Wednesday, 21 October 2026


Tanam Padi Singgang ala Petani Serdang Bedagai

10 Aug 2021, 10:50 WIBEditor : Yulianto

Pertanaman padi Singgang

TABLOIDSINARTANI.COM, Serdang Bedagai---Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Usaha Rakyat bekerjasama dengan Kelompok Tani (Poktan) Gelora dan Melati di Desa Ujung Rambung, Kecamatan Pantai Cermin, Kabupaten Serdang Bedagai, Sumatera Utara, melakukan pertanaman padi muism tanam kedua (MT II) dengan sistim Singgang.

Sistem ini merupakan sebutan tanam hanya sekali, tapi hasil berkali. Uji coba kali ini dengan luasan tanam 1 ha (hektar) saat panen pada (21/7) atau umur 10 hari. Variasi rentang waktu dari satu hektar dua kelompok tersebut 20 hari.

“Varitas padi yang disinggang Ciherang dengan pemotongan 30 cm dari tanah yang sudah dipesan regu potong padi,” kata pengurus BUMDes Usaha Rakyat, Edi Iswanto.

Edi mengungkapkan, pola pertanaman singgang ini merupakan demplot swadaya BUMDES Usaha Rakyat dengan menggunakan pupuk organik yakni, Bio Hormon dan Bio Sirma. “Kami berharap demplot ini sebagai contoh agar pada musim tanam yang akan datang seluruh petani atau poktan dapat menyusun program dalam musrembang desa sehingga ter anggarkan dalam APBdes,” katanya.

Untuk aplikasi pupuk kimia hanya menggunakan pupuk Urea 2 kg dan ponska 2 kg per rante (400 meter). Sisanya menggunakan pupuk organik 750 kg/ha dan Bio hormon 5 botol/ha, serta bio sirma 5 botol/ha. Dari pola ini dan penggunaan organik diharapkan hasil 150 – 200 kg/rante.

Sementara itu PPL Kecamatan Pantai Cermin, Sutrisno mengatakan, luasan sawah di Desa Ujung Rambung sekitara 250 ha dengan tujuh kelompok tani. Namun dalam demplot kali ini hanya dua kelompok yang mengikuti kegiatan tanam sistem singgang.

“Direncanakan pada saat panen nanti akan dilakukan ubinan untuk mengetahui hasil. Kami akan undang seluruh kelompok tani,” katanya.

Menurutnya, pada pola singgang ini penggunakan pupuk kimia berkurang 60 persen, karena menggunakan organik yang diproduksi Bumdes Usaha Rakyat.

Kordinator BPP Sijonam, Sakkeus Silitonga membenarkan program BUMDes Usaha Rakyat memang baru pertama kali di laksanakan di Wilayah Kerja BPP Sijonam. Namun menurutnya, yang menjadi permasalahan adalah saat padi sudah keluar bulirnya akan menjadi sasaran burung, begitu juga hama lainnya. “Jadi harus ekstra ketat pengawalannya,” katanya.

Diharapkan dengan biaya usaha tani yang lebih kecil dan hasilnya baik, petani lain akan mengikut pola tanam ini. “Program selanjutnya kita akan coba pertanian IP 400,” kata Sakkeus Silitonga pada kontributor daerah Sinar Tani.

Reporter : RE. Gultom
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018