Wednesday, 21 October 2026


Lebih Ramah Lingkungan, Kendalikan OPT dengan Virus dan Nematoda

30 Dec 2021, 13:15 WIBEditor : Yulianto

Budidaya tanaman sehat

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta--- Produksi pertanian sangat rentan pada cuaca, terkadang juga marak serangan Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT). Karena itu, upaya pengendalian hama menjadi salah satu faktor yang menentukan keberhasilan usaha tani.

Kementerian Pertanian kini mendorong pengendalian OPT yang ramah lingkungan. Salah satunya pemanfaatan virus dan nematoda yang terbukti ampuh menekan populasi hama, namun tidak menimbulkan residu bagi lingkungan. 

Akademisi Faperta IPB, Yayi Munara Kusumah menyampaikan, penggunaan baculovirus sebagai insektisida didasarkan pada beberapa sifat yang berguna. Misalnya, patogenesitas, spesifisitas, kisaran inang yang sempit, persistensi lingkungan, kesesuaian untuk ditambahkan ke bioagen lain dengan sinergis dan kemampuan untuk menginduksi epizootik. 

“Terdapat keuntungan menggunakan virus serangga dalam pengendalian hama yaitu sangat spesifik inangnya, aman bagi manusia, hewan, kurangnya residu beracun, kemungkinan resistensi rendah, sangat cocok dengan pengendalian hama lainnya dan sangat cocok digunakan dalam program PHT, ” ujar Yayi. 

Selaras dengan hal tersebut, Dr. Toto Surnato, akademisi Faperta UNPAD menyampaikan, Nematoda Entomopatogen (NEP) sebagai agens biokontrol hama serangga, dapat digunakan dalam pengendalian OPT pada tanaman pangan. Selama 3 dekade terakhir, penelitian berkembang membantu komersialisasi NEP di banyak komoditas. 

Faktor yang mempengaruhi keberhasilannya yaitu ketersediaan isolat NEP yang sesuai untuk hama sasaran. Penggunaan NEP relatif efektif, biaya lebih murah dan mudah dalam penggunaan. Di samping itu, terdapat kekhawatiran masyarakat tentang resiko kesehatan dan bahaya lingkungan akibat penggunaan insektisida sintesis, perhatian terhadap NEP mulai meningkat sebagai alternatif dari insektisida sintetik.

“NEP perlu ditingkatkan keefektifannya, yaitu dengan peningkatan teknologi aplikasi, isolat lebih virulen dari populasi lapangan melalui bioteknologi dan kemudahan penggunaan (teknologi formulasi dengan umur simpan lebih lama dan toleran terhadap suhu ekstrim),” ujar Toto.

Sementara itu, secara terpisah, Direktur Jenderal Tanaman Pangan, Suwandi, juga terus mendorong dan mendukung kegiatan pengendalian OPT berbasis ramah lingkungan dengan menggunakan agens hayati sebagai bahan pengendaliannya.

“Dengan semakin meningkatnya kesadaran petani terhadap pentingnya budidaya tanaman sehat demi keberlanjutan pertanian, diharapkan juga kesejahteraan petani turut meningkat," tegas Suwandi.

Reporter : Julian
Sumber : Humas Ditjen Tanaman Pangan
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018