Thursday, 22 October 2026


Asyiknya Kaum Muda Lereng Merapi Berbisnis Kambing Perah

26 Feb 2015, 09:46 WIBEditor : Ika Rahayu

Kawasan berhawa sejuk  Kaliurang Yogyakarta ternyata tak hanya menyimpan  potensi wisata yang luar biasa besar,  tetapi di lereng Gunung Merapi ini berkembang pula aneka jenis  kegiatan agribisnis. Salah satu  usaha yang cukup banyak diminati kaum muda setempat adalah beternak kambing perah.

Di daerah yang hanya berjarak sekitar tujuh km dari puncak Gunung Merapi itu sejumlah pemuda  “guyub”  secara bersama-sama menjalankan usaha budidaya  ternak kambing  perah.  Tergabung dalam wadah Kelompok  Peternak Kambing PE (Peranakan Etawa) “Ngudi Makmur”  sebanyak 35  pemuda Desa Hargobinangun, Kaliurang Timur  mampu menjadikan kambing PE peliharaan mereka beranak pinak.

“Dari hanya memiliki 1-2 ekor, sekarang ini rata-rata anggota kami memiliki 5 sampai 6 ekor kambing dan sudah menghasilkan susu segar setiap harinya,” kata Ketua Kelompok Ternak Ngudi Makmur, Ismu  dalam perbincangan dengan Sinar Tani di lokasi perkandangan milik kelompoknya di Kaliurang.

Ismu dan rekan-rekannya sudah mulai menggeluti usaha pemeliharaan kambing perah pada tahun 2008, namun semua ternak yang mereka pelihara mati tersapu awan panas saat terjadi erupsi Gunung Merapi terdahsyat di 2010 hingga akhirnya  mereka terpaksa menghentikan usahanya.

Namun ternyata kesedihan mereka terhapus dengan turunnya bantuan 47 ekor ternak kambing PE betina dan tiga ekor pejantan dari Pemerintah Kabupaten Sleman  kepada anggota Kelompok Ternak Ngudi Makmur, hingga akhirnya aktifitas kelompok pun bisa berjalan kembali.

“Alhamdulillah berkat adanya dukungan dari banyak pihak, kini usaha ternak kambing perah kami bisa berkembang dan kini total populasi  kambing kelompok sudah mencapai 200 ekor,” jelas Ismu yang mengaku mengurus seorang diri  ternaknya yang berjumlah lima ekor.

Belajar Olahan Susu             

Usaha ternak kambing PE di kaki Gunung Merapi yang berada di ketinggian 950 m di atas permukaan laut (dpl) ini, menurut  sarjana teknik sipil itu,  cukup  menjanjikan. Kondisi lingkungan yang sejuk dan bersih menjadikan ternak kambing dapat tumbuh dengan sehat dan menghasilkan produk susu berkualitas tinggi. Setiap hari rata-rata peternak  dapat memproduksi 1–1,5 liter susu kambing segar  dengan rata-rata  harga jual sekitar Rp. 15.000/liter.

Beternak kambing perah pada prinsipnya tak sulit asalkan peternak benar-benar tekun untuk bisa memenuhi kebutuhan pakan dan  memperhatikan kesehatan ternaknya setiap hari.  Pakan hijauan untuk satu ekor kambing sebanyak 1/10 dari berat badan ternak (sekitar 5 kg) mudah diperoleh karena banyak tumbuh di sekitar rumah peternak.

“Yang sekarang agak memberatkan kami adalah makanan tambahan untuk ternak berupa polar harganya naik dari Rp 3.000 menjadi Rp 4.000 per kg.  Padahal  untuk seekor kambing kami harus memberi 2 kg  polar setiap harinya,” ujar ayah dua anak itu.

Di samping adanya kendala kenaikan  harga pakan tambahan, peternak juga kerap dihadapkan pada munculnya penyakit yang menjangkiti ternaknya seperti penyakit  mastitis (infeksi kantung susu/ambing), masuk angin, dan penyakit  koreng  (scabies).  Untuk menanggulangi penyakit ternak, sejauh ini pengurus kelompok  telah bekerjasama dengan dokter hewan yang juga secara  rutin mendatangi kandang kelompok.

Sementara itu peternak sendiri juga menerapkan cara pengobatan tradisional  seperti apabila kambing menderita korengan digunakan  oli bekas (untuk oli motor atau mobil). Kambing yang terkena koreng dimandikan dengan menggunakan shampoo kemudian dioleskan oli tersebut yang juga ditambahkan obat kututok.

Belakangan seiring dengan terus meningkatnya volume produksi susu segar peternak anggota kelompok,  para peternak mulai diajarkan untuk bisa menghasilkan produk olahan susu kambing (melakukan diversifikasi produk) .

Bekerjasama dengan  beberapa  perguruan tinggi seperti UGM (Universitas Gajah Mada), telah dilakukan kegiatan pelatihan mengembangkan usaha lebih ke hilir yakni  mengolah susu kambing menjadi  produk  yoghurt, ice cream dan produk olahan lainnya.

“Banyak ilmu yang bisa segera dipraktekkan oleh peternak melalui pelatihan ini. Dengan menghasilkan aneka produk olahan diharapkan peternak bisa meningkatkan pendapatannya dari beternak kambing perah dan beternak kambing perah menjadi kian mengasyikkan,” tutur Ismu. Ira   

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

Editor : Julianto

BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018