Miris. Itulah nasib petani di dalam negeri. Sebagai produsen pangan ternyata banyak yang mengalami persoalan gizi. Bahkan sebagian besar petani justru menjadi penerima raskin (beras untuk rakyak miskin).
Padahal potensi lahan, khususnya lahan pekarangan untuk pemenuhan gizi sangat besar. Jika ditata dengan baik, maka lahan pekarangan bukan hanya menjadi lumbung pangan hidup, tapi juga apotik dan warung hidup.
Sebagai lumbung pangan, pekarangan bisa menghasilkan aneka ragam pangan bergizi. Pekarangan juga menjadi sumber bahan baku obat alami bagi keluarga. Sebagai warung hidup, pekarangan bisa menambah pendapatan keluarga.
Sayangnya banyak masyarakat di pedesaan justru membiarkan pekarangan tanpa menghasilkan apapun. Meski berlahan sempit, keluarga petani bisa mengoptimalkan lahan mereka. Misalnya dengan sistem verticulture atau menanam dalam pot.
Contoh saja, Titin Supriyani yang menyulap halaman depan rumahnya dengan sayuran hidroponik. Meski baru dua bulan mencoba menanam sayuran secara hidroponik, tapi dia sudah panen sebanyak tiga kali.
“Awalnya ketika saya pengajian, ada rekan yang menjelaskan cara menanam sayuran secara hidroponik. Sejak itu saya mulai tertarik, apalagi ternyata manfaatnya banyak. Saya jadi bisa mengkonsumsi sayuran tanpa membeli, melainkan tinggal petik di halaman rumah,” katanya saat dihubungi Sinar Tani.
Ketika mencoba mempraktekkan, biaya yang diperlukan untuk membeli benih, baskom, sterofoam, pot khusus hidroponik, cairan nutrisi (pupuk khusus hidroponik), dan rockwool (media tanam hidroponik). “Kalau ingin biayanya lebih ditekan, untuk pot dapat menggunakan botol bekas air mineral atau gelas plastik,” saran wanita lulusan ekonomi ini.
Untuk mendapatkan benihnya, dia cukup mengeluarkan Rp 5 ribu/bungkus. Benih yang ditanam di antaranya jenis sayuran buah (cabai, terong, tomat) dan sayuran daun (kangkung, caisim, bayam). “Yang paling cepat tumbuh sayuran daun. Untuk kangkung saja dalam 25 hari, dapat segera dipanen. Kalau sayuran buah, bisa 2-3 bulan,” katanya.
Dengan menanam sayuran di pekarangan, Titin mengaku, dapat memenuhi kebutuhan serat sehari-hari. Bahkan terkadang jika ingin memasak, dia tinggal memetik di halaman rumah. “Terkadang kalau lagi masak mie, lalu ingin menambahkan dengan caisim, tinggal metik di depan rumah,” cerita Titin.
Titin berharap, ke depan ingin menambah aneka sayuran di halaman rumahnya, terutama bawang merah. Karena menanam bawang merah dengan hidroponik lebih sulit menjadi sebuah tantangan tersendiri baginya. “Pada dasarnya ini hobi. Kalau sudah hobi, tentu saja mempunyai kebahagian tersendiri ketika menanamnya,” katanya.
Tips Menanam Hidroponik
Menanam hidroponik memang tidak bisa sembarangan, perlu trik khusus. Berikut ini tips dari Titin Supriyani.
1. Penyemaian benih. Untuk menyemaikan benih sayuran, bahan dan alat yang dibutuhkan adalah benih sayuran yang akan ditanam, rockwool, kantung plastik, dan alasnya/wadah semai (bisa berupa piring). Masukan satu benih ke dalam rockwool. Lalu taruh di atas piring. Tutup dengan plastik dan diamkan selama dua hari hingga pecah benih.
2. Selama belum pecah benih, hindarkan dari sinar matahari. Setelah itu, buka penutupnya, jemur 2-3 hari sampai muncul daun. Setelah muncul daun, pindahkan ke pot/gelas plastik. Hati-hati memindahkannya. Biasanya kalau sayuran yang batangnya besar seperti kangkung, satu rockwool satu benih. Tapi kalau batangnya kecil seperti bayam, satu rockwool bisa ditaruh 2-4 benih.
3. Untuk campuran airnya. Satu baskom besar biasanya 7 liter air ditambah dengan 70 ml cairan nutrisi. Aduk sampai benar-benar tercampur. Tutup baskom dengan menggunakan sterofoam yang telah dilubangi sebesar gelas plastik. Taruh gelas plastik di atas sterofoam yang telah dilubangi.
4. Sterofoam fungsinya agar tanaman yang di dalam pot atau gelas plastik tidak tenggelam karena konsepnya memang harus melayang di atas air. Akarnya harus berada di dalam air. Untuk yang menggunakan gelas plastik, bawahnya harus dilubangi agar nanti akar dapat menyerap air.
5. Selain menggunakan baskom, sebagai wadah bisa menggunakan bekas botol air mineral yang 1,5 liter. Tutup kepala botolnya, lalu lubangi sisi sebelah kanan/kiri botol. Lubangnya sebesar gelas plastik.
6. Masukan campuran air plus nutrisi. Rebahkan botol, sehingga yang menghadap ke atas adalah botol yang telah dilubangi. Isi separuh botol, lalu letakkan gelas plastik yang telah berisi benih plus rockwool (benih yang sudah disemai, ditandai dengan munculnya daun).
7. Cara menyimpannya dapat digantung dengan menggunakan tali rafia pada kedua sisi botol. Bahkan dapat digantung secara bertingkat dengan botol yang lainnya (teknil vertikultur).
8. Setiap seminggu sekali, airnya ditambah karena menguap. Tapi biasanya tergantung musim. Untuk musim panas, bisa seminggu sekali ditambah air, tapi pada musim hujan air dapat ditambahkan dua minggu sekali. Jangan lupa airnya ini sudah dicampur dengan nutrisi.
9. Untuk menghindari serangga tikus, dapat digunakan kawat jaring di sekitar tanaman. Cara ini cukup efektif untuk menangkal tikus. Cla/Yul
Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066
Editor : Julianto