
Desa organik FAO
TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) bekerjasama dengan Ditjen Tanaman Pangan Kementerian Pertanian mengembangkan pertanian organik di beberapa daerah. Salah satu proyek desa organik yang intensif dikembangkan adalah di wilayah perbatasan Indonesia dan Malaysia, tepatnya di Entikong, Sekayam dan Kembayan, Kabupaten Sanggau Kalimantan Barat.
“Proyek kerjasama pengembangan Desa Organik ini dimulai pada tahun 2015 lalu, sebagai respon permintaan Presiden Jokowi untuk pengembangan wilayah perbatasan,” papar Ageng S. Herianto, Branch FAO Indonesia pada webinar Propaktani Padi Organik, Kamis (23/7).
Proyek desa organik ini dimulai dengan menggarap lahan milik masyarakat seluas 77 hektar yang dikerjakan beberapa kelompok tani. Petani di wilayah perbatasan sangat minim pengetahuannya mengenai pertanian organik. “Kondisi ini menjadi tantangan bagi untuk menginformasikan secara utuh,” ujar Ageng.
Karena itu langkah awal yang dilakukan adalah dengan membangun sumberdaya dan komitmen petani. Dengan demikian menimbulkan rasa percaya diri petani dan kelompoknya melalui komunikasi yang tepat.
Ageng menambahkan, untuk desain lahan, pihaknya membuat menjadi hamparan utuh atau landscape tidak bercampur dengan lahan non organik. Dukungan yang FAO berikan antara lain adalah tenaga ahli yang berpengalaman baik dari Indonesia maupun International.
“Pelibatan kaum perempuan sangat diperhatikan. Penggunaan Geo Informasi Spasial dalam pengukuran lahan untuk ketepatan serta networking dan rantai pemasaran,” katanya.
Sedangkan disisi budidaya, Ageng mengungkapkan, pihaknya menyiapkan benih padi, pupuk organik, sarana pengolahan lahan hingga benih refugia. Sekolah lapangan juga dilakukan sebagai pembelajaran teknis langsung. Bantuan sertifikasi juga disiapkan, yaitu dengan menggandeng LSO Inofice sebagai penyedia jasa sertifikasi produk organik. “Terakhir, kami juga menyediakan bantuan kedaruratan banjir bandang,” ujarnya.
Prinsip Zero
Ageng mengatakan, konsep pertanian yang diusung adalah “Back To Nature”, yaitu pertanian kembali ke alam. Model pertanian ini adalah pengenalan dan penerapan pertanian dengan prinsip “zero” bahan kimia, baik pupuk maupun pestisida.
Prosesnya dimulai dengan perbaikan ekosistem lahan dengan pembuatan biofilter, untuk menyaring air yang masuk ke areal persawahan, yang dilanjutkan dengan seleksi benih. Dalam proses pemupukan, pihaknya juga bekerjasama dengan petani membuat dan memproduksi pupuk organik cair secara mandiri.
“Sedangkan untuk melindungi dari OPT pengganggu tanaman, kami membuat pestisida nabati yang berbahan dasar yang ada di sekitar,” ujar Ageng. Bahan-bahan yang dipakai seperti bawang putih, cabai, cengkeh, lidah buaya, daun pepaya dan sahang. Bahkan pihaknya juga membuat bumbung untuk konservasi bagi parasitosid.
Hasilnya, saat ini sudah ada 6 kelompok tani yang sudah tersertifikasi organik, yaitu Poktan Gunung Senyang, Sungai Suban, Risa Jaya I, Subur Jaya, Maju dan Poktan Karya Mandiri.
Beras organik yang diproduksi dengan merk Beras Organik Sanggau-Serumpun Borneo promosi dan pemasarannya dilakukan untuk pasar lokal. Namun ke depan pasar ekspor Malaysia yang sangat dekat menjadi incaran produk beras organik ini.
Ageng menambahkan, setelah sukses memproduksi beras organik langkah berikutnya adalah program untuk memproduksi tanaman hortikultura yang juga organik. “Di Entikong kita sudah memproduksi Peringgi (Labu) organik, nanti akan disusul dengan tanaman horti lainnya,” ujarnya.