
Panen kedelai di Grobogan
TABLOIDSINARTANI.COM, Grobogan---Kabupaten Grobogan menjadi salah satu sentra kedelai nasional, bahkan sempat mengalami kejayaan. Kondisinya sempat menurun, karena tergerus masuknya kedelai impor. Kini kedelai Grobogan berupaya bangkit kembali dengan program RPIK (Research Pengembangan Inovatif Kolaboratif.
Tanda-tanda bangkitnya kedelai Grobogan kini mulai terlihat saat Temu Lapang RPIK Kedelai 2021 Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, beberapa waktu lalu. Produktivitas tanaman kedelai petani mencapai 2,7 ton/ha.
Nardi, salah seorang petani di Desa Tanjungharjo Kecamatan Ngaringan Kabupaten Grobogan yang mengikuti kegiatan denfarm program RPIK berterima kasih kepada semua pihak. Dirinya bersama petani lainnya dapat belajar teknologi budidaya kedelai yang baik dan ramah lingkungan.
Hasil ubinan yang didapat 1,7 kg wose kering dan jika dikonversi hasilnya 2,7 ton/ha. Produktivitas tersebut masih cukup baik dan menguntungkan bagi petani.
Nardi mengakui, pengawalan dan pendampingan dari Balitbangtan sangat bermanfaat dalam meningkatkan pengetahuan dan sikap petani dalam berbudidaya kedelai yang baik. “Semoga ke depan dapat diterapkan, ilmu dan teknologi yang didapat. Sehingga minat tanam kedelai terus bergelora dan semakin menegaskan Grobogan sebagai sentra kedelai di Indonesia,” katanya.
Demfarm RPIK digawangi Pusat Penelitian Pengembangan (Puslitbang) Tanaman Pangan dan melibatkan UK/UPT Balai Besar (BB) Sumber Daya Lahan Pertanian, BB Biogen Cimanggu, BB Pascapanen Pertanian, BB Mektan Serpong, Balitkabi, Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Tengah dan Dinas Pertanian Kabupaten Grobogan, beberapa waktu lalu.
Pada kesempatan ini, dilakukan panen bersama kedelai varietas Anjasmoro program RPIK Tahun 2021. Varietas Anjasmoro adalah salah satu varietas yang dikembangkan di Kabupaten Grobogan selain Varietas Grobogan, Gepak Ijo, Detap-1 dan lain-lain.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Grobogan, Sunanto mengatakan, kegiatan RPIK Kedelai di Grobogan melibatkan poktan operator dan penyuluh pertanian pada luasan lahan sekitar 200 ha dalam dua musim tanam. Kegiatan tersebut untuk demfarm inovasi teknologi kedelai Balitbangtan sekaligus produksi benih kedelai dan demplot kaji terap inovasi teknologi.
“Goal dan frame of work RPIK sendiri meliputi tiga poin utama yaitu produksi benih kedelai, implementasi inovasi teknologi untuk peningkatan produksi dan produktivitas serta perbenihan kedelai, dan kelembagaan dalam produksi dan perbenihan kedelai,” kata Sunanto.
Harga kedelai di tingkat petani saat ini cukup bagus dan menguntungkan karena berada dikisaran Rp 9000-10.000. Apalagi keran impor kedelai masih dibatasi dan harga kedelai impor masih tinggi, sehingga ini menjadi peluang yang baik bagi petani kedelai lokal.
Sunanto berharap, dengan adanya temu lapang panen raya kedelai ini mampu membangkitkan semangat petani kedelai di Kabupaten Grobogan yang dulu pernah berjaya. Paket teknologi yang diberikan Balitbangtan ini diharapkan dapat diadopsi dan dikembangkan agar budidaya kedelai lebih menguntungkan dan efisien.
“Inovasi lain yang bisa dikembangkan adalah teknologi methuk (relay crops), tanaman jagung disusuli kedelai pada lahan kering. Manfaat sistem methuk yaitu meningkatkan kesuburan tanah, meningkatkan pendapatan petani, menghemat pupuk pada kedelai methuk jagung, dan meningkatkan produksi jagung,” kata Sunanto.
Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo (SYL) mengatakan, sektor pertanian akan makin kuat apabila didukung riset dan inovasi yang berkelanjutan. Ia juga menegaskan, petani Indonesia harus mengikuti perkembangan teknologi di era 4.0.
"Petani Indonesia tidak boleh tertinggal karena banyak inovasi teknologi dan mekanisasi yang dibuat untuk meningkatkan produktivitas pertanian,” kata Mentan SYL.
Penyuluh dan peneliti adalah kunci keberhasilan pembangunan pertanian. Bagaimana keduanya bisa membantu petani meningkatkan produksi, daya saing dan kesejahteraan petani.
Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Dedi Nursyamsi menilai, saat ini daya saing produk pertanian dalam negeri masih kalah dibandingkan produk negara lain. Terlihat, harga pangan lebih mahal dibandingkan luar negeri, terutama komoditas kedelai dan jagung.
“Guna mengatasi persoalan tersebut, kuncinya adalah peran inovasi teknologi, prasarana dan sarana pertanian, varietas tanaman, pengelolaan lahan dan pemupukan. Dari sisi teknologi, sudah ada yang dihasilkan Badan Litbang Pertanian,” tegas Dedi.