Thursday, 22 October 2026


Mengawinkan Hutan dan Pertanian

08 Jul 2014, 11:41 WIBEditor : Kontributor

Setyo Sujalmo

Ternyata tak hanya dengan menggunakan teknologi seorang petani bisa sukses, keterampilan yang diperoleh berdasarkan pengalaman lebih menjadikan petani terbiasa untuk memecahkan masalah. Bahkan tak segan berbagi ilmu untuk petani lain.

Petani dari Kelompok Tani Sumarah, Kampung Wirotaman Ampelgading, Kabupaten Malang, Setyo Sujalmo yang mengkombinasikan kegiatan kehutanan dan pertanian. “Konsep mudahnya, menanam pohon di lahan pertanian dan bertujuan menjaga dan meningkatkan produktivitas lahan. Bahkan sampai pada pelestarian tegakan (tanaman) melalui perolehan pendapatan,” ungkap Setyo.

Namun, bukan sembarangan menanam pohon di lahan pertanian harus dikombinasikan antara tanaman semusim dan tahunan secara berdampingan berurutan. Bahkan sesuai dengan kebiasaan petani setempat. “Perlu dipilih juga jenis tanaman yang dapat bersinergi dan dapat hidup baik dengan berbagai kombinasi tanaman tegakan,” tuturnya.

Setyo mencontohkan Agroforestry yang ada di Kabupaten Malang mengkombinasikan 3 strata tegakan tanaman mulai dari tanaman keras untuk strata atas, tanaman kebun atau bahan untuk pakan ternak seperti kopi, pepaya dan cengkeh. Sedangkan di strata bawah terdiri dari tanaman pangan atau obat seperti lombok, empon-empon, nilam dan rumput gajah.

“Kita menanam itu bukan di hutan punya pemerintah tetapi berupa hutan rakyat sehingga bisa dikombinasikan juga dengan yang lain seperti konsep silvofishery (kehutanan-perikanan) dan silvopasteur yang mengkombinasikan dengan hewan ternak,” tutur Setyo. Uniknya, hewan ternak yang dipelihara hanya dilepaskan begitu saja di kebun tanpa pagar dan jauh dari rumah.

Banyak keuntungan yang bisa dirasakan masyarakat secara ekonomi seperti produksi yang bisa terus berlanjut, pendapatan keluarga bisa berlanjut. Sebab memotong siklus paceklik dan bisa berdampak untuk meminimalkan naik turunnya harga pasar jika diterapkan secara luas.

“Pemanenannya sendiri dilakukan bertahap, tidak semua sehingga produksinya bisa terus-terusan ada dan pendapatan mengalir terus. Misalnya kopi dipanen setahun sekali, sebulan sekali panen pisang mas kirana. Tanaman hutan ini bahkan menjadi tabungan bagi masa depan. Sehingga tidak ada anggota kelompok yang paceklik,” kata Setyo.

Selain berfungsi secara ekonomi, fungsi ekologi juga dirasakan masyarakat seperti penutupan lahan maksimal sehingga erosi tanah bisa diminimalisir. Resapan pun bisa lebih optimal, serangan hama dan penyakit dari tanaman pun bisa diminimalkan sebab ada tanaman yang bersifat pengendali hama. Dan terpenting adalah menjaga kelestarian alam hayati.

Kelompok Tani Sumarah, hasil hutan tak hanya dimanfaatkan langsung kayu-kayunya. Beberapa di antaranya bahkan diolah menjadi bernilai tinggi seperti kayu nilam yang diekstrak dan dijadikan minyak.

“Satu kilogram minyak nilam bisa mencapai Rp 600 ribu-Rp 700 ribu. Kami bekerjasama dengan pihak luar negeri untuk mengekspornya. Sedangkan untuk kopi, kita ada dua jenis kopi basah dan kopi kering. Bahkan menjadi satu-satunya kelompok usaha yang mempunyai sertifikat kopi,” ceritanya.

Bahkan pisang mas kirana karya Setyo dan kelompoknya sudah masuk ke pasar di daerah Jakarta dan Bandung. Permintaan pun banyak dari luar negeri, sayangnya hasil produksi belum bisa banyak. “Kelompok pun menghasilkan salak pondoh yang setiap harinya memanen sekitar 20 pohon. Dan dikirim untuk bahan baku pengolahan keripik salak,” tuturnya. Gsh

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

Editor : Julianto

BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018