
Berbagai varietas kacang hijau hasil penelitian Balitbang Pertanian
TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Kacang Hijau memiliki kandungan beragam nutrisi. Karena itu, peluang pengembangan menjadi pangan olahan terbuka lebar. Pemanfaatan kacang hijau biasanya digunakan untuk bubur, kue, isi bakpia, minuman dan tauge (kecambah).
Ali Khomsan, Guru Besar Pangan dan Gizi IPB University mengungkapkan, mengonsumsi kacang-kacangan yang banyak mengandung serat bermanfaat untuk kesehatan. Selain dapat melancarakan pencernaan dan mencegah kanker kolon, juga bisa menurunkan kadar glukosa darah, berfungsi sebagai prebiotic, mengontrol kegemukan dan obesitas serta mengurangi kadar kolestrol dalam darah.
Seperti halnya kacang hijau memiliki kandunga protein 20-25 persen, daya cerna 77 persen, lemak 0,7-1 gr/kg, lemak tak jenuh 73 persen, lemak jenuh 27 persen dan karbohidrat 62-63 persen. Kandungan lemak kacang hijau adalah 1,3 persen, jauh lebih rendah dari pada kedelai (18 persen).
“Oleh sebab itu kacang hijau sangat baik bagi orang yang ingin menghindari konsumsi lemak tinggi. Rendahnya lemak di dalam kacang hijau menyebabkan bahan makanan dan minumam yang terbuat dari kacang hijau tidak mudah tengik,” katanya.
Data menyebutkan, kacang hijau mengandung Kalium, Zat Besi, Fosfor, Magnesium dan beragam vitamin seperti Vitamin A, Vitamin B, Asam Folat, Vitamin C, Vitamin E dan Vitamin K. Nutrisi lain yang terkandung dalam kacang hijau dapat memberikan manfaat istimewa seperti mengurangi resiko permasalahan kehamilan.
Selain itu, menurunkan resiko penyakit jantung, menurunkan kadar kolesterol, menambah atau memperkuat sistem kekebalan tubuh, dapat menurunkan resiko osteoforosis. Kacang hijau juga menambah kepadatan mineral tulang pasca menopause pada wanita lanjut usia dan menurunkan resiko kerusakan pada penyakit hati.
Prospek Bisnis
Selain banyak manfaatnya, kacang hijau memiliki prospek bisnis terutama di saat kondisi pandemi Covid-19 seperti saat ini. WHO menyarankan 7 tips untuk menjaga kesehatan selama pandemic Covid-19 ini. Diantaranya dengan mengkonsumsi Grow Foods yang berasal dari protein hewani serta nabati. Salah satunya didapat dari kacang hijau.
Dalam acara Webinar Propraktani yang diselenggarakan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan, Prof. M. Firdaus Guru Besar IPB menyatakan, selama pandemi Covid-19 ini terdapat kesadaran yang tinggi untuk memperbaiki pola konsumsi pangan. Terlihat dari terjadi pengalihan konsumsi dari beras ke sumber pangan non karbohidrat seperti kacang-kacangan, sayur dan buah.
Hal tersebut memberikan manfaat pada peningkatan makroekonomi yang lebih tinggi serta dapat meredam inflasi dan meningkatkan pendapatan riil masyarakat. Potensi pengembangan kacang hijau di Indoensia dapat dilakukan karena potensi pasar ekspor yang sangat terbuka di beberapa negara. Misalnya, Filipina, Vietnam, Cina, India dan Thailand yang permintaan kacang hijaunya terus meningkat.
“Menggalakkan konsumsi dalam negeri juga dapat dilakukan dengan menambah variasi olahan yang dapat diterima oleh segala kalangan sehingga pasar kacang hijau dalam negeri meningkat permintaannya,” lanjutnya.
Dosen Fakutas Pertanian UNPAD Dr. Agung Karuniawan pada acara yang sama mengatakan, potensi pengembangan kacang hijau sangat terbuka karena harga jual cenderung stabil dan memiliki cara budidaya yang mudah.
“Biasanya petani menanam kacang hijau pada lahan sawah pada musim kemarau setelah panen padi dan pada lahan tegalan pada musim hujan, hal ini dapat menarik minat petani untuk menanam,” katanya.
Direktur Jenderal Tanaman Pangan Suwandi ditempat terpisah mengatakan bahwa Kementerian Pertanian melalui Direktorat Jenderal Tanaman Pangan pada tahun 2021 mengalokasikan kegiatan pengembangan kacang hijau seluas 5.000 Ha.
Hal tersebut sesuai Kebijakan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo pada Cara Bertindak ke-2 (CB-2) dari 5 Cara Bertindak Pembangunan Pertanian 2020-2024 yaitu Diversifikasi Produksi dan Konsumsi.