Malu bertanya sesat di jalan. Sepenggal kalimat ini selalu diingat oleh Alamsya, sehingga petani asal daerah Babel tersebut menjadi orang yang paling senang menggali ilmu dari berbagai sumber. Hasilnya, oleh pemerintah pusat belakangan ia ditetapkan sebagai salah satu penerima penghargaan “Petani Berprestasi Tingkat Nasional 2013”.
Ketika memutuskan hijrah profesi dari pekerja perkebunan swasta menjadi petani mandiri, Alamsya menyadari bahwa dirinya benar-benar tanpa ilmu dan keterampilan untuk melaksanakan kegiatan usaha budidaya tanaman pangan. Karena itu, pria 36 tahun ini kemudian giat “berpetualang” mencari sebanyak mungkin informasi seputar teknik tanam-menanam ke banyak pihak.
Ia selalu aktif mengikuti forum-forum penyuluhan pertanian di pedesaan, kegiatan-kegiatan pertemuan di Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) tak pernah dilewatkannya dan setiap ada kesempatan selalu dimanfaatkannya untuk berkonsultasi dengan penyuluh atau bahkan aparat dinas pertanian di tingkat kecamatan.
Melakukan “curhat” dan berdiskusi dengan petugas lapangan dinilainya penting karena dengan demikian ayah satu anak yang tinggal di Desa Kembiri, Kabupaten Belitung, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) ini bisa dengan cepat mendapat solusi bila berhadapan dengan masalah ketika menjalankan usaha taninya.
Tak puas dengan semua pengetahuan yang didapatnya, lulusan SLTP ini kemudian juga begitu bersemangat mengikuti berbagai kegiatan pelatihan untuk dapat meningkatkan hasil produksi tanaman yang diusahakannya. Antara lain ia tercatat pada 2011 menjadi peserta Sekolah Lapangan Pengendalian Hama Terpadu (SL-PHT) Padi Sawah yang dilaksanakan Dinas Pertanian, Perkebunan dan Peternakan UPTD Balai Proteksi Tanaman Provinsi Kep. Babel. Ia juga pernah mengikuti kegiatan SL-PHT Lada yang diselenggarakan oleh Ditjen Bina Produksi Perkebunan Prov. Kep. Babel.
Aneka Komoditi
Tambahan pengetahuan dan keterampilan yang diperolehnya dari mengikuti berbagai kegiatan pelatihan tersebut tak kemudian hanya disimpannya sendiri. Ayah satu anak ini kerap berbagi ilmu dengan rekan seprofesinya yang tergabung dalam wadah kelompok tani dan gabungan kelompok tani (Gapoktan) di setiap kesempatan. Tak mengherankan bila kemudian suami dari Yusman yang juga asal Desa Kembiri ini didaulat oleh petani di desanya untuk menjadi Ketua Kelompok Tani “Kelubi Makmur”.
Aktivis organisasi kelembagaan petani ini menjadi sosok tak hanya piawai dalam menjalankan usaha tani padi sawah, tetapi juga sukses dalam mengembangkan kegiatan budidaya tanaman keras seperti sengon dan tanaman lada.
Di lahan yang dimilikinya kini aneka komoditi (pertanian, perkebunan dan kehutanan) dihasilkannya yakni komoditi lada, karet, sengon dan tentunya padi sawah. Dari tanaman ladanya yang mencapai luasan 1,5 hektar (3.000 batang) ia bisa memperoleh penghasilan sekitar Rp 93 juta per musim. Sementara dari tanaman padi sawahnya di area 0,5 hektar setiap musim ia bisa mendapatkan penghasilan tak kurang dari Rp 10 juta.
Kendati telah meraih hasil memuaskan dari kegiatan usahatani yang dijalankan, namun Alamsya tetap merasa perlu terus bisa mengembangkan kegiatan agribisnis yang dijalankan melalui jalinan kerjasama lebih erat dengan pihak-pihak terkait.
Keaktifannya sebagai anggota koperasi pertanian di desanya tak lain karena ia berkeinginan agar koperasi sebagai lembaga ekonomi petani di pedesaan bisa tetap kokoh berdiri melayani segala kebutuhan petani dan suatu saat bisa menjadi jembatan agar dirinya bisa menjalin kerjasama dengan pihak-pihak lain yang mendukung usahanya. Terus belajar Alamsya, lanjutkan perjuanganmu! Ira
Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066
Editor : Julianto