Kalau ada sosok yang “betah” tinggal di lahan gambut, Supardi lah salah salahsatunya. Berkat ketekunannya dalam menggarap tanah milik yang diakuinya tak subur itu maka kini ia bisa menjadikan lahannya sebagai ladang “emas”.
“Bukan emas sungguhan. Tapi maksudnya saya bisa mendulang banyak penghasilan dari lahan gambut milik saya ini,” kata Supardi dalam perbincangan dengan Sinar Tani di sela acara FGD tentang Pengelolaan Lahan Gambut, di Kota Kuala Kapuas, Kalimantan Tengah, belum lama berselang.
Di lahannya yang kini mencapai luasan total delapan hektar Supardi yang bertempat tinggal di Desa Mintin, Kecamatan Pesarang, Kabupaten Kapuas itu saat ini telah berhasil melaksanakan kegiatan pertanian terpadu. Yang diusahakannya bukan hanya tanaman padi tetapi juga cabai, nanas dan tanaman karet.
“Saat ini penghasilan terbesar adalah dari usaha tanaman nanas dan cabai. Tapi saya tak pernah mengabaikan tanaman padi saya karena beras sudah jelas merupakan kebutuhan pokok keluarga saya,” tutur ayah lima anak itu.
Menjadi petani meneruskan usaha ayahnya, pria 65 tahun ini turut merasakan sulitnya manakala mulai merintis usaha budidaya tanaman pangan di lahannya. Berbeda dengan melaksanakan usaha tani padi di lahan sawah berpengairan teknis, menurutnya, membuka sawah di lahan gambut pada awalnya memerlukan perlakuan khusus terutama dalam membuat saluran drainase (parit-parit) dan pengaturan tata air serta memperhatikan kematangan tanah.
Tahapan-tahapan teknis selanjutnya tak jauh beda dengan kegiatan budidaya di lahan mineral seperti melakukan pemupukan, pencegahan serangan hama dan penyakit serta pemeliharaan tanaman sesuai tahapan usia tanaman.
Tetapi karena memang pada dasarnya lahan gambut itu tingkat kesuburannya rendah maka hasil panennya lebih rendah dibanding usaha tani di sawah berpengairan teknis seperti di Jawa. Untuk setiap hektar rata-rata perolehan hasil panen padi Supardi di kisaran 2-2,5 ton GKP.
Varietas Lokal
“Karena itu sulit kalau kita hanya mengandalkan dari hasil padi. Inilah yang mendorong saya menekuni kegiatan penanaman cabai dan nanas serta mengembangkan usaha perkebunan karet,” tutur kakek 10 cucu itu.
Saat ini varietas padi yang diusahakannya adalah varietas lokal beras merah “menyahi”. Dalam melaksanakan usaha tani padi sawahnya ini ia dibantu oleh anak dan juga menggunakan tenaga kerja di sekitar tempat tinggalnya. “Musim kemarau kali ini hama tanaman padi sangat kurang sehingga hasil produksi cukup tinggi lebih dari 2 ton gabah per hektar,” jelasnya.
Tergabung dalam wadah Kelompok Tani “Mandiri” Supardi dan sesama anggota kelompok taninya menyadari betul pentingnya menjaga keberlanjutan lahan usaha tani yang dirintisnya dengan susah payah tersebut. “Saya selalu menghimbau kepada teman-teman untuk tidak melakukan hal-hal yang menyimpang seperti melakukan pembakaran lahan karena yang akan menanggung rugi adalah kita sendiri. Karena kita tahu lahan kita ini amat mudah terbakar kalau tidak dikelola secara benar,” tegas Supardi. Ira
Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066
Editor : Julianto