
Plt. Kepala BKP, Sarwo Edhy saat webinar jagung yang diselenggarakan Tabloid Sinar Tani
TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Kementerian Pertanian bertekad menekan konsumsi beras dan mengalihkan ke konsumsi pangan sumber karbohidrat lainnya. Salah satunya mendorong konsumsi nasi jagung.
Plt. Kepala Badan Ketahanan Pangan, Kementerian Pertanian, Sarwo Edhy mengatakan, melihat potensi jagung di Indonesia sangat besar. Minimal ada di 10 propinsi produsen jagung terbesar. Namun masih banyak propinsi lainnya yang menghasilkan jagung.
Data Badan Ketahanan Pangan, produksi jagung di Jawa Timur 5,37 juta ton, Jawa Tengah (3,18 juta ton), Lampung (2,83 juta ton), Sumatera Utara (1,83 juta ton), Sulawesi Selatan (1,82 juta ton), NTB (1,66 juta ton), Jawa Barat (1,34 juta ton), Sulawesi Utara (0,92 juta ton), Gorontalo (0,91 juta ton) dan Sumatera Selatan (0,80 juta ton).
“Potensi ini tentunya menjadi dasar bagi kita untuk menjadikan jagung sebagai salah satu pangan lokal sumber karbohidrat yang ber potensi untuk digunakan sebagai pangan pokok selain beras,” kata Sarwo saat Webinar: Jagung, Sumber Karbohidrat Kaya Manfaat yang diselenggarakan Tabloid Sinar Tani, Rabu (8/9).
Apalagi lanjutnya, sebagai masyarakat dibeberapa wilayah di Indonesia selama ini telah mengonsumsi jagung. Sebut saja, NTT menjadi propinsi dengan konsumsi jagung tertinggi. Diikuti Gorontalo, Jawa Timur, Sulawesi Tenggara, NTB, Sulawesi Selatan, Lampung dan Sumatera Selatan.
Namun jika disandingkan dengan data produksi, maka terlihat sebagian besar produksi jagung dimanfaatkan untuk kebutuhan di luar konsumsi langsung seperti industri dan pakan ternak. “Bahkan angka produksi hampir berhimpitan dengan total penggunaan. Ini menjadi perhatian kita bersama. Bagaimana upaya yang harus kita lakukan untuk meningkatkan produksi komoditas ini,” katanya.
Karena itu dalam upaya diversifikasi pangan, Sarwo menegaskan, pemerintah bertekad untuk menurunkan konsumsi beras menjadi 85 kg perkapita pertahun pada tahun 2024. Posisi konsumsi beras saat ini sebesar 94 kg perkapita pertahun.
“Tentunya upaya ini kita lakukan harus seiring dengan peningkatan konsumsi pangan sebagai sumber karbohidrat lain, diantaranya jagung,” katanya. Jadi lanjut Sarwo, jagung menjadi salah satu sumber karbohidrat yang harus dijaga keberadaannya dan harus dikembangkan produksinya.
Sarwo mengatakan, target yang ingin dicapai adalah peningkatan konsumsi jagung. Jika tahun 2019 hanya 1,7 kg/kapita/tahun, tahun 2020 sebanyak 1,8 kg/kapita/tahun, maka tahun 2024 menjadi 4,1 kg/kapita/tahun.
“Ini sasaran kita kedepan. Tentunya dengan sasaran lokasi pengembangan di tujuh propinsi yaitu NTT, Gorontalo, Jawa Timur, NTB, Sulawesi Tengah, Bali dan Lampung,” katanya.