Bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan), contohnya pompa air ternyata bisa dimodifikasi untuk bisa meningkatkan luas tambah tanam (LTT). Seperti yang dilakukan UPJA Nguling Maju Jaya dari Kabupaten Pasuruan.
Pompa air yang sudah dimodifikasi tersebut bisa tanam sebanyak 3 kali setahun dibandingkan pompa air yang biasa. “Ini kreatif dan inovatif. Mereka mau dan mampu belajar untuk memodifikasi pompa air sesuai kondisi wilayahnya,” ungkap Penanggung Jawab Optimalisasi Alsintan di wilayah Korem 083/Baladhika Jaya termasuk Pasuruan, Surachman Suwardi.
Surachman menjelaskan, UPJA Nguling Maju Jaya melakukan modifikasi dengan mengubah roda putar (puli) menjadi lebih kecil sehingga mampu menyerap daya air yang lebih besar. Bahkan modifikasi ini membuat petani menambah jumlah pompa air dengan cara swadaya. “Sekarang sudah ada 40 unit pompa,” ujar Suwardi.
Meningkatnya jumlah pompa air ini berimplikasi meningkatkan luas tambah tanam (LTT) di Pasuruan. Tercatat, 130 ha lahan yang sebelumnya tidak produktif kini sudah ada 46 ha lahan yang produktif. Bahkan Indeks Pertanaman yang tadinya 1 kali menjadi 3 kali dalam setahun.
Sesuai Kondisi Lapangan
Surachman mempersilahkan alsintan yang diberikan maupun dikelola UPJA untuk dimodifikasi sesuai dengan kondisi lingkungan. Namun dirinya meminta agar modifikasi tersebut tidak memotong rangka mesin, sehingga nomor seri Alsintan tidak hilang.
"Jangan modifikasi dengan memotong rangka mesin, ganti mesin dari orisinal ke mesin buatan China. Modifikasi diizinkan kalau untuk menyesuaikan kondisi lapangan,” kata Surachman.
Sebab, menurut Surachman nomor seri merupakan ´identitas´ dari setiap unit Alsintan yang dikeluarkan oleh produsen dan menjadi pegangan Kementerian Pertanian RI sebagai barang hibah dari negara untuk dipergunakan sebaik-baiknya oleh petani.
Surachman mengakui belum semua petani atau UPJA yang memiliki kemampuan melakukan modifikasi. Karena itu, pihaknya selalu roadshow melakukan On the Job Training (OJT).
“Kita juga latih bagaimana operator mesin dapat memperbaiki kerusakan kecil pada mesin juga memodifikasi alat, agar petani tidak keluar biaya untuk memperbaiki,” kata Surachman.
Pihaknya juga berharap, agar operator terus melatih keterampilannya dalam menggunakan alsintan dan memahami teknik-teknik alat agar usia ekonomis alat yang rata-rata sepuluh tahun itu bisa terpenuhi.
Dengan pemeliharaan yang dilakukan secara tepat dan berkala maka alsintan yang dikelola brigade alsintan serta UPJA tak cepat rusak dan bisa lebih lama dimanfaatkan oleh para petani untuk mendukung kegiatan usaha taninya.
Surachman mengemukakan, bahkan dalam OJT itu, pihaknya melatih langsung operator mesin dan para babinsa. Dalam hal ini para trainer mencontohkan bagaimana cara mengoperasikan traktor roda empat (TR4). Gsh/Ira/Ditjen PSP