Berbekal ketekunan dan mimpi menjadi produsen besar komoditas jagung, Budiono ternyata benar-benar bisa mewujudkan angan-angannya untuk menjadi “Raja Jagung” di wilayah tempat tinggalnya saat ini.
Masyarakat Desa Gunung Raja, Kabupaten Tanah Laut, Provinsi Kalimantan Selatan begitu mengenal sosok Budiono, karena pria 40 tahun ini dinilai berhasil dalam melaksanakan kegiatan usaha budidaya tanaman jagung. Bahkan belakangan banyak yang menyebut Budiono sebagai si “Raja Jagung”.
Mengawali kariernya sebagai petani, ia mulai merintis usaha penanaman jagung di sela tanaman karet di lahan perkebunan milik orang tuanya di Desa Gunung Raja. Ternyata tanaman jagungnya dapat tumbuh subur dan menghasilkan keuntungan lumayan besar.
Jejak Budiono pun diikuti rekan petani lainnya dan 12 tahun kemudian seiring makin banyaknya petani penghasil jagung maka Desa Gunung Raja kian mampu menunjukkan kiprahnya sebagai sentra jagung pipil berkualitas dan bernilai ekonomi tinggi di Kalimantan Selatan.
Budiono sendiri tak menyangka usaha yang dirintisnya tersebut akan berbuah manis mengingat dirinya tak memiliki bekal pendidikan bercocok tanam yang cukup. Sempat mengenyam pendidikan formal di bidang ilmu fisika, cita-cita awal Budiono adalah ingin menjadi guru. Tapi dalam perjalanan waktu, cita-citanya menjadi pengajar kandas di tengah jalan dan iapun beralih profesi menjadi petani.
Ia sempat ragu menjalankan profesi barunya sebagai petani karena banyak yang berpendapat bahwa menjadi petani itu seperti jalan di tempat dan hidupnya pas-pasan. Namun dengan keyakinan kuat untuk berhasil ditambah kerja keras dan menjalin kerjasama dengan banyak pihak (termasuk dengan pabrik pakan), maka keuntungan finansial pun akhirnya mampu diraihnya. Dari bertanam jagung ia mampu meningkatkan taraf perekonomian serta kesejahteraan keluarganya.
Didukung Bupati
Kinerja positif yang ditunjukkan Budiono serta masyarakat Desa Gunung Raja mendapat perhatian pimpinan puncak Kabupaten Tanah Laut. Bupati Tanah Laut, Bambang Alamsyah, pada acara panen perdana musim tanam (MT) 2013/2014 Februari lalu menyatakan siap mendukung kiprah petani dengan menyiapkan dana APBD sebesar Rp 10 miliar untuk merehabilitasi dan membuat infrastruktur pertanian termasuk menyediakan alsintan yang diperlukan.
Ia mengajak para generasi muda di wilayahnya meniru apa yang telah dilakukan Budiono untuk memajukan desanya dengan langkah nyata seperti ramai-ramai mengusahakan pertanaman jagung. Budiono yang awalnya awam dalam kegiatan penanaman jagung kenyataannya bisa menjadi petani yang berhasil. Lahan jagung miliknya kini sudah mencapai puluhan hektar dan jika digabungkan dengan lahan milik anggota kelompok taninya sudah mencapai 200 hektar dengan rata-rata produktivitas per hektar mencapai 12-40 ton jagung pipil kering.
Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Tanah Laut, Noor Hidayat menambahkan, meskipun lahan untuk tanaman jagung kini kian menyempit, tidak berarti kemungkinan meningkatkan produksi jagung tertutup sudah. Saat ini tersedia teknologi baik modern maupun teknologi tepat guna yang bisa dimanfaatkan untuk melipatgandakan produksi sampai dua kali lipat.
Penggunaan fosfat alam misalnya, diketahui dapat meningkatkan hasil panen jagung sekaligus dapat mengurangi ongkos produksi karena berkurangnya penggunaan pupuk kimia. Teknologi tepat guna demikian perlu disosialisasikan oleh petani yang telah berhasil seperti Budiono karena biasanya petani cepat mempercayai dan menuruti apa yang dituturkan oleh petani yang dinilai berhasil dalam melaksanakan usahataninya. Ayi Kuswana/Ira
Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066
Editor : Julianto