Wednesday, 21 October 2026


Jagung pun Bisa Jadi Tanaman Refugia

09 Aug 2018, 13:30 WIBEditor : Julianto

“Jagung, jagung, menanam jagung di kebun kita…” Bagian bait lagu bertema ‘Menanam Jagung’ tersebut sudah sangat familiar di kalangan anak-anak. Jagung memang menjadi salah satu komoditas pangan penting di Indonesia.

Karena itu pemerintah terus dorong peningkatan produksinya. Bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, tapi juga mengisi pasar di dunia. Salah satu upaya meningkatkan produksi adalah dengan perluasan areal.

Misalnya, mengembangkan budidaya jagung di lahan perkebunan dan pemanfaatan lahan gambut. Bahkan Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman pernah mengatakan, lahan kuburan pun bisa dimanfaatkan untuk bertanam jagung. Di beberapa wilayah, petani kadang menanam jagung di pematang sawah yang ditanami padi. Seperti di Desa Rahong Kecamantan Malingping, Kabupaten Lebak, Banten.

Di wilayah tersebut Balai Pengkajian Teknologi Pertanian, Balitbang Pertanian, Banten kini tengah mengkaji kemungkinan jagung sebagai tanaman refugia. Konsep awal penanaman refugia adalah sebagai upaya mengendalikan hama melalui pengelolaan agroekosistem secara preventif.

Peranan refugia tersebut adalah sebagai sumber pakan, tempat meletakkan telur dan sebagai rumah atau tempat tinggal bagi musuh alami maupun serangga lainnya. Manfaat refugia ternyata tidak hanya terbatas pada hal tersebut, bagi petani dapat merasakan buah manis lainnya dari refugia.

Hal ini dapat dilihat dari lokasi pengkajian pengendalian hama wereng batang cokelat (WBC). Banten sendiri kini menjadi salah satu lokasi percontohan kawasan jagung yang akan memasok kebutuhan industri pakan yang banyak tersebar di provinsi tersebut. Di lokasi tersebut, petani berhasil memanen jagung dengan keuntungan sebesar 40% dari biaya tambahan yang dikeluarkan berupa benih, pupuk dan tenaga kerja.

Produksi Melebihi Kebutuhan

Kementerian Pertanian memastikan produksi jagung nasional tahun ini dalam kondisi surplus. Dengan kondisi ini, pasokan jagung nasional juga dinilai melebihi kebutuhan pakan ternak.

Kepala Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian Ketut Kariyasa menyebutkan, dalam empat tahun terakhir, produksi jagung telah meningkat secara signifikan. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pada tahun 2014 produksi jagung di Indonesia sebesar 19,0 juta ton.

Pada tahun 2015, produksi mulai terjadi peningkatan menjadi 19,6 juta ton. Pada tahun 2016 produksi masih melanjutkan tren peningkatan dengan capaian produksi sebesar 23,6 juta ton. Puncaknya, pada tahun 2017 produksi jagung sudah mencapai 28,9 juta ton.

“Peningkatan produksi jagung pada tahun 2017 sangat tinggi, mencapai 5,3 juta ton. Jumlah ini meningkat 22,4 persen dibanding tahun sebelumnya. Terbukti, Indonesia tidak mengimpor jagung pada tahun 2017,” ungkap Kariyasa.

Tahun ini tren positif peningkatan produksi jagung diperkirakan Kariyasa masih akan berlanjut. Dengan tingkat produksi rata-rata 5,2 ton/ha dan luas panen sampai akhir Desember nanti diperkirakan akan mencapai 5,74 juta ha. Karena itu produksi jagung tahun ini diperkirakan bisa melebihi produksi tahun 2017 dengan capaian lebih dari 29 juta ton.

Dari total produksi tersebut, hampir sekitar 59,2% akan berasal dari luar Jawa dan 40,8% berasal dari Jawa. Jawa Timur tetap merupakan penghasil jagung utama dengan kontribusi 21,8%, disusul Jawa Tengah sekitar 12,3%. Di luar Jawa, provinsi penghasil jagung terbesar diperkirakan adalah Lampung (8,6%), Sulawesi Selatan (7,8%) dan NTB 6,9% terhadap produksi jagung nasional. Sementara Sumatera Utara dan Sulawesi Tengah diperkirakan akan mampu memproduksi jagung masing-masing 5,8% dan 5,4%.

Kariyasa menyebutkan, berbagai program terobosan telah dijalankan Kementan untuk meningkatkan produktivitas jagung. “Kami memahami bahwa jagung memiliki peran yang sangat penting dalam produksi pakan dan perkembangan industri ternak ayam ras di Indonesia,” ujarnya.

Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa pakan merupakan bagian terbesar dari struktur biaya produksi daging ayam dengan porsi 65-70% dari total biaya produksi yang dibutuhkan. Sementara itu, proporsi jagung dalam pembuatan pakan ternak, khususnya ayam ras mencapai 40-50%. “Jadi peningkatan produktivitas jagung menjadi salah satu perhatian utama kami demi mendukung keberlangsungan industri peternakan nasional,” ungkapnya.

Kebutuhan jagung untuk pakan saat ini di Indonesia mencapai 7,8 – 8,5 juta ton/tahun. Dengan perkembangan pesat pada industri peternakan ayam ras, Kariyasa memperkirakan kebutuhan jagung untuk pakan juga akan meningkat.

Ia memprediksi dalam sepuluh tahun mendatang, kebutuhan jagung untuk pakan ternak akan mencapai lebih dari 16 juta ton. Tapi untuk saat ini, Kariyasa memastikan bahwa produksi jagung nasional masih melebihi kebutuhan industri pakan ternak.

Dengan kondisi produksi jagung surplus ini, pemerintah melalui Kementan mendorong ekspor jagung. Diharapkan ekspor jagung akan lebih menguntungkan bagi petani, terutama dengan nilai tukar rupiah yang melemah terhadap dolar Amerika.

“Saat ini merupakan momentum yang sangat tepat untuk melakukan ekspor jagung,” tegasnya. Apalagi upaya mendorong ekspor jagung akan menguntungkan banyak pihak yang terlibat dalam usaha tani komoditas jagung, termasuk petani. “Kita pun turut diuntungkan karena akan mampu menghasilkan devisa yang lebih banyak dalam bentuk rupiah,” tambahnya. Yul/Ditjen PSP

Editor : Pimpinan Redaksi

BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018