Varietas Inpari 42 Agritan bikin petani Sumenep kepincut
TABLOIDSINARTANI.COM, Sumenep--- Puaskan petani, varietas Inpari 42 Agritan Green Super Rice (GSR) bikin kepincut petani dari Pulau Garam Mandura, khususnya di Kabupaten Sumenep, Jawa Timur. Petani pun akhirnya membentuk kelompok penangkar benih unggul tersebut.
Sejarah petani di Sumenep tertarik menanam verietas Inpari 42 Agritan bermula saat Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Timur pada tahun 2018 bekerjasama dengan Dinas Pertanian Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Kabupaten Sumenep mmebuat kegiatan kaji terap.
Kegiatan ini dilaksanakan di tiga kecamatan yaitu Kecamatan Gapura, Lenteng dan Guluk-guluk pada musim tanam kedua Maret - Juli 2018 dengan sistem tanam jajar legowo 2 : 1. Kegiatan kaji terap dilaksanakan sebagai sarana untuk pengenalan VUB Inpari 42 Agritan GSR dan pembelajaran petani dalam menerapkan Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) pada tanaman padi.
Beberapa inovasi dalam kegiatan budidaya yaitu seleksi benih menggunakan larutan garam, aplikasi Plant Promoting Growth Rizhobacteria (PGPR) atau bakteri Pseudomonas fluorescens (Pf), penggunaan bibit tanaman muda antara 15-20 hari, pengendalian hama penggerek batang secara mekanis melalui pemungutan telur penggerek di persemaian, istem tanam jajar legowo (40 cm x 20 cm x 12.5 cm) dan pemupukan yang berimbang.
Seiring berjalannya waktu kini VUB Inpari 42 Agritan GSR mendapatkan tempat dihati petani Kecamatan Gapura. Hal ini bisa dibuktikan dari perkembangan luas tanam Inpari 42 serta produktivitasnya yang mengalami peningkatan dari tahun ke tahun.
Jika pada tahun 2018 luasannya hanya 5 ha dengan produktivitas mencapai 8,74 ton/ha, maka tahun 2019 luasannya bertambah menjadi 47,2 ha dan produktivitas 8,74 ton/ha. Bahkan pada musim hujan (MH I) tahun 2020 luasan bertambah menjadi 230,8 ha dan produktivitas 9,4 ton/ha. Sedangkan MH II dengan luasan 120 ha dan produktivitas 8,85 ton/ha. Jika dibandingkan varietas lainnya yang hanya 5-6 ton/ha, maka perbedaan produktivitasnya sangat signifikan.
Kelompok Penangkar Benih
Berdasarkan perkembangan luas tanam yang meningkat serta permintaan kebutuhan benih Inpari 42 yang begitu tinggi, pada tahun 2020 Kelonpok Tani (Poktan) Budi Setia, Desa Gapura Barat, Kecamatan Gapura berinisiatif membentuk Kelompok Penangkar Benih Padi untuk memenuhi kebutuhan benih Inpari 42. Pada musim tanam 2020/2021, petani mampu memproduksi benih sebanyak 2 ton dengan label biru.
Penyuluh Pertanian Kecamatan Gapura, Achmad Syarif Nur Fajrullah mengatakan, meskipun kelompok ini tidak bisa sepenuhnya memenuhi kebutuhan benih Inpari 42 yang ada, tetapi ini merupakan langkah awal yang sangat positif dalam menciptakan perubahan paradigma petani di Kecamatan Gapura.
“Petani sebagai pelaku utama telah merasakan peningkatan produktivitas melalui penggunaan VUB Inpari 42 dengan menerapkan teknologi yang telah disampaikan pada kegiatan kaji terap,” tuturnya.
Selain itu, dengan adanya kelompok penangkar benih padi di Desa Gapura Barat, Kecamatan Gapura dapat menginisiasi terbentuknya Desa Mandiri Benih, khususnya Inpari 42. Inisiasi itu dirancang sebagai salah satu kegiatan berbasis padat karya dengan memberdayakan petani melalui kelompok tani atau kelompok penangkar atau gabungan kelompok tani dengan kelompok penangkar.
Syarif berharap, selain dapat memberikan nilai manfaat, juga mampu meningkatkan sektor ekonomi di tingkat desa. Dengan demikian, keberhasilan pembangunan pertanian sangat ditentukan pada penggunaan benih, teknologi, dan cara bertani baru dalam meningkatkan produktivitas dan efisiensi usaha tani untuk menopang kebutuhan pangan, ekspor, dan industri pertanian yang terus bergerak maju, mandiri, dan modern.
Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL) mengatakan, sektor pertanian di masa mendatang tidak bisa diolah dengan cara yang biasa. Namun harus dikerjakan dengan cara yang serba maju, serba baru dan lebih modern. "Minimal dengan terjadinya Covid-19 ini kita semakin menyadari bahwa pertanian tidak boleh lagi diolah dengan cara yang biasa. Harus ada inovasi dan ide-ide kreatif dalam mengelola pertanian," katanya.
Sementara itu Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP), Dedi Nursyamsi mengatakan, pertanian menjadi salah satu sektor yang dituntut untuk tetap produktif di tengah pandemi Covid-19. "Walau masih pandemi Covid-19, pertanian jangan berhenti, maju terus, pangan harus tersedia dan rakyat tidak boleh bermasalah soal pangan,” tegas Dedi.