Jangan memandang suatu profesi hanya dari luar. Masuki dan tekuni dulu, baru kita akan merasakan manfaatnya. Baihaqi, lelaki asal Bengkulu Tengah mengalami sendiri betapa awalnya ia sempat ragu untuk menggeluti bidang pertanian, namun belakangan merasakan nikmatnya menjadi petani karena hasilnya ternyata mampu mencukupi kebutuhan diri pribadi dan keluarganya.
Bisa dimaklumi kalau pria 40 tahun ini semula kurang percaya diri untuk menggeluti bidang usaha pertanian mengingat latar belakang pendidikan formalnya adalah sekolah teknik bangunan. Memperhatikan modal awal yang sudah tersedia yakni berupa lahan pertanian milik orangtuanya yang cukup luas, begitu lulus dari salah satu STM di Kota Bengkulu, Baihaqi memberanikan diri mencoba terjun di bidang pertanian.
Dimulai dengan menggarap 0,5 hektar lahan sawah serta lahan perkebunan milik ayahanda tercinta, didukung ketekunan dan kedisiplinannya untuk menerapkan teknologi pertanian sesuai anjuran pemerintah maka ia sukses meraih hasil produksi yang tinggi. Dari waktu ke waktu hasil panen dari sawah dan lahan perkebunannya terus meningkat hingga sedikit demi sedikit ia mampu menabung dan pada tahun 2004 ia bisa membeli lahan kering seluas 2 hektar yang kemudian ditanaminya kelapa sawit.
Pada tahun 2009 kebun sawit miliknya sudah bisa dipetik hasilnya. Dalam kondisi pertanaman dan petikan tandan buah segar (TBS) yang baik ditambah harga jual yang cukup tinggi maka ia bisa memperoleh pendapatan besar dari panen sawit pada tahun berikutnya ia dapat memperluas lahan kebun sawitnya menjadi 2,5 hektar.
Saat ini dengan mengusahakan tiga komoditas yaitu padi, sawit dan karet maka ayah dua anak ini setiap tahun bisa memperoleh penghasilan bersih sekitar Rp 121 juta. Perolehan penghasilan yang besar dari berusaha tani padi dan kelapa sawit membuatnya kian fokus untuk tetap menggeluti bidang pertanian dan perkebunan sebagai pilihan hidupnya.
Karena dinilai sebagai salah satu petani yang mampu meraih kemajuan relatif cepat, Baihaqi kerap dijadikan sebagai tempat bertanya sesama petani di sekitar tempat tinggalnya di Desa Kertapati Mudik, Kabupaten Bengkulu Tengah Provinsi Bengkulu. Bahkan terakhir ia mendapat penghargaan dari pemerintah pusat sebagai “Petani Berprestasi Tingkat Nasional 2013”.
Membentuk Kelompok Tani
Piawai dalam bertani dan memiliki jiwa kepemimpinan yang kuat menjadikan Baihaqi inspirator bagi petani untuk membentuk wadah kelompok tani. Pada tahun 2008 bersamaan dengan terbentuknya Kelompok Tani “Talang Harapan”, Baihaqi dipercaya untuk menjadi ketua kelompok tani tersebut.
Tidak berhenti sampai di situ, pada tahun 2012 ia juga diminta untuk memimpin Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) “Bhineka” menduduki jabatan sebagai ketua. Ia juga dikenal sebagai pengurus aktif dari Koperasi Tani “Bersatu” yang perannya strategis dalam memenuhi seluruh kebutuhan sarana produksi petani di daerahnya.
Begitu banyak tugas sosial yang diembannya tidak menjadikan Baihaqi berkeluh kesah karena menurutnya, kelompok tani maupun Gapoktan merupakan suatu sarana yang penting untuk dapat memperkuat posisi petani, karenanya harus terus dikembangkan usahanya.
Lewat kelembagaan petani tersebut petani bisa belajar banyak tentang teknologi terkini yang memungkinkan petani mampu meningkatkan hasil usaha taninya. Belajar dari pengalaman orangtuanya yang petani tulen, Baihaqi melihat lahan yang luas saja tidak lantas bisa membuat petani meraih penghasilan yang tinggi bila teknik bertaninya masih mengandalkan pada cara-cara tradisional. Ira
Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066
Editor : Julianto