Thursday, 05 November 2026


MENDESAK DAN PENTINGNYA MENCETAK PENGUSAHA MUDA AGRIBISNIS

11 Oct 2013, 20:22 WIBEditor : Ahmad Soim

(Sebutir Pemikiran buat Para Pemikir)

Wayan Supadno (Praktisi Agribisnis)

Peluang usaha di negara agraris yang besar dengan jumlah penduduk Indonesia yang diperkirakan mencapai seperempat miliar jiwa (250 juta) ini sangat besar. Sayangnya negeri nan elok ini malah menjadi pangsa pasar permanen di sektor pangan yang luar biasa besar dan banyaknya oleh para petani luar negeri.

Impor sayuran, buah-buahan dan daging Indonesia telah menghabiskan banyak devisa negara. Badan Pusat Statistik (BPS 2013) mengungkapkan terdapat 86 ribu ton sayur impor yang masuk selama bulan Mei 2013 atau senilai US$ 64,8 juta (Rp. 669,6 miliar). Jika diakumulasi selama Januari-Mei 2013, total sayur impor yang masuk sudah mencapai 308 ribu ton atau senilai dengan US$ 221,07 juta (Rp. 2,2 triliun). Selama bulan Mei 2013, buah impor yang masuk ke Indonesia tercatat sebesar 75 ribu ton atau senilai US$ 104,06 juta (Rp. 1,07 triliun). Sementara jika secara komulatif (Januari-Mei) ada 221 ribu ton buah impor yang masuk atau US$ 274,1 juta (Rp. 2,83 triliun).

Pada sisi lain masih banyak lahan-lahan potensial di Indonesia yang belum difungsikan. Terdapat sekitar 30 juta ha lahan potensial bisa digunakan untuk meningkatkan produktivitas pertanian dan perkebunan (Lembaga Pengkajian, Penelitian dan Pengembangan Ekonomi/LP3E).

Salahsatu faktor yang menjadi penyebab kondisi dilematis ini terjadi adalah karena Indonesia miskin pengusaha khususnya pengusaha muda, terutama pengusaha muda agribisnis. Menurut data Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Februari 2013) jumlah wirausahawan Indonesia hanya 1,9% dari 250 juta jiwa penduduk Indonesia. Masih sangat jauh dibanding negara lain: Malaysia 4%, Singapura 7%, Jepang 10% dan Amerika 12% dari jumlah penduduknya.

Maju mundurnya pembangunan sebuah bangsa dan percepatan kemakmurannya secara data dan empiris berbagai pihak menyimpulkan sangat erat kaitannya dengan seberapa besar rasio jumlah pengusaha yang dimilikinya. Agar sebuah negara maju dan sejahtera minimal harus memiliki 2% wirausaha dari total penduduknya. Dengan demikian, maka di negeri yang kita cintai ini jumlah pengusahanya masih di bawah ambang batas.

Dampak dari minimnya jumlah pengusaha di Indonesia yaitu jumlah pengangguran yang besar, fenomena menjamurnya Tenaga Kerja Indonesia (TKI), dan masih banyaknya kemiskinan. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat angka pengangguran di Indonesia hingga Februari 2013 mencapai 7,17 juta orang. Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang bekerja di luar negeri saat ini menurut Kepala Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) lebih dari 6,5 juta jumlah TKI yang bekerja di 142 negara.

Oleh karena itu pemerintah tak terkecuali Kementerian Pertanian perlu membuat program yang bersifat bertahap, bertingkat dan berlanjut berupa Pendidikan dan Latihan (Diklat) Kewirausahaan bagi segenap muda-mudi. Mungkin untuk lebih efisien dan memassalkan secara cepat perlu diadakan secara terkonsentrasi di wilayah-wilayah tertentu baik di perkotaan maupun di perdesaan. Dalam Diklat ini dihadirkan beberapa pakar yang menguasai teori kewirausahaan sekaligus pentingnya dihadirkan para Praktisi Pengusaha Sejati untuk proses penularan. Jika hal ini dilakukan secara konsisten dan berkelanjutan maka tidak mustahil negeri ini akan mampu mencetak wirausahaan muda yang tangguh dana dalam jumlah yang cukup. Lahan-lahan tidak ada yang menganggur dan impor pangan tidak lagi ada, sebaliknya bangsa ini malah mampu mengekspor pangan.

Di antara ciri-ciri pribadi yang memiliki modal sebagai pengusaha sukses, yaitu: pertama, waktu usia dini (masa kecil) ketika menghadapi kesulitan cenderung melakukan improvisasi diri untuk mencari solusi. Contohnya ketika mainan bola jatuh di kolong tempat tidur, maka berusaha sendiri untuk meraihnya dengan cara mencari satu cara sebagai pengaitnya contoh sapu/gala. Bukan merengek menangis menunggu pertolongan dari orangtuanya.

Kedua, waktu masa remaja cenderung menonjolkan kecerdasan bukan kepintaran karena ketekunan. Contohnya lebih senang menyelesaikan tugas yang bernuansa kalimat matematika (studi kasus per kasus) bukan sekedar penghafal yang ada di dalam tulisan buku pelajaran semata.

Ketiga, ketika mengawali bisnis cenderung cari tantangan hal-hal baru dan berbeda nuansa inovatif-kreatif untuk dicoba dan dicobanya. Bukan berbisnis yang bernuansa ikut-ikutan.

Keempat, ketika sudah jadi pengusaha, ketika menghadapi kerugian dan kebangkrutan, justru dijadikan sumber kekuatan, dianggap sebagai proses pembelajaran sehingga terbentuk jati diri yang lebih ulet (dijemur tidak kering, disiram tidak basah, diiris tidak sobek). Bukan sekedar pengusaha mudah kapok/jera sehingga menanggalkan predikat sebagai pengusaha.

Kelima, jika sudah menjadi pengusaha sukses cenderung terpanggil untuk membangun masyarakat di sekitarnya dan menularkan kiat-kiat sukses kepada sesamanya yang belum sukses. Bukan menjadi sekedar sukses untuk dirinya sendiri atau merasa bangga menonjol di antara yang lain.

 

Untuk informasi yang lebih lengkap baca EDISI CETAK TABLOID SINAR TANI (berlangganan Tabloid SINAR TANI.  SMS ke : 081317575066).

 

 

 

 

Editor : Ahmad Soim

BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018