Wednesday, 21 October 2026


Perubahan Iklim, Petani Pinrang Diminta Waspadai OPT Padi

03 Jul 2021, 13:59 WIBEditor : Yulianto

Bupati Pinrang, Irwan Hamid saat bertemu petani

TABLOIDSINARTANI.COM, Pinrang--- Perubahan iklim yang terjadi saat ini dikhawatirkan akan meningkatkan serangan organisme pengganggu tumbuhan (OPT) padi. Karena itu petani diminta untuk mewaspadai dan mengendalikan sejak dini kemungkinan gangguan OPT.

Bupati Pinrang H. A. Irwan Hamid, S.Sos, Jumat pagi (2/7) meninjau kelompok tani yang sedang bergotong royong melakukan upaya pengendalian hama sebelum menggarap sawah permulaan musim tanam. Kelompok tani yang dijumpai di Desa Mangki, Kecamatan Cempa dan Kelurahan Siparappe Kecamatan Watang Sawitto.

Pada kesempatan itu, Bupati Pinrang Irwan Hamid mengingatkan kepada petani dan kelompok tani untuk mewaspadai perubahan iklim cuaca. Bahkan meminta petani mewaspadai meningkatnya risiko serangan hama dan penyakit tanaman padi pada permulaan musim tanam.

"Perubahan iklim dan cuaca menyebabkan hama dan penyakit berkembang pesat pada kelembaban tinggi, karena tingginya intensitas hujan dan tutupan awan,” katanya. Menurutnya, serangan hama dan penyakit dapat menurunkan produktivitas, dan bahkan gagal panen.

Kepala Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Tengah, Joko Pramono saat Lokakarya DPW Perhiptani Jawa Tengah, Selasa (29/6) mengatakan, dampak cukup siginfikan perubahan iklim adalah dalam pola usaha tani. Ada beberapa yang sudah dirasakan. Misalnya, terjadi pola curah hujan yang berubah, seperti yang dihadapi sekarang ini.

Joko mencontohkan, pada Mei lalu terlihat akan masuk musim kemarau, namun kemudian curah hujan kembali tinggi. Kondisi tersebut berubah dari pola sebenarnya. “Ini menimbulkan konsekuensi pada pola tanam petani di lapangan,” ujarnya.

Karena itu Joko mengingatkan, jajaran pertanian, termasuk penyuluh pertanian harus melakukan upaya antisipasi memberikan bimbingan ke petani terkait perubahan pola hujan ini. “Ini merupakan gejala yang dikatakan bisa terjadi akibat perubahan iklim, yakni iklim ekstrim. Ekstrim iklim yang biasa kita rasakan adalah gejala La nina dan El nino,” tuturnya.

Dikhawatirkan juga gejala iklim kadang dibarengi eksplosif organisme penganggu tumbuhan (OPT). Untuk itu, Joko mengingatkan agar kita melakukan adaptasi. Perubahan ikim  juga menyebabkan kenaikan muka air laut. Dampaknya, akan menyebabkan berkurangan lahan pertanian di daerah pesisir di wilayah pantai utara dan selatan Jawa. 

“Kita mendengar di daerah pesisir lahan pertanian tidak bisa ditanami varietas padi yang exisiting, karena muka air laut pasang yang menyebabkan lahan tersebut terintrusi air laut dan terjadi peningakatan salinitas,” katanya seraya menambahkan, karena itru perlu ada upaya adaptasi varietas yanga adaptif salinitas.

 

Reporter : Suriady
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018