Selandia Baru, negara yang masuk dalam Benua Australia tersebut cukup dikenal dengan industri susu. Untuk menggenjot kualitas susu di Indonesia, negara tersebut telah bekerjasama dengan Pemerintah Indonesia dalam program bea siswa Fonterra Dairy Farming Scholarship.
Fonterra Dairy Farming Scholarship merupakan program yang diselenggarakan untuk mengajarkan praktek pengelolaan terbaik dalam industri susu. Termasuk dalam peningkatan produksi dan produktivitas ternak, pemberian pakan yang baik, penanganan kesehatan hewan dan peningkatan kualitas susu.
Salah satu yang mendapat kesempatan belajar ke ‘Negeri Susu’ tersebut adalah Dwi Satrio (28). Pria lulusan Kedokteran Hewan IPB tersebut adalah pengelola Erif Farm yang berlokasi di Cisarua Bogor.
Dia meneruskan peternakan sapi perah milik mertuanya yang berdiri sejak 1986. Saat ini Erif Farm memiliki 200 ekor sapi yang terdiri dari 80 ekor sapi perah, 120 sisanya berupa pedet, pejantan dan sapi bunting tua.
Dengan luas 2 ribu hektar (kandang) dan 5-10 hektar hijauan, peternakan sapi perah yang dikelola Dwi mampu memproduksi susu sebanyak 1.500 liter per hari atau rata-rata 18 liter/ekor/hari. Omset yang mampu diraupnya sebesar Rp 200 juta-400 juta per bulan. Sekitar 50% dipotong untuk biaya operasional, gaji karyawan, pakan, obat dan lain-lain.
Dwi menjelaskan, untuk biaya pakan menghabiskan sekitar 60-70 persen biaya pengeluaran. Konsentrat yang dibutuhkan per hari sebanyak 8 kg, untuk rumput 10 persen dari berat badan. “Jika peternakan sapi perah dikelola dengan benar, akan mendapatkan pemasukan yang sangat menjanjikan,” katanya.
Selama ini produksi susunya dijual ke beberapa Industri Pengolahan Susu (IPS). Harga jualnya tergantung total solid (TS) dan kadar bakteri pada susu atau total plate count (TPC). Semakin bersih, bakteri semakin rendah, harga semakin tinggi. Harga sedang bagus. Dengan TPC 100 ribu, TS 12. “Untuk harga tertinggi saat ini Rp 6.150 per liter. Ada pengujian TS dan TPC di laboratorium sebelum masuk ke pabrik. Pabrik yang menentukan harga,” katanya.
Dia menjelaskan, sebelum pulang dari Selandia Baru saya menggunakan mesin yang kecil, yang portable yakni, 20% pakai mesin dan 80% hand milking. Namun sepulang dari Selandia Baru berubah 80% menggunakan alat pipa. “Perubahan yang signifikan sepulang dari Selandia Baru adalah semangat,” kata Dwi.
Secara teknis tidak banyak. Karena jika di sana dilepas sapinya, sedangkan di sini dia berharap, ke depan jumlah sapi di peternakannya terus meningkat. Selain itu, kendala yang kini dialami peternak bisa segera diselesaikan.
Kendalanya lahan di wilayah puncak, peternak sapi perah makin tergeser dengan vila. Karena itu jika tidak ada langkah konkrit dari pemerintah, peternak sapi perah bisa habis. “Kami inginnya ada lahan khusus untuk peternakan yang tidak bisa digunakan untuk beternak. Pinjami kami lahan. Kami tidak ingin menguasai, cukup dipinjamkan saja. Kendala kita di lahan,” tegasnya. Tia
Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066
Editor : Julianto