
Kurnia Fajar, Wakil Ketua Umum Kadin Jawa Barat
TABLOIDSINARTANI.COM, Bandung---Isu paling fundamental dalam memasyarakatkan pangan lokal adalah bagaimana mengubah culture (budaya) pola konsumsi pangan kita. Apalagi sejak kecil, masyarakat Indonesia sudah dibiasakan makan nasi.
“Kalau sudah seusia kita ini mau mengubah makan nasi jadi makan singkong itu sulit, tetapi kita masih punya harapan di anak-anak milenial. Di anak anak milenial sekarang makanannya sangat beragam dengan makanan baru,” kata Kurnia Fajar, Direktur Utama Agro Jabar (BUMD) yang juga Wakil Ketua Umum KADIN Bidang Kemandirian Pangan dan Agiculture Jabar saat Temu Bisnis Pangan Lokal di Bandung, beberapa waktu lalu.
Dikatakan, dalam upaya meningkatkan konsumsi pangan lokal tentunya sektor kebudayaan juga harus disentuh. Artinya, masyarakat atau anak anak milenial harus diajak mengonsumsi singkong, jagung, pisang, sorgum dan pangan yang kita tanam sesuatu yang sangat sehat dan baik. “Paling penting itu enak. Nah itu kalimatnya paling penting enak. Harus ada kata itu. Karena kalau tidak enak tidak akan mencandu. kalau tidak mencandu susah berkembang,” ujarnya.
Kurnia mengatakan, Kadin sangat mendukung UMKM pangan lokal agar layak masuk ke pasar. Sebab diakui, salah satu yang paling sulit adalah UMKM sulit masuk pasar karena belum punya ijin edar dan supply bahan baku tidak kontinue. “Tapi saya rasa di era digital ini UMKM sudah lebih siap, kemudian BPOM juga sudah sangat memperhatikan kebutuhan itu,” katanya.
Saat ini lanjutnya, tinggal bagaimana pelaku usaha UMUM pangan lokal semangat, khususnya membangun komunikasi publik. Sebab, komunikasi publik merupakan kata kunci yang harus dimenangkan UMKM. “Jadi UMKM harus naik kelas,” ujarnya seraya berharap dengan adanya temu bisnis dapat meningkatkan transaksi UMKM pangan lokal.
Kurnia melihat, Jawa Barat salah satu propinsi dengan populasinya terbanyak dan hobinya makan. “Jawa Barat sebagai market karena banyak yang gemar makan, tapi pendekatan kebudayaan. Dengan komunikasi yang baik kepada publik, Inshaa Allah UMKM Jawa Barat dan UMKM pangan di Indonesia bisa bersaing dan memiliki pasar yang luas,” tuturnya.
Karena itu Kurnia mengajak UMKM pangan lokal harus membidik potensi pasar tersebut, tapi tidak hanya UMKM Jawa Barat, tapi seluruh Indonesia. Saat ini UMKM yang dibina Kadi Jawa Barat sebanyak 6.000 UMKM.
Ia mencontohkan, UMKM pangan lokal yang memproduksi keripik singkong pedas. Pola dagang yang mereka ciptakan sangat unik, sehingga langsung diserbu konsumen. Bahkan dalam beberapa tahun naik pamor. “Sebetulnya cara seperti itulah yang diperlukan untuk UMKM. Cara unik beda dari yang lain, tapi harus terus menerus, sehingga brandnya tetap bertahan di masyarakat, tidak hanya sesaat kemudian hilang,” katanya.