Beternak sapi di daerah kepulauan seperti Nunukan, bukanlah hal yang mudah. Iklim yang tidak stabil dan serangan penyakit yang sering menghadang ternak, menjadikan sebagian orang tidak memiliki ketertarikan pada usaha yang satu ini. Selain dipandang tidak bergengsi, keuntungan dari beternak sapi dipandang juga kurang menggembirakan.
Namun berbeda dengan Baso Daeng Lau atau lebih akrab dipanggil Daeng Lau, usaha peternakan sapi telah mengantarkan dirinya sukses dalam bisnis. Jalan sukses usaha ternak sapi Daeng Lau dirintis setelah ia memperoleh pergiliran pembagian sapi (pegaduhan) milik pemerintah yang berasal dari APBD II tahun 2006. Berlokasi di Mansapa Kecamatan Nunukan Selatan, usaha peternakan sapi milik anggota Kelompok Tani Jaya Makmur ini, kini berkembang dengan pesat.
Pada awalnya Daeng Lau memulai sendiri semua tahapan pekerjaan beternak sapi, dari mencari sumput, membersihkan kandang, hingga pelaksanaan kegiatan rutin lainnya. Bermodalkan satu ekor sapi betina dari hasil perguliran tersebut, Daeng Lau merintis pengembangan sapi. Hasil kerja keras dan keuletannya membuahkan hasil berupa 10 ekor sapi, terdiri dari 7 ekor sapi betina dan 3 ekor sapi jantan.
Pada tahun 2013, Daeng Lau dipercaya oleh pemerintah sebagai kontak tani peternak andalan dan menjadi pendamping PPL dalam pengembangan ternak sapi yang digulirkan pemerintah kepada masyarakat. Bahkan dalam pesta panen pedet tahun 2013, Pemerintah Kabupaten Nunukan melalui Bupati Nunukan memberikan penghargaan kepada Daeng Lau sebagai peternak andalan Kabupaten Nunukan, disaksikan oleh Kepala Dinas Peternakan Provinsi Kalimantan Timur.
Baso Daeng Lau senantiasa memperbaiki sistem dan manajemen peternakan yang dimilikinya, bercita-cita membangun pola usahatani organik yang berbasis peternakan sapi. “Merawat sapi itu harus dengan ikhlas dan perhatian karena sapi itu juga makhluk Allah”, ujar Daeng Lau di sela-sela kesibukan mengelola usaha ternaknya.
Melihat kegigihan dan semangat Baso Daeng Lau ini, Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Peternakan Kabupaten Nunukan mengajaknya membuat pilot project peternakan dengan status peminjaman lahan. Kegiatan ini dimaksudkan untuk memberikan contoh nyata kepada masyarakat bagaimana menjadi peternak yang tangguh. Daeng Lau mengajak pemuda untuk belajar di tempatnya dengan pemberian insentif sebesar Rp. 750.000/bulan. “Saya tidak mengikat mereka sebagai pegawai, saya harapkan mereka nanti menjadi peternak-peternak unggulan dan menjadikan peternakan sebagai sektor unggulan di Nunukan”, tegasnya.
Tidak Selalu Mulus
Tentu saja usaha yang dilakukan tidak selalu berjalan mulus. Apalagi para pemuda setempat masih enggan untuk menggeluti bidang peternakan. Meskipun demikian, semangat di dalamnya untuk maju tidak pernah padam.
“Empat anak muda yang ikut saya sekarang diharapkan kelak dapat menjadi kader-kader muda peternak yang akan memajukan daerah ini”, terang Daeng Lau. Dewasa ini Daeng Lau telah mempersiapkan lahan seluas 8 hektar yang nantinya direncanakan untuk menjadi pusat pembelajaran dan pengkaderan bagi peternak.
Terkait dengan pola usahatani yang digeluti saat ini, maka Daeng Lau diarahkan untuk mengembangkan sistem usahatani terpadu. Usahatani terpadu adalah suatu kegiatan di bidang pertanian yang direncanakan sesuai dengan kondisi di wilayah dan keluarga tani yang bersangkutan, dengan mengupayakan adanya hubungan yang saling menunjang, dari beberapa komoditi yang diusahakan, sehingga dapat dicapai hasil usahatani yang optimal.
Dengan kata lain, sistem pertanian terpadu adalah suatu sistem yang menggunakan pola daur ulang dengan tanaman dan hewan sebagai mitra, menciptakan suatu ekosistem yang meniru cara alam bekerja. Suatu praktek budidaya yang beragam di mana output dari salah satu budidaya menjadi input kultur lainnya sehingga meningkatkan kesuburan tanah dengan tindakan alami menyeimbangkan semua unsur hara organik yang pada akhirnya membuka jalan untuk pertanian organik ramah lingkungan dan berkelanjutan.
Dari pengalaman Daeng Lau ini diharapkan akan hadir Daeng Lau lainnya yang memiliki kecintaan dan kemandirian terhadap usahataninya. Suatu sistem bangunan yang berasal dari karakter kesepahaman pentingnya menjaga kesejahteraan ekonomi dengan tetap berupaya menjaga ekosistem hayati. Ini tidak mengherankan, mengingat sosok Daeng Lau akan datang adalah manusia yang ulet dan memiliki kemauan yang kuat. Kemauan yang kuat untuk menjadi mandiri serta memandirikan masyarakat tentu sangat layak dicontoh. Muh. Ramli
Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066
Editor : Julianto