Basrani, lahir tahun 1975 di Desa Sungai Tuak yang terletak di pulau kecil sebelah timur ibukota Kabupaten Paser. Karena akses transportasi hanya melalui air, perkembangan di desa ini sangat lambat.
Desa Sungai Tuak berada di pinggiran Sungai Kandilo dengan luas wilayah 650 ha. Dominan terdiri dari dataran rendah. Tingkat kesuburan tanah relatif rendah. Desa ini berjarak 0,5 km dari ibukota Kecamatan Tanah Grogot, 1 km dari ibukota Kabupaten Paser dan 276 km dari ibukota Provinsi Kalimantan Timur. Mayoritas penduduknya adalah petani padi sawah pasang surut.
Meski serba terbatas, bukan berarti Basrani putus atas. Justru dengan keterbatasan tersebut menjadi pemicu untuk lebih maju. Sejak duduk di bangku SD kelas VI, Basrani kecil mulai membantu orangtuanya di sawah hingga tahun 1987 pada usia 12 tahun, dia sudah mengelola lahan milik orangtuanya seluas 0,25 ha untuk digarap sendiri.
Pada tahun tersebut di Desa Sungai Tuak masih menanam padi lokal yang umurnya sampai enam bulan. Dalam menggarap tanpa menggunakan alat pengolah lahan, hanya memakai tajak untuk menebas rumput.
Ubah Kebiasaan Petani
Pada tahun 1991, Basrani menanam padi lokal varietas Pance Puteh yang umurnya enam bulan dengan menanam bibit padi umur 23 hari setelah semai. Padahal kebiasan petani kebanyakan menggunakan bibit yang berumur 40-50 hari. Ternyata tanaman padinya menghasilkan jumlah anakan lebih banyak dan produksinya lebih tinggi dibandingkan petani lainnya.
Sejak itulah banyak petani mengikuti Basrani menaman padi dengan umur bibit lebih muda. Basrani yang gemar mencari informasi tentang pertanian suka membaca, baik brosur pertanian maupun Tabloid Sinar Tani. Dia juga kerap mencoba sesuatu yang baru, meski hal tersebut tidak langsung berhasil.
Namun Basrani selalu berkeinginan mencoba lagi dan menyesuaikan dengan kondisi spesifik lokasi di tempatnya. Terutama mencoba varietas-varietas padi sawah yang unggul yang berumur genjah dan mengurangi pemakaian varietas lokal yang berumur panjang. Kemudian apa yang dicobanya tersebut disampaikan kepada petani lainnya, dengan harapan mereka mau mengikuti.
Basrani mengakui, tidak mudah menyampaikan suatu informasi atau inovasi pertanian kepada petani lain. Apalagi kebanyakan petani-petani sudah tua dan merasa lebih berpengalaman dari Basrani. Tapi dia selalu berusaha sesuai anjuran penyuluh atau informasinya yang didapatnya. “Lebih baik kita berbuat dan orang lain akan melihat hasilnya,” ujarnya.
Basrani juga mengajak anak-anak yang putus sekolah SD atau SMP menjadi petani untuk menggarap lahan orangtua mereka. Bagi Basrani anak muda lebih mudah menerima informasi pertanian dan mau mencoba yang baru, sehingga mereka dapat memberi contoh pada orangtuanya.
Upaya yang dilakukan itu selama lebih kurang 10 tahun terakhir, akhirnya mulai menuai hasil. Anak-anak putus sekolah tersebut sekarang bisa bertani dan menjadikan sebagai pekerjaan pokok.
Alat HA
Basrani juga mengembangkan Sekolah Lapang Pengelolaan Tanaman Terpadu (SL-PTT) Padi Sawah tahun 2010 dengan pola tanam jajar legowo. Untuk memudahkan menanam pola jajar legowo dia membuat inovasi bersama temannya Sarif untuk membuat alat bantu patok pola tanam jajar legowo yang disebutnya alat HA.
Alat HA adalah patok yang dibuat dari kayu atau besi berbentuk huruf H, sebagai patok untuk mengikat tali membuat pola jajar legowo sebelum padi ditanam. Kemudian juga bersama temannya Baco Tang, dia membuat alat garu yang terbuat dari kayu yang berfungsi meratakan tanah yang bisa diatur posisinya dengan menarik tali yang diletakkan pada handtractor. Pada lahan yang tidak rata, garu diturunkan tapi pada lahan yang`sudah rata, garu ditarik dengan tali.
Pada tahun 1998, Basrani diberi kepercayaan sebagai Bendahara Kelompok Tani Malisiparappe sampai kini. Kemudian pada tahun 2008 Basrani dipilih sebagai Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) yang terdiri dari 10 kelompok tani se Desa Sungai Tuak.
Pada tahun 2012 pembentukan Kelompok Usaha Penangkar Benih Padi, Basrani diangkat sebagai Sekretaris. Sedangkan pada tahun 2010, Basrani terpilih sebagai Sekretaris KTNA Kecamatan Tanah Grogot sampai sekarang.
Basrani banyak membantu PPL dalam kegiatan Sekolah Lapang Pengelolaan Tanaman Terpadu (SL-PTT) maupun Sekolah Lapangan Pengendalian Hama Terpadu (SL-PHT). Bahkan tahun 2012 Basrani diangkat sebagai petani pengamat hama oleh Balai Proteksi Tanaman dan pada tahun 2014 ditunjuk sebagai penyuluh swadaya Desa Sungai Tuak. Hari Saktiawan/Yul/Profil Penyuluh Swadaya Berprestasi 2015
Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066
Editor : Julianto