
Peta lokasi pengembangan food estate Sumba Tengah
TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta--Sumba Tengah menjadi salah satu lokasi yang pemerintah tetapkan sebagai kawasan pangan (food estate). Selain di Pulang Pisau dan Kapuas di Kalimantan Tengah, serta Humbang Hasudutan di Sumatera Utara.
Sejauh mana progres food estate di Sumba Tengah? Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Sumba Tengah, Melkianus Umbu Ngailu mengatakan, pemerintah telah menargetkan pengembangan food estate di wilayahnya seluas 5.000 hektar (ha) terdiri dari tanaman padi 3.0000 ha dan tanaman jagung pada 2.000 ha pada tahun 2021
“Saat ini luas lahan baku sawah hanya 7.600 ha dan 80 peran adalah tadah hujan. Sedangkan luas perkebunan 11 ribu dan dan ladang 7 ribu ha,” katanya. Bahkan menurutnya ada sekitar 43 ribu ha lahan yang belum diusahakan. Dengan potensi tersebut Melkianus yakin luas areal pengembangan food estate bisa diperluas hingga 15-20 ribu ha.
Namun Melkianus mengakui, pembangunan pertanain di Sumba tengah selama ini memang menghadapi masalah akses air. Saat ini memang sudah ada bendungan kecil dan sumur bor. Namun pihaknya kini tengah memperjuangkan agar ada pembangunan bendungan karena ada potensi bendungan. “Proposal kami sudah kirimkan dan sampaikan ke Menteri Bappenas saat berkunjung ke Sumba Tengah,” ujarnya.
Kendala lainnya menurutnya, adalah peralatan pertanian (alat mesin pertanian) yang masih sangat terbatas. Saat ini ada traktor roda empat sebanyak 6 unit. Namun dua rusak berat, dua rusak ringan dan 2 masih cukup baik. “Selama ini unit tersebut yang kami gunakan mengolah lahan,” ujarnya.
Masalah lainnya adalah produktivitas tanaman juga masih sangat rendah. Untuk tanaman padi rata-rata hanya 2-3 ton/ha dan 1-2,5 ton/ha. Karena itu ungkap Melkianus, saat Menteri Pertanian berkunjung ke Sumba Tengah dan melihat potensi lahan dalam satu hamparan mencapai 6 ribu ha ternyata hanya satu kali tanam setahun menjadi pertanyaan. “Pertanyaan tersebut nampaknya menjadi pemicu, sejauh mana prospek food estate di Sumba Tengah,” ujarnya.
Setelah dilakukan kajian lebih, alhasil ternyata model pendekatan pembangunan pertanian (food estate) memiliki prospek dikembangkan di Sumba Tengah, tertama menurunkan kemiskinan. Saat ini angka kemiskinan di Sumba Tengah mencapai 34 persen dari total jumlah penduduk.
“Dari jumlah itu, 85-90 persen tergantung pada sektor pertanian yakni tanaman pangan padi dan jagung, ternak dan perkebunan sedikit. Jadi konsetrasi utama padi dan jagung. Jadi kami optimis food estate bisa menjadi peluang entaskan kemiskinan,” tuturnya.
Melkianus mengatakan, jika selama periode 2019-2020 luas pertanaman jagung hanya 5.000-6000 ha, maka tahun 2021 sampai Juni sudah mencapai 2.531 ha. Saat masuk musim hujan Oktober-Desember diperkirakan total pertanam jagung mencapai 8.391 ha. Jumlah itu dari lokasi food estate seluas 4.600 ha dan progam APBD 1 dan 2 seluas 2.000 ha. “Ini ada kaitan dengan pendekatan tekonologi modern,” ujarnya.
Keberadaan food estate memang menjadi berkah tersendiri bagi petani di Sumba Tengah, karena akan meningkatkan kehidupan dan menjadi pendorong pengentasan kemiskinan. Apalagi potensi lahan yang ada luas pengembangan food estate masih bisa bertambah hingga 10 ribu ha.