Wednesday, 21 October 2026


Potensi Stok Beras Akhir Tahun Diprediksi Turun

17 Sep 2020, 18:16 WIBEditor : Yulianto

Stok beras Bulog diprediksi turun tahun ini

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Kondisi pangan utama di Indonesia, terutama beras tahun 2020 diprediksi kurang begitu menggembirakan. Produksi padi pada tengah tahun pertama Januari–Juni 2020 menurun sebesar 1,5 juta ton dibandingkan periode yang sama 2019. Bahkan potensi produksi 2020 diperkirakan 1 juta ton lebih rendah dibanding 2019.

Demikian analisis Guru Besar IPB University, Dwi Andreas Sentosa saat webinar Resesi Ekonomi dan Pengaruhnya terhadap Ketahanan Pangan Indonesia yang digelar PATAKA di Jakarta, Kamis (17/9).

“Kalau kita lihat situsi produksi riil periode Januari-Juni, produksi beras tuun 1,5 juta ton dari periode yang sama tahun sebelumnya. Sampai akhir tahun dari hasil pengamatan, produksi beras semester kedua naik 500  ribu ton dari tahun lalu, sehingga hasil akhir tahun 2020, potensi produksi tahun ini 1 juta ton beras lebih rendah dari tahun lalu,” tuturnya.

Sementara itu stok beras Bulog juga menurun. Jika tahun lalu hingga Juni sebesar 2,2 juta ton, maka pada periode yang sama tahun ini hanya 1,4 juta ton. Penurunan stok Bulog tersebut dipengaruhi produksi padi yang juga turun. Begitu juga stok beras awal turun 2020,  berdasarkan data  juga turun.

Dengan demikian menurut Dwi, setelah dihitung stok Bulog, stok awal tahun 2020 dan produksi, kemudian dikurangi konsumsi beras sebanyak 6,77 juta ton, total potensi stok beras akhir tahun 2020 dibandingkan tahun 2019 diperkirakan turun 2 juta ton.  “Apakah 2 juta ton harus kita impor atau tidak. Pemerintah bisa hitung sendiri, bisa dihitung dari stok awal tahun 2019 dan stok bulog.” katanya.

Potensi impor

Bagaimana dengan potensi impor dari negara lain? “Apakah dunia akan krisis pangan, bagaimana dampaknya, apakah kalau Indonesia kekurangan pangan, apakah bisa beli dari luar negeri? Ini pertanyaan selama Covid-19. FAO juga memperkirakan adanya krisis pangan,” kata Dwi.

Dwi menegaskan, pemerintah tidak perlu khawatir dengan perdagangan pangan dunia, karena tidak akan terganggu. Sebab, negara produsen beras yang kelebihan stok, pasti akan mengeluarkan stoknya.

“Tidak seperti yang selama ini diceritakan, bahwa pandemi ini membuat negara-negara produsen pangan akan menahan pangannya, tidak mungkin mereka menahan beras. Tidak ada cerita logistik pangan dunia terganggu karena pandemi,” tegasnya.

Dwi menjelaskan, jika membandingkan tahun 2019 dengan 2020, maka produksi serealia dunia tahun ini paling tinggi sepanjang sejarah yakni sebanyak 300 juta ton. Bahkan harga pangan dunia berdasarkan data indeks food hanya 102,5 dollar AS/ton. Harga ini jauh lebih rendah dibandingkan tahun 2011 saat krisis pangan dunia yang mencapai 240 dollar AS/ton.

“Sekarang dengan pandemi Covid harga terus turun, pada Mei hanya 91,1 dollar AS/ton, pada Agustus perlahan naik 96,1 dollar AS/ton, tapi masih lebih rendah dari angka 100 dollar AS/ton,” tutur Dwi.

Soal harga beras di pasar internasional, menurut Dwi, di tingkat negara produsen (eksportir) kualitas beras terbaik Thailand per September hanya 530 dollar AS/ton. Hitunganya sampai masuk ke Indonesia (Pelabuhan Tanjung priok) hanya Rp 8.000/kg.

Begitu juga dengan beras Vietnam, pada Agustus sempat turun sedikti, namun per September naik lagi sekitar 470 dollar AS/ton. Sedangkan beras India broken 5 persen harganya hanya 370 dolar AS/ton. “Jadi tidak perlu khawatir terhadap stok dan harga beras dunia,” katanya.

Sementara itu anggota Komisi IV DPR RI, Mindo Sianipar mengatakan, meski BPS memprediksi produksi beras aman hingga akhir tahun, namun untuk mengantisipasi berkurangnya produksi, pemerintah melalui Perum Bulog harus bekerjasama dengan luar negeri untuk menyediakan beras. Bahkan kalau perlu membuat perjanjian lebih awal.

“Jadi kalau keadaan tidak bagus, kita bisa mendatangkan dari luar. Jadi ada perjanjian lebih awal. Kalau tidak, kita akan sulit, karena negara akan manahan stok untuk ketahanan masing-masing,” tuturnya. “Jadi yang kita harus pikirkan, bukan hanya ketahanan pangan, tapi kedaulatan pangan,” tambah politisi dari PDIP ini.

Reporter : Julian
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018