Siapa bilang di ibukota negara, DKI Jakarta tidak bisa bertani? Buktinya, H. Ramin bisa bercocok tanam di tengah hiruk-pikuknya metropolitan.
Berlokasi di Kecamatan Kramat Jati, Jakarta Timur menjadi lokasi tempat tinggalnya sebagai usaha budidaya tanaman, khususnya hortikultura. Lahir dari keluarga petani, di Jakarta 12 November 1942 membuat Ramin sudah terbiasa dengan kehidupan bertani.
Karena itu setelah memasuki masa pensiun dan berbekal pengalaman di dunia Farmasi, Ramin memulai bertani di lahan rumah luasnya kurang lebih 1.500 m2. Di landasi dengan tujuan sederhana yaitu memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari, dia memulai budidaya tanaman dengan menanam sayuran, memelihara ikan, dan mengolah pupuk dari limbah rumah tangga.
Kegiatan Ramin tersebut membuat kalangan ibu rumah tangga tertarik. Pada 12 November 2002 terbentuklah komunitas cinta menanam yang terdiri dari ibu-ibu dan relawan. Pada mulanya kelompok ini tidak diberi nama, mengingat banyaknya pandangan miring tentang kelompok tani yang berada di wilayah padat penduduk dan mayoritas adalah pedagang. Saat awal berdirinya kelompok tani, Ramin hanya mengembangkan tanaman cabai rawit, cabai hijau, kangkung dan bayam.
Limbah Kulit Bawang
Titik awal keberhasilan usahatani dimulai pada tahun 2004. Saat itu Ramin membuat pupuk dengan memanfaatkan limbah kulit bawang merah. Selama ini limbah hasil pengupasan bawang merah dari penduduk sekitar kerap menimbulkan bau kurang sedap.
Ramin mengungkapkan, pada awal pembuatan pupuk dengan limbah kulit bawang merah ini ternyata memakan waktu cukup lama hingga 1 bulan. Selain itu masih adanya bau dari limbah tersebut.
Karena itu Ramin kemudian berusaha mengeksplorasi pengetahuan di bidang farmasi, dengan membuat proses melalui cara Fermentasi Bioaktifator. Ini dilakukan pada tahun 2005. Hasilnya cukup menggembirakan. Selain tingkat kesuburan tanaman meningkat juga adanya percepatan proses pembuatan pupuk dari 1 bulan menjadi hanya 10 hari. Meski bau yang ditimbulkan masih ada.
Dari hasil ujicoba terus-menerus, Ramin akhirnya menemukan proses pembuatan pupuk secara Maserasi (yaitu proses mengambil sari dari limbah kulit bawang merah, kotoran ternak sapi). Dengan menggunakan metode tersebut, proses pembuatan pupuk bisa lebih cepat dari 10 hari menjadi 3 hari, bau limbah kulit bawang dan kotoran sapi juga hilang, pupuk tersebut bisa digunakan sebagai media tanam, dan pupuk cair hidroponik.
Perjalanan mengolah pupuk organik tidak berhenti di situ saja, sejalan dengan bantuan peternakan kelinci, Ramin kemudian berpikir untuk mempelajari kegunaan limbah kelinci. Dengan metode otodidak dan trial dan error, akhirnya dapat metode dan komposisi pupuk dengan menggunakan limbah kulit bawang, kotoran sapi dan kotoran kelinci. Akhimya di tahun 2013 Produksi pupuk organik mendapatkan sertifikat uji laboratorium Balittanah Balitbangtan dan uji penanaman oleh BPTP DKI Jakarta terhadap tanaman cabai dan sayuran.
Dengan semangat dan keuletan untuk memajukan usahatani, dan terus berinovasi membuahkan prestasi. Ramin mendapat penghargaan Peringkat Pertama Pemanfaatan Pekarangan di DKI Jakarta Tahun 2012, Peringkat Pertama Pengembangan KRPL di Jakarta Balitbang Kementan Tahun 2014. Peringkat Pertama Inovasi Teknologi Pertanian di Dinas Kelautan dan Pertanian Provinsi DKI Jakarta Tahun 2014. Terakhir Ramin menjadi salah satu Petani Berprestasi Tahun 2015 tingkat Nasional. Yul
Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066
Editor : Julianto