Pernah mendengar produk makanan bernama Dangke. Bagi sebagian orang mungkin produk ini masih sangat asing. Dangke adalah keju lokal yang merupakan makanan khas masyarakat Enrekang yang bahan bakunya susu kerbau atau sapi.
Memproduksi dangke menjadi usaha keseharian Nasrudin. Dengan produknya tersebut kini dia menjadi salah satu orang yang terbilang sukses mengembangkan produk pangan berbahan baku susu.
Awalnya pria yang lahir 52 tahun lalu dan kini tinggal di Jalan Poros Makassar Km 224, Desa Cendana, Kecamatan Cendana, Kabupaten Enrekang, Sulsel hanyalah seorang peternak sapi perah. Bersama peternak lainnya Nasrudin membentuk Kelompok Ternak “Talang Baba” yang merupakan gabungan peternak di Kabupaten Enrekang.
Kelompok tersebut kini memelihara 88 ekor sapi. Beberapa di antaranya merupakan sapi yang berasal dari bantuan LIPI pada tahun 2004. Bahkan kelompok ternaknya berhasil memenangi Lomba Kelompok Agribisnis Sapi Perah tingkat provinsi dalam rangka Hari Susu Nusantara.
Nasrudin sendiri memiliki 12 ekor sapi perah indukan yang mampu menghasilkan 100 liter susu per hari. Selain menghasilkan susu, dia juga mengolah susu sapi menjadi dangke (sejenis keju) dan kerupuk susu. “Dengan produksi susu segar dan produk turunannya, saya bisa menghasilkan pendapatan sekitar di atas Rp 5 juta per bulan,” ujarnya. Dengan keuntungan tersebut, Nasrudin mampu menyekolahkan anak-anaknya hingga ke perguruan tinggi di Makassar.
Produk Tradisional
Selain memelihara sapi perah, Nasrudin juga mengolah susu menjadi produk pangan. Saat ini produk turunan susu yang cukup ramai permintaannya adalah dangke. Dangke adalah keju lokal yang merupakan makanan khas masyarakat Enrekang yang dibuat dengan menggunakan susu kerbau atau sapi. Bahan baku tersebut diolah melalui proses penggumpalan susu dengan bantuan enzim protease dari daun dan buah pepaya.
Sampai kini, dangke masih diproduksi industri-industri kecil masyarakat setempat dengan cara tradisional. Nasrudin sendiri tiap hari mengolah 15 liter susu untuk menjadi dangke. Dia menjual dengan harga Rp 17 ribu per buah.
Kendati dangke menjadi produk komoditi unggulan Kabupaten Enrekang dan cukup digemari, tapi pola produksi dan strategi pemasarannya belum memadai sama sekali.
Data Dinas Pariwisata Enrekang, produk dangke ini sudah menyeberang ke negara Malaysia dan Jepang. Namun pengembangan produksinya masih berjalan di level industri kecil. Belum ada investasi besar yang meliriknya karena minim promosi dan belum menjadi skala prioritas.
Masalah utama penyebab tidak populernya makanan tradisional dangke adalah karena kurangnya sentuhan teknologi produksi dan pengemasan tata saji. Produk dangke akan memiliki nilai jual dan selera yang tinggi jika disajikan dengan cara lebih kontemporer melalui sentuhan teknologi dan tangan pemasak handal.
Selain itu, ketersediaan bahan baku yang berasal dari ternak sapi dan kerbau harus menjamin stok kebutuhan produksi dengan jaminan kualitas yang tinggi. Echa
Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066
Editor : Julianto