Thursday, 22 October 2026


Ketua Umum KTNA, Winarno Tohir - Kami Akan Selalu Suarakan Petani

08 Jan 2016, 15:14 WIBEditor : Julianto

Melalui rembug yang berlangsung di Asrama Haji Donohudan, Solo, Jawa Tengah, selama empat hari dari Kamis (5/11) hingga Minggu (8/11), akhirnya Winarno Tohir kembali terpilih menjadi Ketua Umum Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA). Terpilihnya pria asal Indramayu ini untuk yang  kesekian kalinya.

Sebagai salah satu organisasi petani, KTNA memang cukup berpengaruh bagi dunia pertanian. Bukan hanya sebagai advokasi bagi petani, KTNA juga sangat berperan dalam membantu pembangunan pertanian. Bahkan banyak anggota organisasi yang berdiri sejak tahun 1981 yang berkontribusi nyata, termasuk menjadi penyuluh swadaya. Bagaimana kiprah KTNA ke depan? Berikut wawancara Sinar Tani dengan Winarno Tohir.

Organisasi KTNA sudah cukup lama berdiri, bahkan sejak era Pemerintahan Soeharto. Di bawah kepemimpinan Anda untuk ketiga kalinya, mau dibawa ke mana organisasi ini?

KTNA dalam posisi mandiri murni. namun kita bekerjasama dengan Pemda kabupaten dan propinsi dan pemerintah pusat dalam upaya pemberdayaan petani. KTNA yang notabenenya sebagai penyuluh swadaya. Jadi dimotori atau tidak dimotori KTNA akan jadi mitra kerja dalam pelaksanaan program pemeritah, terutama dalam program Upsus Pajale. Kita akan melaksanakan langsung di lapangan. Sudah pasti masalah di lapangan bervariasi, dalam hal air, pengolahan lahan, ketersediaan benih unggul  juga pupuk. Jadi satu sisi kita bukan hanya untuk pelaksanaan program pertanian, tapi juga memberikan masukan kepada pemerintah. Saat ini masih terlihat pertanian kita belum efisien, termasuk dalam penggunaan pupuk.

Di lapangan masih banyak persoalan krusial yang perlu segera diselesaikan, menurut Anda bagaimana?

Sarana produksi memang masih tetap menjadi masalah utama. Sekarang ini ada masalah pupuk SP 36 yang sulit didapatkan di lapangan. Padahal pupuk tersebut sebagai pupuk dasar dalam peningkatan produktivitas. Pupuk juga harus tersedia tepat waktu. Dengan pertambahan luas tanam, maka produksi juga harus ditambah. Karena itu kapasitas  produksi pabrik pupuk juga harus ditambah.

Begitu juga soal benih. Pertanian ke depan, benih menjadi barang strategis. Karena jika petani tidak mendapatkan benih unggul, produksi akan turun. Harga gabah pun turun, sehingga merugikan petani. Jadi perlu dipikirkan, BUMN benih bisa melayani petani dengan baik. Jika BUMN benih yang ada sekarang tidak bisa melayani, maka dapat dicari BUMN lain yang mampu. Ini yang harus kita selesaikan.

Itu dari sisi on farm. Bagaimana dari sisi of farmnya?

Memang masalah lain yang kita harus hadapi saat panen, terutama saat musim hujan. Pemerintah memang telah membantu dryer, tapi kalau hanya dryer tidak menguntungkan dalam usaha tani, apalagi dimiliki perorangan. Kecuali pengeringan dibarengi dengan RMU, sehingga kualitasnya bisa lebih baik. Kita juga harus efisien dalam penanganan. Sekarang ini kehilangan hasil panen mencapai 9-12 persen atau rata-rata 10 persen. Tapi dengan adanya proses panen, kehilangan hasil bisa ditekan 3-4%.

Dari sisi tata niaga seperti apa?

Tata niaga harus benar-benar. Harga jual hasil panen petani masih menjadi masalah. Karena kesejahteraan petani sangat tergantung harga jual. Kalau harga jual petani rendah, tidak menguntungkan. Petani juga tidak bersemangat dalam berusaha tani. Karena itu harga komoditias pertanian, terutama Pajale harus dapat pengawasan, perlindungan dan pengamanan. Pengawasan jangan sampai harga jatuh. Pengamanan harus ada yang membeli.

Bagaimana prediksi Anda tahun 2016?

Dengan kondisi iklim yang sudah berubah. Tanam padi tidak lagi Oktober-Maret, tapi dimulai Desember. Untuk memulai tanam tidak lepas dari ramalan BMKG, Indonesia terlambat dalam memberikan informasi. Apakah informasi untuk menyenangkan publik atau level keakuratannya terbatas, sehingga BMKG luar negeri yang memberikan informasi bahwa tahun ini akan terjadi El-Nino kuat bahkan sangat kuat. Awalnya BMKG Indonesia memberikan terjadi El-Nino moderat, lalu berubah jadi El-Nino sedang, terakhir malah kuat dan puncak El-Nino Desember yang fenomenanya akan terasa sampai April. Saya berharap BMKG memberikan informasi apa adanya. Karena jika sejak awal BMKG menginformasikan akan ada El-Nino kuat, maka petani bisa mengantisipasi dalam usaha tani. Tidak seperti sekarang. Petani sudah tanam, malah yang terjadi terkena kekeringan.

Dengan kondisi pertanian kita belum efisien. Bagaimana kesiapan kalangan petani menghadapi MEA?

