Jangan memandang sebelah mata komoditas kentang. Dari mengusahakan tanaman hortikultura yang satu ini, Suhendar mampu menunjukkan eksistensinya sebagai petani yang berhasil hingga dinilai oleh pemerintah pusat layak menyandang gelar “Petani Berprestasi Tingkat Nasional Tahun 2013”.
Permintaan masyarakat terhadap kentang bisa dikatakan tidak ada matinya. Produk pertanian berbentuk umbi ini setiap hari dibutuhkan bukan hanya untuk memenuhi permintaan kaum ibu rumah tangga dan pengusaha bidang kuliner, tetapi juga untuk bahan baku industri olahan di antaranya untuk memproduksi keripik kentang.
Karena tingginya demand terhadap kentang, maka tak mengherankan bila kemudian banyak petani yang fokus menekuni kegiatan usaha budidaya jenis tanaman sayuran ini. Suhendar termasuk salah satu petani yang sangat giat, bukan hanya menghasilkan puluhan ton umbi kentang tetapi bahkan sampai melebarkan sayap ke usaha penangkaran kentang untuk menghasilkan benih kentang berkualitas.
Dalam melaksanakan kegiatan usahatani kentang, pria yang bertempat tinggal di Desa Cipendawa, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat ini tak hanya menggunakan cara-cara konvensional namun juga telah menerapkan teknologi terkini sehingga pihaknya bisa menghasilkan kentang dan bibit kentang dengan kuantitas dan kualitas yang tinggi. Salah satu teknik yang hingga kini masih diterapkan adalah usaha tani dengan sistem “green house”.
Rajin Ikut Pelatihan
Setelah melalui proses penilaian yang ketat, pada tahun 2010 registrasi kebun kentang miliknya seluas 2.500 hektar telah diberikan oleh Dinas Pertanian Tanaman Pangan Provinsi Jawa Barat. Bahkan Sertifikat Produk Prima 3 untuk komoditas kentang pada tahun 2011 telah diberikan oleh otoritas kompeten keamanan pangan Daerah Provinsi Jawa Barat.
Kepiawaian dalam mengaplikasikan aneka teknologi budidaya kentang tentu tidak datang begitu saja dari langit. Ayah dua anak ini dikenal rajin mengikuti pelatihan terkait dengan kegiatan tanam menanam kentang sehingga di usia yang masih begitu muda (34 tahun) ia sudah sangat profesional menjalankan perannya sebagai petani kentang.
Pada tahun 2011 misalnya, Suhendar terpilih sebagai peserta Sekolah Lapang (SL) SOP Kentang yang diselenggarakan Dinas Pertanian TPH Kabupaten Cianjur. Pada tahun 2012 ia tercatat sebagai peserta Diklat Teknis Agribisnis Kentang di BPP Lembang. Di tahun yang sama ia juga berkesempatan mengikuti kegiatan Workshop mengenai Peran Bioteknologi dalam Pemuliaan Tanaman Kentang di Indobic.
Sukses mengembangkan kegiatan penangkaran benih kentang menjadikan Suhendar produsen benih kentang yang bukan hanya menggunakan sendiri produk yang dihasilkannya tetapi juga telah memperdagangkannya ke sesama petani kentang di daerahnya. Sejak tahun 2011 ia sudah terdaftar sebagai produsen pedagang benih kentang (bina) yang mendapat pembinaan langsung dari UPTD Balai Pengawas dan Sertifikasi Benih TPH Provinsi Jabar.
Meski tak bersedia menyebutkan nilai omset penjualan benih kentangnya, namun Suhendar menyatakan bahwa yang pasti prospek bisnis penangkaran benih kentangnya sangat menjanjikan mengingat permintaan benih kentang oleh petani dari waktu ke waktu terus meningkat. Karena itu ia tak segan berbagi ilmu jika ada petani yang tertarik ingin mendalami usaha penangkaran benih kentang.
Berkat pengetahuan dan wawasannya yang luas mengenai kegiatan usaha tani kentang khususnya dan hortikultura (sayuran dan bunga-bungaan) pada umumnya tak mengherankan bila kemudian Suhendar dipercaya oleh rekan-rekannya untuk memimpin berbagai organisasi petani seperti di Gapoktan Multi Tani Jaya yang meliputi enam kelompok tani dan luasan areal 75 hektar, ia menjabat sebagai ketua.
Melalui wadah Gapoktan yang dipimpinnya pihaknya juga aktif membina organisasi Kelompok Wanita Tani (KWT) di desanya untuk bergerak dalam usaha pengolahan hasil produksi hortikultura, di antaranya menghasilkan keripik kentang, keripik pisang dan bolu wortel. Ira
Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066
Editor : Julianto