
Olah lahan rawa
TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta--- Kebutuhan pangan di masa pandemi covid 19 dan pasca covid 19 sangat krusial. Dalam situasi seperti ini pemenuhan pangan, khususnya padi melalui impor sepertinya tidak mudah, karena negara produsen padi (beras) akan menahannya untuk kebutuhan sendiri. Guna mengatasi kebutuhan pangan pokok, diperlukan perluasan pengembangan budidaya padi di lahan sub optimal.
Sekjen Perhimpunan Masyarakat Gambut Indonesia, Suwardi mengatakan, ekstensifikasi budidaya padi bisa dilakukan di lahan rawa dan gambut yang tersebar di pantai timur Sumatera, Kalimantan dan Papua. Bisa juga dilakukan di lahan tanah sulfat yang tersebar di Sumatera Selatan dan Kalimantan Tengah.
" Dengan pendekatan teknologi, budidaya padi bisa dikembangkan di tanah masam yang banyak ditemukan di Sumatera, Kalimantan, Papua dan Sulawesi," kata Suwardi, dalam sebuah webinar, di Jakarta, Jumat (12/6).
Menurut Suwardi, dari potensi lahan rawa, khususnya rawa lebak bisa dikembangkan sebagai lahan budidaya padi sekitar 200 ribu ha. Karena ciri khas rawa lebak yang banyak air ketika hujan, petani bisa memanfaatkan polder dan parit-parit kecil untuk memulai budidaya padi.
" Dari pengembangan lahan gambut dan lahan pasang surut bisa direklamasi untuk lahan padi seluas 100 ribu ha, " ujarnya.
Suwardi juga mengatakan, untuk memenuhi kebutuhan pangan, petani bisa tanam padi gogo di lahan masam yang sudah direklamasi yang luasnya berkisar 1-2 juta ha. Penanaman padi gogo bisa dilakukan dengan sistem tumpang sari.
Menurut Suwardi, dalam jangka panjang pemerintah bisa mengembangkan budidaya padi di Papua. Tepatnya, di lembah Membramo yang lahannya subur.
" Saat ini masih berupa kawasan hutan dan infrastruktur jalan belum ada. Untuk pengembangan padi di Papua ini perlu pendekatan sosial," kata Suwardi.
Sementara itu, Kepala Balai Besar Sumber Daya Lahan Pertanian (BBSDLP) Balitbangtan Kementan, Husnain mengatakan ada 191, juta ha lahan yang terdiri dari lahan basah 152 juta ha, lahan kering 144,5 juta ha dan lahan lainnya seluas 4,6 juta ha. Dari total lahan tersebut ada lahan non rawa seluas 9,4 juta ha dan lahan rawa seluas 32,6 juta ha.
" Dari 32,6 juta ha lahan rawa itu, yang potensial untuk pengembangan pertanian seluas 20 juta ha," ujar Husnain.
Menurut Husnain, dari 20 juta ha lahan rawa yang sudah dimanfaatkan untuk pertanian baru sekitar 3,6 juta ha (18 persen). Artinya, masih ada 16, 32 juta ha (82 persen) lahan rawa yang belum dimanfaatkan.
Husnain mengaku, demplot budidaya padi yang dikembangkan di lahan rawa cukup bagus. Seperti di Barito Selatan, provitas padi yang ditanam dalam demplot seluas 100 ha, sebanyak 6 ton/ha. Bahkan, penanaman jagung di lahan kering masam di Kalimantan Selatan seluas 600 ha, provitasnya bisa mencapai 15 ton per ha.
" Untuk budidaya padi atau jagung di lahan rawa dan lahan kering masam perlu pengolahan lahan yang intensif. Seperti di lahan rawa yang tingkat keasamannya tinggi perlu bantuan kapur dolomit dan tambahan pupuk," paparnya.
Menurut Husnain, lahan rawa dan lahan kering sangat potensial untuk budidaya tanaman pangan, seperti padi. Mengingat, lahan sub optimal ini sangat luas.
Seperti lahan rawa yang luasnya 32,6 juta ha ini, terdiri dari lahan rawa pasang surut seluas 8,9 juta ha. Lahan rawa lebak 25,2 juta ha dan lahan gambut seluas 13,4 juta ha.
"Sedangkan lahan kering terdiri dari lahan kering tak masam seluas 37,1 juta ha dan lahan kering masam 107,4 juta ha," pungkas Husnain.