Bahkan membudidayakan ikan dan ternak.

Ketua KWT Melati, Darmini menjelaskan, pemanfaatan lahan pekarangan dimulai sejak tahun 2010 dengan anggota kelompok hanya 20 orang. Keberhasilan pemanfaatan pekarangan mendorong kalangan ibu rumah tangga lainnya ikut bergabung. Dua tahun kemudian, anggota KWT Melati bertambah menjadi 81 orang.

“Kami membudidayakan sayuran dengan memanfaatkan polybag maupun barang bekas lainnya sebagai media tanam,” kata Darmini. Dengan mengoptimalkan pekarangan, manfaatnya bukan hanya lahan menjadi lebih asri, tapi juga menghemat pengeluaran belanja keluarga. “Kalau saya hitung rata-rata pengeluaran belanja bisa dihemat Rp 500 sampai 1.000 per kepala keluarga per hari,” tambahnya.

Di Kabupaten Wonogiri, bukan hanya Desa Semin yang telah berhasil memanfaatkan lahan pekarangan sebagai sumber pangan. Desa lainnya adalah Waleng yang berada di Kecamatan Girimarto, Kabupaten Wonogiri, kalangan ibu rumah tangga juga sukses mengoptimalkan pekarangan dengan menanam berbagai sayuran dan tanaman pangan. Bahkan di desa tersebut telah berhasil mengembangkan kebun bibit sendiri.

Kepala Kantor Ketahanan Pangan Kabupaten Wonogiri, Safuan mengatakan, program pemanfaatkan lahan pekarangan sebagai sumber pangan sudah berlangsung sejak 2010 dengan pembuatan demplot. Kini program tersebut sudah dilaksanakan di 20 desa di Wonogiri.

“Dengan keberhasilan mengoptimalisasi pekarangan, biaya pengeluaran untuk kebutuhan rumah tangga jauh berkurang. Paling sedikit bisa menghemat Rp 5 ribu per hari per keluarga,” katanya.

Desa Rejowinangun, Semin dan Waleng, hanya contoh desa yang berhasil membangun ketahanan pangan bersumber dari keluarga. Program optimalisasi pekarangan tersebut telah menciptakan Lumbung Hidup Keluarga (LHK). Menciptakan ketahanan dan kemandirian pangan memang harus dimulai dari rumah tangga. Pemanfaatan lahan pekarangan untuk pengembangan pangan menjadi salah satu alternatif mewujudkan kemandirian pangan rumah tangga. Echa/Yul

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

Editor : Julianto

BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018