Samsul Bahri lelaki kelahiran Banyuwangi, Jawa Timur, 54 tahun silam, pada tahun 1981 berangkat ke Pulau Harapan yakni Kalimantan Selatan tepatnya Kabupaten Tanah Laut yang merupakan lokasi penempatan warga transmigrasi asal Pulau Jawa dan Bali pertama di Kalimantan Selatan. Samsul Bahri bermukim di sebuah desa yang masih sepi kala itu yakni Desa Pantai Linuh, Kecamatan Batu Ampar. Ia begitu tekun mengayun cangkul membuka lahan perawan.
Seiring berderaknya roda pembangunan dan terbukanya daerah dari keterisolasian, Samsul berhasil mengajak ke rekan-rekannya membentuk Kelompok Tani Sari Makmur dan ia dipercaya menjadi ketua kelompok. Pada tahun 1995 ia diangkat menjadi Ketua Koperasi Unit Desa (KUD) Sekar Tani Pantai Linuh yang bergerak di bidang pembibitan karet unggul dan kelapa sawit unggul sampai tahun 2001.
Pola PIR gula Plaihari tak berumur panjang, sehingga terjadi alih manajemen dari perkebunan tebu ke pola baru yakni perkebunan kelapa sawit (inti plasma). Karier Samsul Bahri tidak berhenti sampai di situ, berkat kerja kerasnya dalam membangun perekonomian masyarakat trans di bumi Borneo, jebolan SLTA Banyuwangi itu pada tahun 2001 dinobatkan untuk memegang amanah sebagai Ketua Koperasi Agro Berseri sconder Kabupaten Tanah Laut sampai tahun 2007.
Kemudian setelah program revitalisasi perkebunan tahun 2006, Koperasi Agro Berseri berganti nama menjadi Koperasi Sawit Makmur. Sejak tahun 2007 sampai sekarang Samsul Bahri masih menjadi ketuanya. Koperasi Sawit Makmur memegang kendali di bidang pemeliharaan tanaman sawit dan pembelian tandan buah segar (TBS) dari petani plasma.
Petani Mandiri
Berkat pembinaan dari Dinas Perkebunan Provinsi Kalimantan Selatan dan pengawasan Dinas Perkebunan Kabupaten Tanah Laut, Samsul Bahri berhasil menjadi petani sawit yang mandiri. Ia bersama keluarganya membuka kebun sawit di lahan miliknya seluas 30 hektar serta kebun karet 10 hektar di Desa Pantai Linuh dan Pamalongan yang semuanya sudah menghasilkan.
Kerja keras Samsul Bahri yang sekarang sudah bergelar haji itu tidaklah sia-sia, setiap bulan keluarganya bisa meraup keuntungan rata-rata Rp. 60 juta. Ia juga berhasil mendorong anak-anaknya mengenyam pendidikan lebih tinggi dan sekarang dua dari tiga anaknya sudah menyandang gelar sarjana dan bertugas di Dinas Pendidikan dan Dinas Kesehatan Kabupaten Tanah Laut. Tidak cukup sampai di situ, tetapi Samsul berjuang terus untuk kepentingan masyarakat terutama kaum tani di pedesaan khususnya petani sawit.
Samsul Bahri juga terpilih sebagai Wakil Ketua Dewan Pimpinan Wilayah Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (DPW Apkasindo) Kalimantan Selatan sambil aktif di organisasi, Samsul Bahri terus berjuang membagi ilmu bertani kepada masyarakat sekampungnya terutama kepada 516 anggota Koperasi Sawit Makmur yang saat ini memiliki 2.220 hektar kebun plasma kelapa sawit di Kabupaten Tanah Laut. Ayi Kuswana
Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066
Editor : Julianto