Jauh sebelum orang ramai membahas tentang kegiatan agribisnis dengan pola integrasi sapi-sawit, Sutimanto diam-diam sudah aktif melaksanakan usaha peternakan sapi potong yang diintegrasikan dengan usaha perkebunan kelapa sawit.
Berkat kepiawaiannya dalam memadukan usaha peternakan sapi dengan bisnis kelapa sawit, berbagai kesuksesan pun bisa diraih dan menjadikannya mampu menyandang status sebagai “Petani Berprestasi Tingkat Nasional Tahun 2013”.
Bertempat tinggal nun jauh di sana, di kawasan daerah transmigrasi Dusun Suko Rejo, Kabupaten Sijunjung, Provinsi Sumatera Barat, tak terbayangkan oleh Sutimanto bisa bertatap muka langsung dengan Presiden RI menyusul dirinya ditetapkan oleh pemerintah pusat sebagai Petani Berprestasi Tingkat Nasional Tahun 2013.
Pria kelahiran Wonogiri, Jawa Tengah 40 tahun lalu itu merasa biasa-biasa saja dalam menjalankan profesinya sebagai petani. Berbekal ijazah sekolah dasar (SD) dan lahan usaha yang diturunkan dari orang tuanya yang merupakan peserta transmigrasi Swakarsa Mandiri asal Kabupaten Wonogiri, Sutimanto setiap hari sibuk mengurus usaha perkebunan sawit dan usaha peternakan sapi potong.
Tanpa terasa, dari satu ekor kini populasi sapi potong di kandangnya sudah bertambah hingga menjadi 20 ekor. Sapi-sapi yang dipeliharanya berkualitas luar biasa hingga hampir setiap tahun bisa menjadi juara kontes ternak baik tingkat kabupaten maupun Provinsi Sumatera Barat. Pada tahun 2013 misalnya, sapi Bali peliharaannya berhasil meraih juara I Kontes Sapi Bali Tingkat Kabupaten Sijunjung. Hadiah-hadiah yang diperoleh dari kegiatan kontes ternak kemudian dijadikan modal untuk pengembangan kegiatan bisnis sapi potongnya.
Keberhasilan Sutimanto dalam melakukan pengembangan usaha sapi potong antara lain karena ayah satu anak ini mengintegrasikan aktivitas usaha peternakan sapi dengan bisnis usaha perkebunan sawit miliknya. Dengan cara demikian ia bisa menghemat pengeluaran biaya usaha peternakan dan perkebunan sekaligus melaksanakan usaha perkebunan sawit yang ramah lingkungan.
Bisa Berhemat
Ia bisa berhemat karena selain rumput, ternak sapinya selalu diberi makan silase yang dibuat dari pelepah pohon sawit. Sementara kotoran ternak sapi yang dihasilkan dari peternakannya diolah menjadi pupuk organik yang bisa dimanfaatkan untuk pemupukan tanaman kelapa sawit serta untuk menghasilkan biogas sebagai sarana penerangan kandang dan memenuhi kebutuhan bahan bakar rumah tangga.
Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066
Editor : Julianto