Darmono
Nama Darmono sudah tak asing lagi bagi masyarakat Desa Kolam Makmur Kecamatan Wanaraya, Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan. Sebagai petani, ia dinilai mampu menggerakkan masyarakat di daerahnya untuk mengusahakan komoditas yang menguntungkan dan mengubah pola bertani ke cara-cara yang lebih modern.
Darmono yang terlahir dari keluarga petani dan telah menyandang titel Sarjana Ekonomi (SE) ini awalnya bukan siapa-siapa, hanya anak desa namun memiliki cita-cita tinggi. Berhasrat memperbaiki nasib, ia membawa keluarganya meninggalkan Desa Duwel Bojonegoro, Jawa Timur, tempat tinggalnya yang lama bertransmigrasi ke Barito Kuala.
Sebagai daerah bukaan baru, Barito Kuala 100% berupa lahan rawa pasang surut (Rapasut) yang miskin unsur hara dan tingkat keasamannya tinggi. Penanaman padi hanya bisa dilakukan sekali setahun dan hasilnya tidak sepadan dengan terkurasnya tenaga dan modal yang dikeluarkan.
Tahun 2005 muncullah gagasan di benak pria 41 tahun itu untuk alih komoditas dari tanaman pangan (padi dan palawija) ke tanaman keras. Dari rembukan dengan anggota kelompok tani di desanya muncul ide untuk beralih mengusahakan tanaman karet dan kelapa sawit.
Jalan terjal dan berliku dilaluinya selama proses sosialisasi untuk mengajak masyarakat beralih komoditas. Kritikan muncul bukan hanya dari warga setempat, tetapi juga dari Lembaga Swadaya Mayarakat (LSM) bahkan dari kalangan birokrat. Gagasan ayah dua anak tersebut dianggap berpotensi merusak ekosistem dan lingkungan hidup di sekitar Kecamatan Wanaraya.
Namun berkat upaya tak kenal lelah ditopang mimpi besar untuk bisa mensejahterakan masyarakat Wanaraya, lambat laun pihak-pihak yang berseberangan mulai sepaham dengan gagasan Darmono. Belakangan Bupati Barito Kuala, Haji Hasannudin Murad menyetujui dilakukannya pembukaan lahan seluas 5.000 ha mencakup wilayah Wanaraya Anjir Pasar Lama dan Tamban.
Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066
Editor : Julianto