Kita  belum tahu kebijakannya bagaimana? Tapi dengan kondisi usaha tani kita yang belum efisien, kalau dihadapkan langsung dengan produk dari negara Asean lainnya, kita akui akan kerepotan, karena  efisiensinya kurang. Karena itu pemerintah harus memberikan perlindungan kepada petani. Jepang, sebagai negara kaya juga memberikan perlindungan kepada petani dengan memberikan subsidi. Kita berharap pemerintah masih memberikan subsidi kepada petani, terutama untuk pupuk dan benih.

Tapi dengan adanya bantuan alsintan, pompa air, mesin tanam, mesin panen, dan bantuan lainnya memang kita bisa lebih efisien.  Namun kita juga harus lebih efisien dalam setiap langkah usaha tani, misalnya soal air dan dalam menghadapi hama penyakit. Apalagi kondisi perubahan iklim, kini hama penyakit makin besar dan tidak normal. 

Apa upaya lebih lanjut menyuarakan petani?

Hasil rembug KTNA di Boyolali. Kita sepakat membentuk tiga asosiasi yakni, Asosiasi Petani Padi, Asosiasi Petani Jagung, dan Asosiasi Petani Kedelai. Ketiga asosiasi ini kita harapkan ke depan bisa berkomunikasi dengan importir. Jangan sampai kejadian seperti jagung, data Ditjen Tanaman Pangan, produksi dan impor sama-sama datar. Tidak ada korelasi produksi dan impor. Produksi naik terus, tapi impor jalan terus. Artinya importir tidak pernah menganggap produksi dalam negeri. Jadi tugas asosiasi ini bisa berkomunikasi dengan importir. Jadi bukan kita melarang impor, tapi sebelum ada impor, produksi dalam negeri harus dibeli dulu. KTNA sepakat menyuarakan suara petani, ke eksekutif dan legislatif. Yul

Hasil Rembug KTNA - Asa Petani untuk Pemerintah dan Swasta

Perkembangan teknologi pertanian makin pesat. Salah satunya dalam hal bioteknologi. Petani pun mempunyai harapan dalam perkembangan bioteknologi ini, terutama dalam menghadapi perubahan iklim. Manfaat bioteknologi komoditas pangan dalam rangka antisipasi perubahan iklim sangatlah berpengaruh besar terhadap eksistensi petani, terutama selain untuk menjaga kelestarian ketahanan pangan nasional juga dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) yang mulai berlaku Desember tahun 2015. Harapan tersebut tertuang dalam rembug KTNA di Boyolali, beberapa waktu lalu.

  1. Meningkatkan anggaran penelitian, khususnya bioteknologi komoditas pangan dalam rangka antisipasi perubahan iklim pada institusi pemerintah baik di tingkat pusat sampai daerah dengan  melibatkan kelompok-kelompok tani di daerah.
  2. Memberikan kemudahan pada swasta yang berminat dalam pengembangan  bioteknologi komoditas pangan yang bermitra dengan kelompok tani di wilayahnya. Terutama  dalam menghasilkan bibit-benih yang tahan  terhadap dampak perubahan iklim serta mengurangi impor komoditas pangan bioteknologi (seperti jagung, kedelai, kapas dan lain-lain) yang menguras devisa negara.
  3. Peran Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) supaya ditingkatkan baik anggaran maupun perannya dalam memberikan informasi kepada masyarakat petani. Sebab keterlambatan informasi tentang perubahan iklim, baik pemanasan global, kekeringan dan pendinginan global, dampaknya sangat besar dirasakan oleh 17,8 juta Rumah Tangga Petani di Indonesia;
  4. Komitmen penurunan emisi karbon sampai 41% oleh pemerintah supaya ditingkatkan dengan melalui kerjasama dengan Negara-Negara Maju dalam Skema Persetujuan Protokol Kyoto dan Putaran Tahunan Konvensi Perubahan Iklim.
  5. Komitmen Pemerintah dalam melaksanakan kebijakan moratorium pemanfaatan lahan gambut dengan fokus pada pengelolaan lahan gambut berkelanjutan supaya terus ditingkatkan dalam rangka antisipasi perubahan iklim, sehingga petani tidak terganggu dalam melaksanakan usahataninya di lahan gambut.
  6. Pemerintah meningkatkan dan mengembangkan secara masif, program tanam benih langsung (Tabela) untuk mengurangi dampak akibat pengolah lahan yang tidak ramah lingkungan.
  7. Pemerintah, mengembangkan dan meningkatkan Sekolah Lapang Perubahan Iklim di setiap wilayah dengan melibatkan kelompok tani.
  8. Pemerintah melalui Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang bergerak dalam perbenihan, meningkatkan produksi benih-bibit rekayasa genetik yang tahan terhadap kekeringan atau banjir yang bersubsidi untuk petani, sehingga harga terjangkau.
  9. Pemerintah dan swasta bekerjasama dengan kelompok tani mengembangkan dan memelihara hutan bakau sebagai pencegah degradasi pantai dan salinitas lahan.
  10. Pemerintah dan swasta bekerjasama dengan kelompok tani mengembangkan pupuk organik dan mulai mengurangi ketergantungan terhadap pupuk kimia sebagai penyumbang produksi gas rumah kaca (GRK), di masa yang akan datang.

Dampak perubahan iklim hampir semua komoditas pertanian terkena. Karena itu  prioritas pertama adalah komoditas strategis (padi, jagung, kedelai, tebu, kelapa sawit, cabai, bawang merah) dan tahap kedua komoditas ekspor. ***

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

Editor : Julianto

BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018