”Sekarang lahan saya di atas 100 ha dari hanya 1,6 ha. Ini semua berkat saya jadi petani tebu,” kata Slamet, Sarjana Pertanian yang memilih menjadi petani tebu di Malang, Jawa Timur.
Sewa lahan yang semakin mahal tidak jadi halangan bagi Slamet untuk terus menanam tebu. Mahalnya sewa lahan di kota ini tidak lain karena derasnya laju alih fungsi lahan tebu menjadi perumahan dan peruntukan lain. “Luas lahan untuk tebu semakin menyusut,” katanya kepada Sinar Tani.
Untuk luas hanya 0,8 ha, sewanya sudah mencapai Rp 85 juta per tiga tahun. Atau Rp 28 juta lebih per tahun. Padahal sewa lahan di daerah lain tidaklah setinggi itu. Di Jawa Barat misalnya sewa lahan untuk tanam tebu masih Rp 6 juta per ha per tahun untuk lahan kelas 1 dan hanya Rp 3 juta per ha per tahun untuk lahan kelas 3. “Padahal produktivitas tebunya sama,” ungkap Slamet.
Di Medan, Sumatera Utara sewa lahan untuk budidaya tebu bahkan masih sangat murah, yakni hanya Rp 1,5 juta per ha per tahun. Itupun sewanya baru dibayar saat panen.
Slamet mengatakan produktivitas tebu lahannya di atas 1.000 kuintal tebu per ha. Dengan produktivitas yang tidak berbeda jauh dengan tempat lain, sementara sewa lahannya mahal, maka menurut Slamet petani tebu di Jawa Timur harus bisa menyesuaikan biaya yang dikeluarkan dengan pendapatan yang diperoleh.
Waktu itu, di era tahun 80-an, ujar Slamet sewa lahan di tempatnya masih Rp 650 ribu per ha. ”Dengan sewa lahan itu saya dapat keuntungan Rp 7,5 jutaan/ha,” katanya.
Itulah masa pertama kali Slamet menjadi petani tebu dan menuai kesuksesan. ”Karena sukses dan pabrik gula (PG) tahu bahwa saya juga seorang sarjana pertanian, saya dipinjami dana dari PG Rp 25 juta,” kisahnya.
Pinjaman dana itu digunakan Slamet semuanya untuk menyewa lahan. ”Setelah panen, saya setor dan lunas dalam satu tahun,” katanya. Lalu Slamet pun dipinjami dana lagi dari Pabrik Gula sebanyak Rp 15 juta. Dana itu dibelikan traktor tangan. Dia juga menggunakan dananya sendiri untuk membeli 3 traktor serupa.
Untuk informasi yang lebih lengkap baca EDISI CETAK TABLOID SINAR TANI (berlangganan Tabloid SINAR TANI. SMS ke : 081317575066).
”Sekarang lahan saya di atas 100 ha dari hanya 1,6 ha. Ini semua berkat saya jadi petani tebu,” paparnya.
Kebahagiaannya menjadi petani tebu terasa semakin manis, dengan adanya organisasi tebu Asosiasi Petani Tebu Rakyat (APTR) tahun 1994. Slamet pun berkarir menjadi ketua APTRI di tingkat cabang dan daerah. ”Dengan adanya organisasi tebu, kalau kita jujur-jujuran petani tebu itu diiri sama orang PG. Lelang hari Senin, setiap hari Selasa, kita ambil uang dan bawa pulang uang satu tas kresek hitam. Siapa bilang jadi petani tebu tidak enak,” katanya.
Editor : Ahmad Soim