
Brownies sagu Papua
TABLOIDSINARTANI. COM, Papua --- Penurunan angka stunting perlu terus digalakkan menggingat stunting mencerminkan kondisi gagal tumbuh pada anak balita yyang berdampat hingga usia dewasa. Salah satunya melalui pemenuhan gizi masyarakat dengan pangan lokal yang diolah lebih kreatif.
Pemenuhan pangan menjadi kunci penurunan angka stunting. Melakukan modifikasi pangan lokal merupakan hal yang sangat penting untuk mengelola pangan lokal. Sentuhan inovasi pangan lokal juga bertujuan agar masyarakat tertarik, menerima, dan tak ragu untuk mengkonsumsinya.

“Kami terus mensosialisasikan menu berbasis pangan lokal untuk pemenuhan gizi keluarga,” sebut Dosen Poltekkes Kemenkes Jayapura, Sanya Anda Lusiana.
Berbagai kudapan pangan lokal dipadupadankan seperti Keladi Tumbuk, Pepes Ekor Kuning, dengan Sayur Lilir Katuk Santan khas Indonesia Timur terus ia promosikan. Selain nikmat kudapan ini juga sehat dan tentunya menjadi kreasi untuk membiasakan masyarakat mengkonsumsi pangan lokal.
Ada lagi kudapan yang bernama Aunu Senebre dan Aunuve Habre. Makanan khas dari Papua ini memanfaatkan daun talas untuk membungkus, seperti botok (makanan khas jawa). Bedanya dengan botok, Aunuve Habre berbahan dasar ikan cakalang, daun talas, garam, dan asam jawa tanpa menggunakan kelapa.
Aneka kudapan lain berbahan dasar sagu terdiri dari cup cake lohan, sagu lempeng, kue bagea, ataupun brownis sagu. Sedangkan minuman yang menyegarkan dapat dibuat dari es buah matoa.
"Jika masyarakat khususnya yang berada di timur Indonesia menyajikan berbagai aneka kudapatan tersebut ditengah keluarga, angka stunting dapat perlahan mengalami penurunan. Pemenuhan gizi keluarga yang berasal dari pangan lokal pun tercukupi. Berdampak pada terwujudnya generasi yang sehat, bergizi dan bebas stunting," pesannya.