Thursday, 22 October 2026


Banyak Keluarga Petani yang Kurang Gizi

24 Mar 2015, 11:15 WIBEditor : Tiara Dianing Tyas

Doddy Izwardy, Direktur Bina Gizi, Kementerian Kesehatan

Persoalan pemenuhan gizi masyarakat masih menjadi pekerjaan rumah (PR) pemerintah. Salah satu upaya pemerintah menyelesaikan PR tersebut adalah menerbitkan Peraturan Presiden No. 42 Tahun 2013 tentang Gerakan Nasional Percepatan Perbaikan Gizi. Berikut ini wawancara Sinar Tani dengan Doddy Izwardy, Direktur Bina Gizi, Direktorat Jenderal Bina Gizi dan Kesehatan Ibu dan Anak, Kementerian Kesehatan.

Permasalahan kekurangan gizi masih menjadi kendala di Indonesia. Bagaimana pendapat Anda?

Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013, Indonesia masih menghadapi masalah kurang gizi. Ditandai masih tingginya prevalensi balita gizi kurang (underweight), yaitu 19,6 persen, stunting sekitar 37,2 persen, dan kurus (wasting) 12,1 persen. Di sisi lain, cukup tingginya prevalensi gizi lebih (overweight) pada kelompok balita dan kelompok usia di atas15 tahun yaitu masing-masing sekitar 11,9 persen dan 18,8 persen. Kondisi tersebut menunjukkan Indonesia menghadapi masalah beban ganda gizi.

Tingkat gizi di petani masih menjadi persoalan. Adakah upaya khusus?

Masyarakat pertanian termasuk ke dalam sasaran rencana dan target Direktorat Bina Gizi untuk meningkatkan status gizi masyarakat. Salah satunya meningkatkan kesejahteraan gizi petani. Badan Ketahanan Pangan, Kementerian Pertanian sudah ada program Pangan Lestari dan Desa Mandiri Pangan. Pada 2015-2019 kami berupaya mengintegrasikan komprehensi kegiatan tersebut. Jadi kalau kita berpikir mengenai pangan lestari dan desa mandiri pangan, kita mengharapkan tidak ada lagi masalah gizi. Artinya pangan yang dihasilkan petani mencukupi.

Tapi kenyataannya kami pernah melakukan penelitian angka kurangnya gizi tidak berubah. Mungkin ini karena pendidikan gizi kurang. Kami lihat harus ada integrasi yang kuat dari Kementerian Kesehatan untuk pendidikan gizi, terutama gizi seimbang. Kami akan melakukan kerjasama dengan Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian. Saat rekan-rekan di Kementerian Pertanian mengembangkan program-programnya, kita akan masuk untuk memberikan pendidikan mengenai gizi seimbang. Salah satu bentuk pendidikannya adalah kami meminta supaya hasil panennya jangan dijual semua. Penuhi konsumsi rumahtangga terlebih dahulu, setelah itu baru dijual.

Apa kendalanya yang membuat petani sulit memenuhi kebutuhan gizinya dari hasil produksinya sendiri?

Kita berharap petani bisa mengolah hasil panennya untuk kebutuhan hidup keluarga. Itu artinya hasil panennya tidak langsung dijual. Tapi hal ini belum kami temui. Rata-rata petani langsung menjual hasil panennya, nanti ketika perlu pangan mereka akan beli.

Merubah perilaku orang miskin sangat sulit luar biasa. Saya sudah datang ke Kupang Nusa Tenggara Timur. Saat ke sana, saya tanya beberapa warga apakah mereka menanam sayuran? Mereka menjawab menanam. Ketika ditanya ke mana hasil tanamannya tersebut, mereka menjawab dijual semua, uangnya untuk kebutuhan lainnya. Sedangkan untuk pangan harian, mereka mengatakan membeli makanan yang sudah jadi.

Apa harapan Anda mengenai pemenuhan gizi di kalangan petani mengingat petani adalah produsen pangan nasional?

Harapannya adalah agar petani Indonesia tidak saja berperan sebagai produsen pangan nasional. Tapi juga sebagai konsumen aktif produk pangan. Dalam artian pangan yang diproduksi tidak hanya dijual, tapi untuk memenuhi kebutuhan gizi keluarganya. Harapan lainnya agar masyarakat petani dapat memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan yang tersedia seperti Posyandu dan Puskesmas, serta berpartisipasi aktif dalam program-program kesehatan dan gizi. Tia/Yul

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

Editor : Julianto

BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018