Thursday, 22 October 2026


Sumber Diversifikasi Pangan, Kementan Petakan Sentra dan Industri Singkong

06 Jul 2021, 18:46 WIBEditor : Yulianto

Pemerintah dorong pengembangan singkong sebagai substitusi beras

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Singkong menjadi bahan pangan sumber diversifikasi pangan. Bahkan merupakan  bagian dari lima cara bertindak Kementerian Pertanian. Untuk mendorong konsumsi pangan lokal, pemerintah memetakan sentra singkong.

Direktur Jenderal Tanaman Pangan Kementan, Suwandi mengatakan, pemanfaatan singkong sebagai salah satu konsep lima cara bertindak, salah satunya adalah diversifikasi pangan lokal denganmemanfaatkan singkong.  “Tidak hanya diversifikasi produksi tapi juga konsumsi,” kata Suwandi saat webinar “Mengenal Lebih Dekat Singkong”, Sabtu (3/7).

Suwandi menjelaskan, pihaknya telah membuat peta (mapping) sentra produksi singkong, bagaimana kemitraan yang kecil dan besar. Sentra di Sumatera Utara, Lampung, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, DI Yogyakarta, Sulawesi Selatan sampai ke NTT.

Data Ditjen Tanaman Pangan, luas areal penanaman singkong tahun 2019 sebesar 628.305 ha dan produksi sebanyak 16,35 juta ton. Program pengembangan tahun 2020 seluas 11.175 ha.

“Posisi sentra produksi dan pengembangan diversifikasi kita sudah mapping semua. Ada di daerah Sumatera, Jawa, Kalimantan, bahkan tidak hanya singkong, tapi juga pangan lokal lainnya,” tuturnya.

Ada beberapa langkah dan strategi yang pemerintah ambil. Pertama, mendesain market driven-nya. Bagaimana singkong menjadi pangan yang luar biasa.  “Mari kita tangani sisi konsumsinya dan hilirnya,” katanya.

Kedua, bagaimana menjadi singkong sebagai life style dan cocok untuk kalangan milenial dan sebagai tren baru. Untuk itu, Suwandi berharap, pelaku usaha bisa membuat produk pangan singkong dengan kemasan yang menarik.

Ketiga, gerakan mengonsumi pangan lokal. Misalnya, menjadikan pangan lokal, termasuk singkong menjadi bagian menu di hotel, restauran dan katering (horeka). Di Bali, sudah ada paraturan gubernur untuk memprioritaskan pangan lokal sebanyak 30 persen untuk hotel, sedangkan restauran dan katering 60 persennya pangan lokal.

Kementerian Pertanian bersama Masyarakat Singkong Indonesia (MSI) juga secara intens membahas prospek singkong di Indonesia. “Saya yakin pemerintah juga sudah membuat program mensinergikan dan mendiversifikasikan pangan lokal,” kata Ketua MSI, Arifin Lambaga.

Arifin menilai, singkong adalah pangan lokal yang sangat potensial dikembangkan karena bisa ditanam di lahan sempit, di pekarangan rumah dan perawatan mudah. “Untuk mendukung program pemerintah menurunkan konsumsi pangan beras, MSI sudah merancang program bagaimana singkong dijadikan sebagai sumber pangan berbasis lokal,” katanya.

Kontrak Farming

Menurut Achmad Subagio, Dosen FTE dari Universitas Jember, singkong punya peran luar biasa dalam sisi kehidupan, terutama umbinya bisa untuk gaplek, mocaf dan tapioka sebagai bahan baku. Karena itu,  ia menganggap penting membentuk korporasi petani.

“Tidak usah banyak-banyak dulu, kira-kira dengan hamparan 10 ha dan pematang dihilangkan. Kenapa dihilangkan? Karena pematang mengurangi efisiensi tanam,” ungkap Achmad

Ia meyakini, jika nanti ada 10 ha, maka petani bisa kontrak farming dengan industri yang didalamnya memuat harga, kapan dipanen, maupun negosiasi untuk produktivitas, sehingga ada kejelasan pendapatan yang bisa diterima petani.

“Bantuan pemerintah tidak akan dikeluarkan kalua belum ada kontrak farming tersebut. Sehingga sudah ada kepastian pasokan untuk industry dan pendapatan untuk petani,” tuturnya.

Subagio juga menekankan, pentingnya varietas baru. Varietas di negara lain tiap tahun merilis 2-3 varietas. Di Indonesia masih sangat kurang, sehingga Suabgio berharap perlunya pemerintah mendorong  peningkatan varietas singkong.

Singkong memang selama ini tanaman yang dibudidayakan secara swadaya oleh petani. Seperti di Sulawesi Tengah, perkembangan singkong  secara produksi meningkat tiap tahun masih swadaya petani, dan belum banyak sentuhan program pemerintah.

“Harapan kami selanjutnya senantiasa mendorong pengembangan singkong. Kami siap jika ada pelaku usaha berniat mengembangkan singkong di Sulteng, ujar Tri  Iriany, Kepala Dinas Pertanian Sulawesi Tengah.

 

Reporter : Humas Ditjen Tanaman Pangan
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018