Wednesday, 21 October 2026


Harga Menggiurkan, Mentik Wangi Bikin Tertarik Petani Magelang

12 Apr 2020, 14:31 WIBEditor : Yulianto

Petani sedang menanam varietas mentik wangi

TABLOIDSINARTANI.COM, Magelang---Varietas mentik wangi susu dikenal sebagai jenis padi berkualitas premium. Karena harga berasnya menggiurkan sejumlah petani yang tergabung dalam Kelompok Tani Ngudi Makmur, Desa Trasan Kecamatan Bandongan, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, tertarik untuk membudidayakan.

Jumat (10/4), petani didampingi Penyuluh Pertanian di Desa Trasan, Desi Endah Wijayanti melakukan tanam padi varietas Mentik Wangi dengan pola tanam jajar legowo 2:1 dengan usia bibit 12 HSS (hari setelah semai). “Mentik wangi susu menjadi pilihan petani karena varietas tersebut terkenal dengan citarasa wangi dan pulen serta harganya di atas beras biasa,” ujar Ketua Poktan Ngudi Makmur, Panut.

Jika harga beras IR64 di pasaran Rp. 11.000/kg, maka harga jual beras mentik wangi susu Magelang mencapai Rp. 17.000/kg. Meski umur tanaman lebih lama yakni sekitar 4 bulan, namun potensi hasil mencapai 12 ton/ha.

Dengan ke ‘khas’ an varietas lokal ini menjadikan budidaya padi ini sesuai untuk perlakuan pupuk organik. Petani anggota Poktan Ngudi Makmur, menggunakan pupuk organik Biokonversi dalam kegiatan demplot (demonstrasi plot).

Desi Endah mengatakan, Kelompok tani Ngudi Makmur merupakan salah satu kelompok tani binaan BPP (Balai Penyuluhan Pertanian), Kecamatan Bandongan yang menerapkan teknologi PTT maupun SRI. Kelompok ini memiliki luas lahan tidak banyak, hanya sekitar 10 ha dengan jumlah anggota sebanyak 11 orang.

Kegiatan ini secara intensif didampingi penyuluh pertanian di BPP Kecamatan Bandongan sebagai pusat kegiatan pertanian di tingkat kecamatan. “Kegiatan penyuluhan di wilayah binaan akan terus dilakukan terutama aplikasi inovasi teknologi yang bisa diadopsi petani, tetapi tetap mengunggulkan potensi lokal, apalagi di tengah situasi pandemi Covid-19,” ungkap Desi.

Desi mengakui, penyuluhan saat ini, tak hanya tentang adopsi teknologi, namun perlu pembentukan karakter petani yang ‘kuat’, dengan kearifan lokal. Dengan demikian, petani mampu tumbuh dan berkembang sesuai dengan lingkungannya, namun tetap ‘paham’ dengan kondisi luar.

Di tengah wabah Covid-19, memang sangat berpengaruh dalam kehidupan. Namun Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo berpesan sektor pertanian menjadi harapan, tulang punggung di tengah upaya pemerintah dalam menanggulangi Covid-19. Jadi tak salah jika semangat petani untuk terus melakukan usaha taninya ditengah pandemic Covid-19 ini sangat diapresiasi.

Sementara itu Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian, Prof. Dedi Nursyamsi juga menegaskan, masalah pangan adalah masalah yang sangat utama, hidup matinya suatu bangsa. “Pertanian tidak boleh berhenti apapun yang terjadi.” ujarnya. 

Reporter : Desi/Yeni (BBPP KETINDAN)
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018