Thursday, 22 October 2026


Mas Jiwo Pogog, The Power of One untuk Petani

30 Jan 2015, 11:02 WIBEditor : Tiara Dianing Tyas

Jumali Wahyono Perwito alias Mas Jiwo Pogog merupakan pencipta konsep The Power of One atau TPOO. TPOO merupakan konsep pemberdayaan yang bertumpu pada kemampuan individu alias seorang diri sebagai penggerak secara mandiri. Berdiri di atas kaki sendiri (berdikari) serta sengaja mengabaikan segala bentuk bantuan dari pihak lain.

Program yang telah diwujudkan dengan konsep TPOO antara lain Pepayanisasi, Durianisasi, Perpustakaanisasi, Asemisasi, Paralonisasi, Bibitisasi, Ayamisasi, Sangkarisasi, Pemberdayaan Anak Putus Sekolah dan lain-lain. Salah satu yang paling menonjol adalah ketika pria lulusan Sastra Inggris dari salah satu universitas negeri di Solo ini mengangkat seseorang yang fisiknya tidak sempurna (hanya memiliki satu tangan dan satu kaki), tapi memiliki kelebihan lain.

Mas Jiwo Pogog mampu memotivasi masyarakat Desa Pogog, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah untuk giat bekerja. Meski dirinya sebenarnya berasal dari Sukoharjo, Jawa Tengah. Pada tahun 2007, Mas Jiwo datang ke Desa Pogog bersilaturahmi rutin. Saat itu krisis dan kesulitan hidup dari sisi finansial melanda di desa ini.

“Saat itu saya melihat dan menemukan peluang untuk membantu perekonomian pedesaan. Saya yakin kebenarannya di hati dan pemikiran harus dibuktikan bahwa tanpa bantuan siapapun tetap bisa,” tuturnya.

Berbekal gaya dan managerial yang dimiliki, Mas Jiwo mengajak dan mengkoordinir warga desa menanam pepaya untuk menolong diri mereka sendiri dalam menghadapi krisis global tersebut. Menanam pepaya di sini bukan dalam arti secara tradisional yang cuma dalam jumlah tertentu atau ala kadarnya, tapi dalam skala besar dengan konsep OVOP (One Village One Product). “Selain program Pepayanisasi, program Durianisasi juga dilakukan,” katanya.

Kesulitan bukan tidak dialami ayah dua anak ini. “Kesulitan sebagai pelopor sama pada umumnya. Kesulitan secara teknis tidak ada. Namun, mindset atau pola pikir dan metologis warga adalah kesulitan terbesar. Butuh tiga tahun untuk meyakinkan warga,” tambahnya.

Namun berkat kegigihan dan tanpa lelah, Mas Jiwo Pogog, mampu mengangkat derajat masyarakat Desa Pogog dari kemiskinan serta memerangi kerawanan pangan yang selama ini melekat pada desa tersebut, sekaligus memelihara ekosistem lingkungan.

Upayanya tersebut membawa Mas Jiwo Pogog memperoleh berbagai penghargaan seperti Adhikarya Pangan Nusantara 2014 sebagai Pelopor Ketahanan Pangan dan juga Danamon Social Enterpreneur Awards 2013 sebagai Wirausahawan Sosial Indonesia.  Tia/Yul

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

Editor : Julianto

BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018