SARWO EDI SANTOSO
Semua berawal dari kegelisahan Sarwo Edi Santoso melihat banyak petani di sekitar rumahnya yang menelantarkan lahan. Padahal kesejahteraan para petani itu sebenarnya terhitung masih tertinggal. Karena kendala irigasi, lahan itu hanya ditanami padi ketika musim hujan. Setelah itu pemiliknya memilih menelantarkan lahan dan mencari pekerjaan sebagai buruh.
Kegelisahan itu memuncak setelah montir Sarwo bertemu seorang penyuluh dari perusahaan benih sayuran. Atas dorongan penyuluh itu, pada 2008 Sarwo memutuskan untuk berhenti dari profesi montir dan secara total terjun bertanam sayur-mayur. Paria menjadi pilihan pertamanya. Bermodal pesangon Rp 3,5 juta dari tempatnya bekerja, Sarwo memperoleh keuntungan bersih Rp 8,5 juta dari lahan sewa seluas 0,25 hektar yang terletak di depan rumahnya.
Dari keuntungan yang diperoleh, Sarwo kemudian memberanikan menanam cabai. Ditambah dari tabungan yang tersisa, terkumpul modal Rp 12 juta untuk memulai bertanam cabai. Tapi, keberuntungan belum berpihak kepadanya pada waktu itu. Serangan hama dan penyakit membuat modalnya hanya kembali Rp 7,5 juta.
Namun Sarwo tidak putus asa, kegagalan pertama menanam cabai membuatnya makin tertantang. Ia kian rajin berguru kepada para petani cabai yang telah sukses. Berbagai pertemuan penyuluhan seperti field day yang diselenggarakan perusahaan benih cabai disambanginya. Karena tidak ada modal tersisa, Sarwo terpaksa menjual sepeda motornya. Namun ini jauh dari mencukupi. Sarwo akhirnya nekat berhutang sarana produksi ke toko di dekat rumahnya. Bersyukur pemilik toko percaya kepadanya. Alhamdulillah kenekatannya ini terbayar dengan hasil panen yang melimpah di tahun 2009. Dari modal Rp 54 juta, dia berhasil mengumpulkan Rp 115 juta dari panen cabai.
Mendirikan P4S
Kini Sarwo mengelola lahan seluas tiga hektar. Dua hektar di antaranya milik sendiri dan satu hektar sewa. Satu hektar dialokasikan untuk bertanam paria, oyong dan sayuran daun. Sedangkan yang dua hektar berturut-turut ditanami melon, cabai dan tomat, dengan pengolahan lahan satu kali.
Apa yang menjadi keinginan Sarwo untuk berbagi ilmu kepada petani di sekitarnya pun kini bisa terlaksana. Atas dorongan dari Balai Pelatihan Pertanian (BPP) Lampung, sebagai unit pengembangan diklat pertanian dari Kementerian Pertanian, Sarwo kini mendirikan Pusat Pelatihan Pertanian Perdesaan Swadaya (P4S) yang diberi nama P4S Dahlia. Nama ini diambil dari nama Kelompok Wanita Tani (KWT) Dahlia yang selama ini diketuai istrinya. Pada Agustus 2013 lalu, P4S Dahlia merupakan salah satu nominator P4S Teladan tingkat nasional untuk kategori Pemula dan mendapat undangan kehormatan ke Istana Negara untuk menerima penghargaan dari Presiden RI.
Sarwo yang dulu montir sepeda motor, kini telah menjelma menjadi “montir” yang mahir menangani tanaman melon, cabai dan tanaman sayuran lainnya. ***
Ahmad Suryanto - Widyaiswara BPP Lampung
Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066
Editor : Julianto